Sukses

Microsleep, Tidur Macam Apa Itu?

Anda pernah tertidur selama beberapa detik, lalu terbangun dengan menyentakkan kepala. Itulah microsleep. Perlukah waspada?

Klikdokter.com, Jakarta Pernahkah saat di mobil, kereta, atau bus (bahkan ojek!) Anda ketiduran selama beberapa detik, lalu seketika Anda terbangun dengan kepala tersentak? Kondisi tertidur semacam ini disebut juga sebagai microsleep.

Dikutip dari BBC, Profesor Emeritus Psikofisiologi Jim Horn dari Universitas Loughborough, Inggris, sekaligus mantan direktur Sleep Research Centre di universitas yang sama, mengatakan bahwa otak tanpa sadar tertidur. Keadaan ini biasanya terjadi dalam situasi yang monoton seperti menyetir atau memandangi layar komputer atau smartphone.

Anda akan terbangun secara tiba-tiba. Kodisi ini sering kali disertai sentakan kepala yang keras. Sentakan kepala secara tiba-tiba ini adalah bagaimana cara Anda tahu bahwa Anda ketiduran, tapi Anda tak bisa mengingatnya.

“Paling tidak Anda harus tidur lebih dari 1-2 menit agar otak dapat mengingatnya,” kata Prof. Jim, yang pernah meneliti kelelahan pada pengemudi di Inggris selama sepuluh tahun. “Dengan microsleep, Anda hanya disisakan perasaan ketidaktahuan,” lanjutnya.

Lewat studi yang dipublikasikan di jurnal “Human Brain Mapping” tahun 2014, ada penelitian yang partisipannya dipastikan telah beristirahat secara cukup. Lalu mereka diperlihatkan target bergerak di layar komputer yang dikendalikan dengan joystick selama kurang dari satu jam.

Perhatian yang kontinu ini menyebabkan banyak partisipan mengalami microsleep. Partisipan rata-rata mengalami 79 episode microsleep yang setiap episodenya berlangsung hingga enam detik. Ini kemungkinan karena selama microsleep terjadi, tidak seluruh bagian otak kehilangan kesadaran, sering kali hanya satu wilayah saja atau hanya beberapa neuron.

1 dari 4 halaman

Penyebab Anda mengalami microsleep

Pada kebanyakan kasus, microsleep disebabkan akibat kelelahan ekstrem dan kurang tidur. Ketika Anda kurang tidur, beberapa bagian otak bisa mati selama beberapa detik saat Anda terbangun, pada dasarnya agar otak dipaksa 'tidur siang' dan segar kembali.

Jika jam tidur Anda cenderung normal, satu malam saja kurang tidur (misalnya hanya tidur selama empat jam), microsleep dapat terjadi keesokan harinya. Hal ini tertuang dalam sebuah penelitian di jurnal “NeuroImage” yang terbit tahun 2015.

Pekerja shift malam diketahui rentan mengalami microsleep karena jam kerja mereka 'melawan' jam biologis tubuh. Mereka harus terjaga pada malam hari saat dorongan biologis untuk tidur sedang tinggi-tingginya. Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa microsleep juga dapat terjadi jika Anda menghabiskan waktu yang lama melakukan tugas monoton, contohnya seperti latihan pelacakan visual.

Secara sederhana, Dr. Ilene Rosen, presiden American Academy of Sleep Medicine sekaligus profesor kedokteran klinis dari Perelman School Medicine Universitas Pennyslvania, AS, mengatakan bahwa manusia memiliki sakelar tidur di otak. Setelah beberapa malam dengan kualitas tidur yang cukup, sakelar akan terus berada pada posisi nonaktif saat Anda beraktivitas menjalani hari. Kemudian, ketika malam datang dan ritme sirkadian menjadi kurang aktif.

“Saklar tidur menyala, gelombang otak melambat dan berputar melalui berbagai tahapan tidur,” kata Dr. Ilene seperti dikutip di U.S.News. Setelah mendapatkan tidur yang berkualitas, sakelar kembali ke posisi nonaktif dan Anda pun memasuki keadaan terjaga.

Nah, jika Anda kurang tidur atau memiliki kualitas tidur yang buruk, sakelar tidur tersebut tak akan pernah stabil. Dikatakan oleh Dr. Ilene lagi, microsleep dapat dianggap sebagai otak yang sementara tidak aktif ketika sakelar tidur menyala.

2 dari 4 halaman

Waspada, microsleep bisa berbahaya

Tidak mengejutkan bahwa microsleep bisa berbahaya, bahkan bisa berakibat fatal jika terjadi saat Anda mengemudi atau mengoperasikan alat berat. Menurut badan amal keselamatan jalan Brake dari Inggris, lewat sebuah survei sebanyak 45 persen pria dan 25 persen wanita mengaku pernah mengalami microsleeping saat mengemudi.

Selain itu, sebuah studi kecil yang dipublikasikan di jurnal “Proceedings of the National Academy of Sciences” tahun 2015, menemukan bahwa pekerja shift malam lebih mungkin mengalami kecelakaan saat mengemudi pulang dibandingkan mereka yang beristirahat dengan cukup. Tentu saja biang keroknya adalah microsleep.

Ada juga sebuah studi tahun 2012 yang dilakukan oleh Universitas Teknologi Queensland, Australia. Studi tersebut menemukan hasil bahwa banyaknya kasus kecelakaan dapat dicegah jika para pengemudinya berhenti sejenak dan beristirahat saat mereka mengalami tanda-tanda awal mengantuk. Studi ini melaporkan bahwa banyak orang yang memaksakan diri untuk terjaga, dan terus mengemudi meski sudah mengalami episode microsleep berkali-kali.

3 dari 4 halaman

Mencegah terjadinya microsleep

Seringnya, microsleep merupakan dampak langsung dari kurang tidur. Oleh karena itu, memperbaiki kondisi ini dapat membantu mengurangi kemungkinan terjadinya microsleep, apalagi pada waktu-waktu yang tidak tepat. Cara paling tepat untuk mengatasi kurang tidur adalah dengan memperbaiki kualitas tidur.

“Setiap harinya Anda dianjurkan untuk cukup tidur minimal 8 jam agar tubuh dapat bekerja dengan lebih baik keesokan harinya. Kurang tidur dapat membuat kualitas hidup menurun, seperti malas bekerja, mengantuk di siang hari, sulit membuka mata pada pagi hari karena masih mengantuk, sulit bekerja atau bersekolah, dan masih banyak lagi,” kata dr. Alberta Jesslyn Gunardi, BMedSc(Hons) dari KlikDokter.

Tips dari dr. Jesslyn untuk meningkatkan kualitas tidur antara lain:

  • Cobalah untuk mengatur pola tidur.
  • Bangun dan tidur pada waktu yang sama setiap hari, bahkan ketika hari libur.
  • Buatlah suasana yang kondusif untuk tidur.
  • Buat diri senyaman mungkin untuk tidur, seperti penggunaan lampu tidur, penutup mata, mematikan televisi, dan sebagainya.
  • Biasakan diri untuk berolahraga secara teratur, tidak merokok, dan jauhi narkoba.
  • Buat diri serelaks mungkin, seperti dengan melakukan meditasi atau yoga.
  • Hindari berolahraga terlalu dekat dengan waktu tidur.
  • Jika memiliki masalah psikologis, cobalah untuk menerima dan menghadapinya.

Jika waktu tidur terbatas atau ketika Anda mengantuk, sempatkan untuk tidur siang selama 20-30 menit. Hal ini dapat memperbaiki konsentrasi serta kemampuan motorik.

Tips lain dari Dr. Ilene, jika Anda berencana akan pulang larut malam dalam beberapa hari ke depan, entah untuk lembur atau acara sosial, lakukanlah “bank tidur”. Metode ini merupakan cara memperpanjang waktu tidur normal selama beberapa malam sebelumnya.

Kopi juga dapat membantu Anda terjaga. Sifatnya sebagai stimulan dapat memberi Anda lonjakan energi. Meski demikian, menurut dr. Astrid Wulan Kusumoastuti dari KlikDokter, setelah beberapa saat, efek tersebut akan menghilang. Akibatnya, tubuh Anda menjadi lebih lemah dari sebelumnya.

Sebagai alternatif, Dr. Chiara Cirelli, ahli saraf dan profesor di departemen psikiatri di Universitas Wisconsin—Madison (AS) menganjurkan jika Anda mengantuk pada siang hari, lakukan aktivitas fisik. Namun, ingat untuk tidak berolahraga terlalu dekat dengan waktu tidur agar kualitas tidur malam tidak terganggu. Selain itu, paparan cahaya terang di tempat kerja juga dapat meningkatkan kewaspadaan sekaligus mengatur ulang 'sakelar' tidur Anda menjadi dalam keadaan mati.

Ingat, waktu tidur yang ideal adalah rata-rata 7-8 jam setiap harinya. Jika Anda tetap sering mengantuk dan sering mengalami microsleep (khususnya dalam kondisi sudah tidur dengan cukup), lebih baik segera berkonsultasi dengan dokter guna dilakukan evaluasi lebih lanjut.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar