Sukses

Siapa Lebih Berisiko Terserang Depresi, Wanita atau Pria?

Berdasarkan studi, wanita lebih berisiko terserang depresi dibandingkan pria. Apa saja penyebabnya? Ketahui lebih dalam di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Ungkapan “kesenjangan gender” biasanya digunakan dalam bidang ekonomi dan politik untuk merujuk perbedaan pendapatan atau jumlah maupun kapasitas berpolitik. Namun, salah satu kesenjangan gender yang terdokumentasi termasuk gangguan mood, yaitu depresi. Ya, wanita lebih berisiko terserang depresi, dan ini dapat dialami wanita dari segala usia.

Meski wanita lebih rentan mengalami depresi, tapi pria tercatat lebih sering mengalami depresi berat dibandingkan wanita. Merujuk laporan dari Harvard Medical School, wanita juga diketahui memiliki tingkat depresi musiman (seasonal affective disorder) lebih tinggi, gejala depresi tanda gangguan bipolar, dan distimia (depresi kronis).

Menurut pernyataan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), depresi bukan hanya masalah kesehatan mental yang sering dialami, tapi ada kemungkinan depresi ini lebih persisten dibandingkan pria. Meski demikian, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memverifikasi dugaan ini.

Alasan mengapa wanita lebih berisiko mengalami depresi masih menjadi tanda tanya besar. Namun, kondisi tersebut kemungkinan disebabkan karena karena beberapa faktor, yaitu biologis, psikologis, dan sosiokultural. Dilansir dari laman Psychology Today, berikut ini adalah penjabarannya.

Penjelasan biologis

  • Wanita lebih memiliki kecenderungan genetik yang lebih kuat untuk mengembangkan depresi.
  • Wanita lebih rentan terhadap kadar hormon yang fluktuatif. Kondisi ini khususnya terjadi ketika wanita melahirkan dan mengalami menopause, yang mana keduanya terkait dengan peningkatan risiko terjadinya depresi.

Penjelasan psikologis

  • Wanita lebih cenderung melakukan ruminasi dibandingkan pria. Ruminasi adalah mengeluarkan ingatan secara sadar akan suatu kejadian buruk untuk dicerna, dipelajari, kemudian disimpan lagi dalam ingatan. Ruminasi dianggap sebagai suatu bentuk refleksi diri yang memberikan pandangan-pandangan baru, tapi hanya menguatkan atau menambahkan tekanan emosi dan psikis yang dirasakan. Hal ini dapat mengembangkan terjadinya depresi.
  • Secara umum, wanita cenderung lebih ‘tenggelam’ dalam sebuah hubungan (relationship) dibandingkan pria. Masalah dalam suatu hubungan ini cenderung lebih memengaruhi wanita lebih dalam, sehingga risiko terjadinya depresi pun meningkat.

Penjelasan sosiokultural

  • Wanita lebih bisa tertekan dibandingkan pria. Tak hanya mereka harus pergi bekerja seperti pria, tetapi juga ada ekspektasi untuk menanggung beban lain seperti mengurus rumah, mengurus anak, merawat kerabat yang lebih tua, sekaligus menghadapi semua perilaku seksisme.
  • Wanita hidup lebih lama dari pria. Usia yang “terlalu panjang” sering dikaitkan dengan kehilangan, kesepian, kesehatan fisik yang buruk, kondisi eksistensi tanpa prediktabilitas atau keamanan (precarity), termasuk depresi.
  • Wanita lebih cenderung mencari diagnosis depresi. Mereka cenderung memilih berkonsultasi dengan dokter. Sebaliknya, dokter (baik pria maupun wanita) cenderung memberikan diagnonis depresi pada wanita.

Perlukah menyalahkan hormon?

Dikatakan oleh Dr. Steven C. Schlozman, asisten profesor psikiatri dari Harvard Medical School kepada U.S.News, hormon tidak bisa selalu disalahkan. Faktor lain seperti riwayat gangguan mental dalam keluarga dan paparan peristiwa traumatis adalah risiko lain untuk mengembangkan depresi. Pria juga mengalami peningkatan hormon pada masa pubertas dan mungkin mengalami “menopause” di kemudian hari ketika sadar kadar testosteron turun secara alamiah. Namun, hormon wanita lebih fluaktuatif dan terjadi lebih sering.

Permulaan pubertas membawa potensi sindrom pramenstruasi (PMS). Mayo Clinic menyatakan bahwa gejala-gejala PMS seperti perut kembung, nyeri payudara, sakit kepala, kecemasan, dan iritabilitas juga dapat mencakup serangan singkat blues (rasa sedih, kesepian, atau kehilangan saat mengalami masa-masa sulit yang biasanya dapat pulih). Meski demikian, PMS dapat memburuk menjadi premenstrual dysmorphic disorder (PMDD), yaitu bentuk depresi yang harus mendapatkan penanganan.

Kehamilan dan perubahan hormonal yang terkait juga dapat berdampak pada mood. Begitu juga dengan stres terkait kehamilan lainnya, seperti perubahan gaya hidup atau pekerjaan, kesulitan dalam hubungan, riwayat depresi pra kehamilan, dan kehamilan yang tak diinginkan.

Risiko depresi juga meningkat setelah melahirkan. Depresi postpartum adalah kondisi medis serius yang terjadi pada sekitar 10-15 persen wanita.

Tak hanya sampai di situ, risiko depresi pada wanita juga muncul ketika hormon estrogen mengalami penurunan pada fase menopause. Sebagai kontradiksi, ada beberapa bukti bahwa estrogen sendiri menawarkan efek perlindungan terhadap depresi. Meski demikian, fluktuasi estrogen dapat menjadi faktor risiko depresi. Dr. Jerrold Rosenbaum, profesor psikiatri dari Harvard Medical School mengatakan bahwa ketika wanita mengalami menopause, risiko depresi meningkat karena ia kehilangan efek protektif estrogen.

Perbedaan gejala depresi pada pria dan wanita

Baik pria dan wanita, gejala utama depresi adalah murung sepanjang waktu, mudah lelah, dan kehilangan minat untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya disukai. Perbedaannya, wanita cenderung lebih ekspresif dan mudah mencurahkan perasaannya, sedangkan pria cenderung berusaha menyembunyikannya (dikenal sebagai perilaku stoic).

“Karena lebih ekspresif, gejala depresi pada umumnya dapat diketahui dan diatasi dengan cepat. Selain itu, wanita yang mengalami depresi umumnya menjadi lebih melankolis. Wanita juga mudah menangis, menyalahkan diri sendiri, dan merasa cemas. Wanita lebih memilih untuk berkumpul dengan teman atau makan untuk mengatasi depresi,” ungkap dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid, kepada KlikDokter.

Kata dr. Resthie lagi, karena pria lebih cenderung menyembunyikan perasaannya, gejala depresi sering menjadi berat. Alhasil, mereka lebih mungkin melakukan percobaan bunuh diri atau menggunakan narkoba untuk mengatasi keluhannya. Selain itu, pria yang mengalami depresi umumnya lebih mudah tersinggung, marah, dan curiga. Pria juga diketahui lebih memilih untuk berolahraga, berhubungan seks, atau minum minuman keras untuk mengatasi depresi.

Terlepas dari fakta bahwa wanita lebih berisiko terserang depresi dan berbagai perbedaan antara pria dan wanita, penanganan depresi untuk keduanya harus sama-sama tepat sasaran, yaitu keamanan pasien harus terjamin, pemeriksaan diagnostik yang lengkap, serta rencana pengobatan harus secara menyeluruh—tak hanya mengobati gejala, tetapi juga sumbernya. Jika Anda merasa mengalami depresi, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan spesialis psikiatri. Sementara itu, cobalah untuk terbuka dengan orang-orang terdekat atau mendekatkan diri dengan Tuhan. Dukungan yang didapat akan sangat berarti dalam menghadapi masalah yang Anda hadapi.

[RVS]

1 Komentar