Sukses

Pap Smear, Kapan Perlu Dilakukan?

Anda masih bingung kapan harus melakukan pemeriksaan Pap smear? Simak penjelasannya berikut.

Klikdokter.com, Jakarta Saat ini, kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak dialami perempuan di Indonesia maupun dunia. Salah satu cara untuk mencegahnya sedari dini adalah dengan melakukan pemeriksaan Pap smear.

Sesuai namanya, kanker serviks terjadi di area serviks atau leher rahim. Serviks merupakan jaringan yang berbentuk saluran yang menghubungkan rahim dengan vagina. Kanker serviks disebabkan oleh infeksi human papilloma virus (HPV), yang ditularkan melalui hubungan seksual.

Umumnya jika sudah keluar jaringan serviks, kanker serviks dapat menyebar ke jaringan lain seperti vagina, rektum, hati, hingga paru. Meski begitu, kanker serviks berkembang secara perlahan yang biasanya diawali perubahan sel prakanker. Karena itu, sangat penting untuk melakukan deteksi dini kanker serviks.

Pap smear sangat dianjurkan sebagai upaya deteksi dini sel serviks abnormal yang dapat berakhir pada kanker serviks. Menurut penelitian, pemeriksaan Pap smear yang dilakukan secara teratur dapat menurunkan kasus kanker serviks hingga 80%.

Kapan harus Pap smear?

Menurut The American College of Obstetricians and Gynecologists, setiap perempuan dianjurkan Pap smear sejak berusia 21 tahun. Setiap perempuan berusia 21 sampai 29 tahun harus melakukan Pap smear setiap 3 tahun sekali. Lalu, setiap perempuan berusia 30 sampai 65 tahun wajib Pap smear setiap 5 tahun sekali disertai pemeriksaan penunjang lain, yaitu tes HPV.

Tes HPV dapat dilakukan bersamaan dengan Pap smear. Tes ini berguna untuk mencari adanya virus HPV pada jaringan serviks yang dapat menandakan adanya infeksi virus HPV dan berpotensi menyebabkan kanker serviks.

Pemeriksaan Pap smear mungkin harus dilakukan oleh perempuan lebih sering tanpa memandang umur, jika memiliki beberapa faktor risiko berikut:

  • Diagnosis positif kanker serviks
  • Hasil pemeriksaan Pap smear sebelumnya menunjukkan sel prakanker pada serviks
  • Paparan obat hormon diethylstilbestrol (DES) selama masih dalam kandungan
  • Menderita penyakit HIV
  • Penurunan sistem kekebalan tubuh akibat prosedur tranplantasi organ, kemoterapi, atau penggunaan kortikosteroid dalam jangka lama

Pada perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seksual, juga tetap dianjurkan melakukan pemeriksaan Pap smear. Mengapa?

Meskipun infeksi virus HPV mempunyai peran besar dalam kanker serviks, terdapat juga beberapa faktor risiko terjadinya kanker serviks, di antaranya kebiasaan merokok, penurunan sistem kekebalan tubuh (misalnya HIV), dan riwayat kanker serviks dalam keluarga. Untuk itu, perempuan yang belum aktif seksual sebaiknya juga melakukan Pap smear.

Perempuan berusia di atas 65 tahun dengan riwayat hasil Pap smear sebelumnya normal, mungkin tidak perlu melakukan Pap smear ulangan pada kemudian hari. Selain itu, jika seorang perempuan sudah melakukan operasi pengangkatan rahim dan leher rahim (histerektomi total), tidak perlu melakukan pemeriksaan Pap smear lagi. Dengan syarat, histerektomi yang dilakukan tersebut bukan karena adanya kanker.

Namun, bila memang histerektomi yang dilakukan atas indikasi kanker, maka ada kemungkinan Anda tetap dianjurkan Pap smear secara rutin.

Sebelum melakukan Pap smear, Anda harus membuat janji terlebih dahulu dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Diskusikan mengenai kondisi Anda dengan dokter, serta berapa kali harus melakukan pemeriksaan Pap smear. Tentu kondisi setiap perempuan berbeda-beda, melihat faktor risiko yang dimilikinya.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar