Sukses

Sebagian Wanita Mengalami Trauma Setelah Melahirkan

Pengalaman melahirkan untuk menjadi seorang ibu dapat menjadi proses yang traumatis. Bagaimana cara melaluinya?

Klikdokter.com, Jakarta Ketika seorang wanita mengalami trauma setelah melahirkan, hal itu bisa terjadi akibat satu dan dua hal. Misalnya, karena merasa sakit atau takut menjalani operasi saat proses melahirkan.

Dilansir Healthline, sebuah penelitian menunjukkan bahwa wanita yang trauma atau memiliki pengalaman melahirkan negatif, cenderung enggan mempunyai anak lagi pada kemudian hari. Kalaupun mereka menginginkan anak kedua, biasanya akan menunggu lebih lama untuk itu.

Satu dari tiga wanita di dunia mengalami trauma setelah melahirkan. Pertanyaannya adalah, mengapa hal tersebut bisa sampai membuat mereka enggan memiliki anak lagi?

Penelitian tentang trauma setelah melahirkan

Tahun lalu, sebuah studi di Belanda mencoba mengukur pengalaman-pengalaman wanita trauma setelah melahirkan. Mereka meminta lebih dari 2.000 wanita yang mengalami trauma kelahiran untuk berbagi cerita tentang penyebab dari semua ini.

Sebagian besar jawaban adalah kekurangan atau kehilangan kontrol (55%), ketakutan akan kehidupan atau kesehatan bayi mereka (50%), rasa sakit fisik yang parah (47%), dan tidak adanya dukungan dari orang-orang sekitar (39%).

“Trauma adalah cara sistem tubuh Anda memetabolisme suatu peristiwa atau situasi. Jadi, dalam banyak kasus, kita tidak pernah bisa tahu dari luar jika seseorang mengalami hal traumatis atau tidak. Hanya karena seorang wanita memiliki versi persalinan yang ideal, bukan berarti dia bebas dari trauma,” ujar Kimberly Ann Johnson, seorang konsultan perawatan persalinan.

Ada satu penyebab lain yang membuat wanita mengalami trauma setelah melahirkan. Berdasarkan studi tahun 2017 yang dilakukan oleh tim peneliti di Australia, mayoritas wanita yang disurvei (sekitar 66 persen) merasa bahwa dokter mereka memprioritaskan agendanya sendiri seperti ingin pulang, mendahulukan kebutuhan mereka ketimbang pasien, dipaksa melakukan sesuatu, hingga diabaikan sama sekali.

Mengatasi trauma setelah melahirkan

Para peneliti telah banyak mengkaji bagaimana wanita bisa mengalami trauma, baik secara fisik maupun mental setelah melahirkan. Bahkan dalam beberapa kasus, trauma tersebut mampu merenggut nyawa.

Amerika Serikat misalnya, angka kematian ibu setelah melahirkan tertinggi dibandingkan negara maju lainnya, dan masih meningkat. Selain itu, wanita kulit hitam memiliki risiko kematian tiga hingga empat kali lebih tinggi selama masa kehamilan dan kurang dari satu tahun setelah melahirkan.

Berdasarkan pemaparan dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter, Jika Anda mengalami trauma, Anda dapat berkonsultasi kepada dokter kebidanan dan kandungan Anda.

Hal yang juga penting adalah saat berencana hamil nanti, Anda bisa berdiskusi mengenai pilihan jenis melahirkan seperti operasi caesar, atau bius epidural untuk menghilangkan rasa nyeri tetapi tetap dapat melahirkan secara normal.

“Masalah apa pun yang Anda khawatirkan, ada baiknya untuk membicarakan dengan dokter kebidanan dan kandungan Anda, sehingga dapat ditemukan solusi terbaik. Jika masih belum merasa puas, Anda dapat mengunjungi dokter psikiatri untuk melakukan sesi konseling atau hipnoterapi,” ujar dr. Karin.

Lebih lanjut, dr. Karin menjelaskan bahwa telah banyak dilakukan terapi hypnobirthing –menggunakan terapi hipnotis – agar ibu melahirkan merasa relaks, santai, dan tidak takut saat persalinan.

Bagi Anda seorang wanita yang mengalami trauma setelah melahirkan, jangan takut. Berkonsultasi dengan dokter kandungan Anda dan dokter psikiatri dapat membantu mengatasi tekanan yang dirasakan. 

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar