Sukses

5 Penyakit Akibat Dehidrasi yang Intai Polisi Lalu Lintas

Dalam menjalankan tugasnya, polisi lalu lintas rentan terkena penyakit dan gangguan kesehatan akibat dehidrasi. Ini solusinya.

Klikdokter.com, Jakarta Pekerjaan yang mengharuskan sering berada di lapangan, misalnya polisi lalu lintas (polantas), rentan mengalami dehidrasi. Ini karena mereka lebih banyak berkeringat karena harus melakukan aktivitas fisik di jalanan seperti mengatur lalu lintas di bawah cuaca panas terik. Dalam kondisi tersebut, polantas pun jadi rentan terserang penyakit dan gangguan kesehatan akibat dehidrasi.

Sebuah kasus di Maddilapalem, India tahun 2016 silam bisa menjadi contoh. Saat itu, seorang polantas hilang kesadaran saat sedang bertugas akibat dehidrasi. Kondisi ini kian memprihatinkan karena sebanyak 300 personel departemen lalu lintas di kota tersebut, setengahnya bertugas tanpa menggunakan pelindung diri seperti kaca mata hitam. Kebanyakan polantas pada waktu itu hanya mengandalkan pohon rindang atau toko terdekat untuk berlindung sejenak dari teriknya sinar matahari.

Terkait kejadian tersebut, dikutip dari laman Times of India, Dr. KV. Ram Kumar, wakil direktur Rumah Sakit Lakshmi Gayatri memberikan komentarnya.  Polantas sering mengalami ketidakseimbangan elektrolit, sakit kepala, kerontokan rambut, dan infeksi tenggorokan. Sejumlah kondisi tersebut terjadi karena mereka bekerja secara terus-menerus di bawah panasnya sinar matahari tanpa menggunakan pelindung yang layak.

Menurut penjelasan dari dr. Kartika Mayasari kepada KlikDokter, dehidrasi muncul ketika air dan elektrolit yang keluar dari tubuh melebihi jumlah air dan elektrolit yang masuk ke dalam tubuh. Keluarnya cairan dan elektrolit bisa terjadi karena banyak hal, seperti diare. Dalam situasi profesi sebagai polisi, cuaca yang terlalu panas saat bertugas di lapangan, menjadi salah satu penyebab dehidrasi.

Lebih lanjut lagi, dr. Kartika lagi menuturkan bahwa tubuh manusia hanya bisa menoleransi penurunan cairan dan elektrolit hingga 3-4 persen tanpa ada gangguan kesehatan. Jika penurunan terjadi hingga 5-8 persen, maka dapat menyebabkan rasa lelah dan pusing. Sedangkah penurunan lebih dari 10 persen dapat menyebabkan penurunan kesadaran, bahkan hingga kematian.

1 dari 3 halaman

Penyakit dan gangguan kesehatan akibat dehidrasi

Dehidrasi biasanya ditandai dengan dua gejala utama, yaitu rasa haus berlebih dan urine berwarna gelap dan pekat. Tak hanya itu, dehidrasi dapat menyebabkan penyakit dan gangguan kesehatan yang lebih serius jika dibiarkan. Berdasarkan pemaparan dari dr. Theresia Rina Yunita kepada KlikDokter, berikut ini adalah bahaya dehidrasi yang dapat mengancam kesehatan.

1. Syok

Kekurangan cairan dalam tubuh dapat menyebabkan penurunan volume cairan dalam tubuh. Ketika tidak dapat melakukan kompensasi terhadap kondisi ini, maka tekanan darah ikut turun drastis. Penurunan ini mengganggu pasokan oksigen ke sel-sel tubuh sehingga kerja organ vital pun ikut terganggu.

2. Koma

Syok yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan kurangnya pasokan darah dan oksigen ke otak. Ketika otak kekurangan oksigen untuk bekerja, maka kondisi koma bisa terjadi. Akibat lainnya adalah kegagalan fungsi banyak organ vital dalam tubuh.

3. Gagal ginjal

Kurangnya volume cairan dalam tubuh menurunkan filtrasi glomerulus (kumpulan pembuluh darah kapiler khusus) yang terjadi pada ginjal untuk mencerna urine. Akibatnya, fungsi ginjal pun terganggu. Mereka yang mengalami dehidrasi produksi urine juga jadi berkurang.

4. Gangguan elektrolit dan kejang

Banyaknya cairan yang keluar dari tubuh dapat diikuti dengan gangguan keseimbangan elektrolit. Elektrolit berfungsi menghantarkan sinyal listrik antarsel, sehingga mengakibatkan gangguan kontraksi otot, ritme jantung, kejang, bahkan menurunnya kesadaran.

5. Heat injury

Saat polisi berada di lingkungan yang bersuhu panas, tubuhnya berusaha mengeluarkan panas lewat keringat. Dehidrasi akibat keringat yang berlebih dan kurangnya asupan cairan dapat menyebabkan kram dan kelemahan otot.

Selain lima penyakit dan kondisi kegawatan yang disebutkan di atas, kondisi terburuk dapat terjadi jika dehidrasi tidak segera ditangani. Dehidrasi bisa menyebabkan kegagalan fungsi organ vital dan dampak serius lainnya, hingga dapat berujung pada kematian.

2 dari 3 halaman

Upaya pencegahan yang bisa dilakukan para polisi

Tugas dari polantas tidak bisa diremehkan. Dilansir dari laman Science Daily, menurut sebuah studi selama satu dekade yang dilakukan para peneliti Universitas at Buffalo, Amerika Serikat, polisi adalah profesi yang tergolong berbahaya. Bahaya tak hanya mengintai dari lapangan, tapi tekanan yang dirasakan para penegak hukum ini membuat mereka berisiko mengalami hipertensi, insomnia, peningkatan hormon stres, gangguan jantung, post-traumatic stress disorder (PTSD), hingga bunuh diri.

Melihat berat dan berisikonya tugas-tugas polisi, maka perlu melakukan sejumlah tindakan pencegahan, mencegah dehidrasi. Tindakan ini semakin diperlukan, jika seorang polisi banyak bertugas di ruang terbuka, terutama dalam kondisi hari yang terik. Berikut ini adalah beberapa strategi yang bisa dilakukan:

  • Minum cukup air mineral

Hal terpenting dalam mencegah kekurangan cairan adalah mengonsumsi air minum secara teratur. Bawalah botol minum atau letakkan di pos tempat jaga agar terhindar dari kemungkinan terjadinya dehidrasi.

  • Batasi asupan kafein, alkohol, dan minuman bersoda

Selain memabukkan, alkohol juga dapat menyebabkan dehidrasi. “Alkohol yang masuk ke dalam sistem pencernaan akan meningkatkan pembakaran dan reaksi kimia yang membuat air dalam tubuh justru keluar, misalnya lewat keringat,” kata dr. Theresia.

Sedang minuman yang mengandung kafein seperti teh atau kopi bersifat diuretik, sehingga menarik cairan dari dalam tubuh. Kopi atau minuman berenergi bisa dibilang merupakan minuman “wajib” untuk menemani para polisi bertugas. Namun, bijaklah dalam mengonsumsinya karena tubuh akan kehilangan lebih banyak cairan lewat produksi urine.

Hindari juga terlalu sering mengonsumsi minuman bersoda karena dapat menyerap elektrolit dari tubuh, sehingga tak heran jika setelah minum minuman bersoda,  rasa haus semakin menjadi.

  • Kerja bebas stres

Ketika stres, kelenjar adrenal mengeluarkan stres hormon. Akibat kelahan, maka kelenjar yang berfungsi memproduksi homon aldosteron akan terganggu dan mengalami penurunan.

“Padahal, hormon aldosteron yang membantu regulasi level cairan dan elektrolit dalam tubuh. Ketika produksi aldosteron menurun, hal ini dapat menstimulasi dehidrasi dan kurangnya elektrolit,” dr. Theresia menjelaskan.

Sering kali keberadaannya diremehkan, profesi sebagai polisi seperti polisi lalu lintas juga membutuhkan kewaspadaan tinggi, mengingat kapasitas mereka sebagai penegak hukum termasuk membuat penilaian hingga pengambilan keputusan. Karena tuntutan pekerjaan mengharuskan mereka sering berada di lapangan, maka sangat penting untuk menjaga cairan dan elektrolit tubuh agar terhindar dari dehidrasi.

Sejumlah risiko kesehatan dapat dialami oleh para polisi lalu lintas, salah satunya adalah dehidrasi. Dengan melakukan kiat-kiat di atas, semoga semua jajaran polisi, khususnya polisi lalu lintas yang banyak bertugas di lapangan dapat menunaikan tugas secara maksimal. Selamat bertugas, Pak Polisi!

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar