Sukses

Depresi, Ancaman di Balik Kencan Online

Sebuah studi mengatakan bahwa online dating atau kencan online dapat memicu rendahnya kepercayaan diri dan depresi.

Klikdokter.com, Jakarta Konsep kencan online memang punya daya tariknya sendiri. Sebut saja Tinder, banyakorang memiliki aplikasi tersebut di ponselnya untuk mencari pasangan. Meski terkesansederhana dan menarik, sebuah studi mengatakan bahwa kencan online justru dapat memicu depresi.

Sebelum adanya perangkat canggih, kencan adalah sesuatu yang harus dilakukansecara langsung, dengan bertatap muka terlebih dulu. Namun kini, Anda dapat mencarijodoh dari benda bernama ponsel, tanpa perlu susah payah dan bergerak sedikitpun.Semuanya tinggal klik, swipe, dan pesan Anda akan langsung terkirim.

Aplikasi kencan online kini makin populer, dan sejumlah kalangan berpendapat bahwafitur ini dapat membantu proses penjalinan hubungan. Match.com misalnya, memilikilebih dari 7 juta pelanggan berbayar; peningkatan dari 3,4 juta pada tahun 2014. Lalupihak Tinder mengaku menghasilkan 1,6 miliar gesekan per hari.

Menurut sebuah studi baru yang diterbitkan oleh Universitas Sains dan Teknologi Norwegia, aplikasi kencan membuat konsep pendekatan berubah drastis. Dengan makin banyak pengguna yang keinginannya berubah, esensi menemukan calon pasangan juga makin bergeser.

Tapi apakah semua kencan mudah ini membuat Anda lebih bahagia? Ternyata tidak, melainkan malah mengundang depresi. Mengutip CNN, begini penjelasannya.

Alasan kencan online picu depresi

Anda mengirim pesan ke pasangan di dunia maya, lalu tidak dijawab. Penolakan itu menyakitkan, dan bukan hanya secara metafora.

Menurut sebuah studi 2011 dari Prosiding National Academy of Sciences, sebuah penolakan mampu merangsang bagian otak yang memproses rasa sakit fisik. Menurut para penulis penelitian, otak Anda tidak bisa membedakan antara patah hati dan patah tulang.

Alih-alih penolakan secara langsung, popularitas kencan online justru memberi pengguna lebih banyak kesempatan untuk merasa ditolak lebih cepat. Inilah yang kemudian mampu membentur kesehatan mental, salah satunya memicu depresi.

Tim penelitian melibatkan sekitar 1.300 mahasiswa perguruan tinggi yang ditanya tentang penggunaan Tinder dan citra tubuh serta harga diri. Hasilnya, pria dan wanita yang menggunakan aplikasi tampaknya memiliki harga diri yang lebih rendah daripada mereka yang tidak.

Belum lama ini, Match.com merilis sebuah studi tentang tren kencan. Meskipun survei itu tidak ilmiah, hasilnya mengungkapkan bahwa satu dari enam orang merasa kecanduan pada proses online untuk mencari kencan.

Sebanyak 97 persen pria dikatakan lebih mungkin untuk merasa kecanduan berkencan daripada wanita. Sementara itu, 54 persen wanita merasa lelah emosi dan mental gara-gara menggunakan aplikasi ini.

Penelitian turut menyebut bahwa orang yang mengaku adiktif terhadap internet dan ponsel, mendapat skor lebih tinggi pada skala depresi dan kecemasan. Salah satu kecanduan, seperti yang telah dibahas di atas tadi, berasal dari penggunaan aplikasi kencan online.

Mengatasi depresi

Menurut dr. Ellen Theodora dari KlikDokter, depresi adalah suatu keadaan yang menyebabkan penurunan emosi dan mood sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

“Dasar umum untuk gangguan depresif tidak diketahui. Namun, faktor penyebabnya dapat dibagi menjadi faktor biologis, faktor keturunan dan faktor psikososial. Ketiga faktor tersebut dapat berdiri sendiri-sendiri maupun saling terkait,” ujarnya.

Lebih lanjut, dr. Ellen menjelaskan bahwa diagnosis secara langsung harus melalui wawancara dengan dokter spesialis psikiatri supaya dapat melihat langsung mood dan sifat yang Anda tunjukkan. Adapun pengobatan depresi berkisar dari obat-obatan dan terapi konseling dengan dokter spesialis psikiatri, tergantung berat tidaknya depresi.

Sesuai dengan penjelasan di atas, kencan online ternyata rentan memicu rendahnya kepercayaan diri dan depresi bagi para penggunanya. Untuk mencegah hal tersebut, membatasi penggunaan aplikasi kencan online adalah hal yang penting dan perlu dilakukan.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar