Sukses

Mengenal Anemia Sel Sabit Lebih Dekat

Tanggal 19 Juni diperingati sebagai Hari Sel Sabit Sedunia. Pernahkah Anda mendengar tentang anemia sel sabit?

Klikdokter.com, Jakarta World Sickle Cell Day atau Hari Sel Sabit Sedunia pertama kali dicanangkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa pada tahun 2008 dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai anemia sel sabit dan penanganan yang tersedia untuk kondisi ini.

Anemia sel sabit merupakan salah satu kondisi genetik dengan angka kejadian yang meningkat. Terdapat jutaan individu yang mengalami kondisi ini di berbagai penjuru dunia, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Anemia sel sabit banyak ditemukan pada orang-orang yang berasal dari negara Afrika dan wilayah Mediterania. Kemungkinan menurunnya penyakit ini dari orang tua kepada anaknya adalah sebesar 50 persen. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kondisi ini dapat berpotensi fatal dan merupakan salah satu penyebab kematian dini pada balita di beberapa negara di Afrika.

Beberapa elemen tertentu, termasuk peningkatan pengetahuan masyarakat, deteksi dini, dan penanganan dini, memegang peranan yang penting dalam mengatasi anemia sel sabit.

Mengenal anemia sel sabit lebih dekat

Anemia sel sabit adalah salah satu jenis anemia yang diturunkan, yang mana tidak terdapat sel darah merah sehat dalam jumlah yang cukup untuk menghantarkan oksigen ke seluruh jaringan tubuh.

Umumnya, sel darah merah berbentuk bulat bikonkaf (cekung pada kedua sisi) dan fleksibel. Namun, pada anemia sel sabit, sel darah merah menjadi kaku dan melekat, serta berbentuk menyerupai sabit atau bulan sabit. Sel yang memiliki bentuk berbeda dari kondisi normal tersebut dapat terhambat pada pembuluh darah kecil, yang kemudian dapat memperlambat atau menghambat aliran darah dan oksigen ke berbagai jaringan tubuh.

Anemia sel sabit diturunkan secara autosomal resesif, yang berarti bahwa seseorang dapat mengalami anemia sel sabit apabila kedua orang tuanya merupakan pembawa gen dari kondisi tersebut. Kondisi ini dapat ditandai dengan beberapa tanda dan gejala anemia pada umumnya, seperti pucat, lemas, mudah lelah, hingga sesak napas atau penurunan kesadaran pada kondisi yang berat.

Selain itu, juga dapat terjadi episode nyeri yang berulang, pembengkakan yang disertai rasa nyeri pada tangan dan kaki, infeksi berulang, pertumbuhan yang terhambat, serta gangguan daya penglihatan. Bila tidak mendapatkan penanganan yang dibutuhkan, individu dengan anemia sel sabit dapat mengalami beberapa jenis komplikasi, seperti stroke, hipertensi pulmonal, kerusakan organ, ulkus (luka bernanah pada kulit yang sulit sembuh dan mengakibatkan kerusakan jaringan) pada kaki, hingga kebutaan. Oleh sebab itu, diagnosis dan penanganan dini merupakan hal yang penting pada anemia sel sabit.

Diagnosis dari anemia sel sabit dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan darah rutin serta pemeriksaan komponen hemoglobin S pada darah. Hemoglobin S merupakan jenis hemoglobin defektif yang mendasari terjadinya anemia sel sabit.

Penanganan anemia sel sabit bergantung dari berbagai faktor, termasuk pengobatan untuk mengatasi infeksi, rasa nyeri, serta keluhan lain yang dapat timbul. Transplantasi sumsum tulang merupakan salah satu penanganan kuratif untuk kondisi ini. Akan tetapi, prosedur ini belum dapat dilakukan di semua pusat kesehatan.

Mencegah anemia sel sabit

Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya anemia sel sabit adalah berkonsultasi dengan konselor genetik bagi individu yang diketahui merupakan pembawa gen anemia sel sabit. Dengan begitu, individu tersebut dapat mendiskusikan lebih lanjut untuk mengetahui jenis penanganan yang tersedia, metode pencegahan, dan berbagai hal lainnya seputar kondisi ini.

Dengan diperingatinya Hari Sel Sabit Sedunia pada tanggal 19 Juni setiap tahunnya, diharapkan bahwa pengetahuan masyarakat mengenai anemia sel sabit dapat bertambah secara luas. Terutama bagi mereka yang mengalami kondisi ini, anggota keluarga, teman, dan orang lain yang berada di sekitarnya.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar