Sukses

Benarkah Kelahiran Prematur Bisa Dideteksi dengan Tes Darah?

Sebuah penelitian menyebut bahwa kelahiran prematur bisa dideteksi dengan tes darah. Ini penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Kelahiran prematur terjadi pada bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Bayi yang lahir dengan kondisi ini memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami berbagai masalah kesehatan. Sebut saja malnutrisi, masalah saraf, mata, pendengaran dan tulang.

Sebagian besar bayi prematur membutuhkan perawatan secara intensif di rumah sakit setelah lahir. Durasi perawatan berbeda-beda. Ada yang hanya perlu dirawat beberapa hari, ada pula yang harus dirawat hingga berbulan-bulan.

“Usia kandungan normal adalah 37-42 minggu. Jika bayi lahir pada rentang usia ini, kematangan organ-organ tubuh bayi sudah cukup optimal untuk menghadapi lingkungan di luar rahim. Namun, jika usia kandungan di bawah 37 minggu, organ-organ dalam tubuh bayi belum cukup matang,” ujar dr. Reza Pahlevi dari KlikDokter.

Lebih lanjut, dr. Reza menjelaskan bahwa pada kondisi ini berbagai risiko masalah kesehatan dapat terjadi. Itulah mengapa bayi prematur perlu dirawat di rumah sakit.

Bisakah kelahiran prematur diprediksi secara dini? Berdasarkan sebuah penelitian yang dilansir TIME, hal tersebut memungkinkan untuk dilakukan.

Mendeteksi lewat tes darah

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Science, para peneliti dari Stanford University melaporkan ada sebuah langkah, yakni tes darah, yang dapat memprediksi kelahiran prematur.

Stephen Quake, profesor bidang bioteknologi dan fisika terapan di Stanford, beserta timnya menganalisis sekitar 20.000 gen dari 38 wanita yang berisiko lebih tinggi untuk melahirkan secara prematur.

Dari para wanita tersebut, 23 orang melahirkan dalam jangka waktu yang normal. Sementara itu, 15 lainnya melahirkan lebih awal dari yang diperkirakan. Quake membandingkan aktivitas gen yang ditemukan dalam darah ibu, termasuk protein, enzim dan jenis lain.

Para peneliti lantas mengidentifikasi tujuh gen yang aktivitasnya berbeda di antara dua kelompok wanita tersebut. Tak begitu jelas bagaimana aktivitas gen memengaruhi perkembangan janin dan kehamilan, tetapi ketujuh gen semuanya berasal dari ibu.

Butuh penelitian lebih lanjut sebelum tes darah mampu menjawab pertanyaan ini. Kendati demikian, para peneliti mengklaim bahwa mereka berhasil menjadikan penelitian ini sebagai langkah awal dan positif ke depannya.

Skrining pada bayi prematur

Anda atau salah satu kerabat melahirkan secara prematur? Jika ya, buah hati Anda membutuhkan penanganan khusus untuk mengantisipasi terjadinya gangguan kesehatan. Berdasarkan anjuran dr. Reza, sejumlah skrining harus dilakukan pada bayi dengan kelahiran prematur sebagai berikut:

1. Skrining pendengaran

Seperti yang telah dijelaskan, bayi prematur berisiko mengalami gangguan pendengaran. Tindakan ini dilakukan pada bayi prematur minimal satu kali selama perawatan.

2. Skrining mata

Bayi yang lahir prematur sering memiliki masalah pernapasan sehingga sering mendapat terapi oksigen. Karena itulah bayi prematur dianjurkan untuk menjalani skrining ROP setiap 1-2 minggu sekali.

3. USG kepala

Bayi prematur berisiko mengalami gangguan pada otak. Waktu dan frekuensi USG kepala disesuaikan dengan usia kehamilan dan keadaan bayi tersebut.

4. Skrining tulang

Skrining tulang dilakukan pada semua bayi prematur. Tindakan ini dilakukan ketika bayi menginjak usia 1 bulan, untuk selanjutnya diteruskan setiap 2 minggu sekali.

5. Skrining lainnya

Skrining lain, seperti pemeriksaan kadar tiroid dan ekokardiografi, juga dapat dilakukan. Tentunya harus sesuai dengan indikasi dan permintaan dari pihak pasien.

Besar kemungkinan bahwa kelahiran prematur dapat dideteksi secara dini lewat tes darah. Sebagai antisipasi, pelajari juga kiat menangani bayi prematur agar kesehatannya tidak terganggu pada kemudian hari.

[RS/ RVS]

1 Komentar