Sukses

Belum Menikah, Apa Perlu Periksa Kanker Serviks?

Kanker serviks memang hanya menyerang wanita. Namun kuman penyebab penyakit ini juga dapat menyebabkan infeksi pada alat kelamin pria.

Klikdokter.com, Jakarta Kanker serviks merupakan suatu jenis kanker atau keganasan yang menyerang mulut rahim wanita. Berdasarkan data dari Patologi Anatomi tahun 2010, penyakit ini menduduki urutan kedua dari sepuluh kanker terbanyak di Indonesia.

Meski mengerikan karena telah berhasil menelan banyak korban, kanker serviks sebenarnya tergolong mudah diobati. Syaratnya, penyakit ini harus dideteksi sedini mungkin. Adapun beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendeteksi dini kanker serviks, yaitu:

  • Pap smear
  • Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)
  • Inspeksi Visual Lugoliodin (VILI)
  • Tes DNA HPV

American Cancer Society menyarankan penggunaan pap smear dan tes DNA HPV sebagai cara deteksi dini kanker serviks. Pedoman yang disarankan oleh lembaga tersebut adalah sebagai berikut:

  • Semua wanita sebaiknya memulai deteksi dini kanker serviks sejak usia 21 tahun.
  • Wanita usia 21-29 tahun disarankan melakukan pap smear setiap 3 tahun sekali. Jika hasilnya abnormal, pemeriksaan tes DNA HPV dapat dilakukan.
  • Wanita usia 30-65 tahun disarankan melalukan pap smear dan tes DNA HPV setiap 5 tahun sekali. Namun, pemeriksaan pap smear saja setiap 3 tahun sekali dapat menjadi pilihan.
  • Wanita di atas 65 tahun dapat berhenti melakukan pemeriksaan apa pun apabila dirinya rutin melakukan deteksi dini selama 10 tahun terakhir dengan hasil normal. Jika pernah mendapat diagnosis kanker serviks atau lesi prakanker, maka perlu meneruskan pemeriksaan deteksi dini.
  • Wanita yang sudah menjalani histerektomi total (pembuangan dari rahim dan serviks) tanpa riwayat kanker serviks atau lesi prakanker tidak perlu menjalani pemeriksaan deteksi dini.
  • Wanita yang sudah mendapatkan vaksinasi HPV tetap perlu menjalankan pemeriksaan deteksi dini.
  • Wanita dengan faktor risiko tinggi terhadap kanker serviks (terinfeksi HIV, pernah transplantasi organ, terpapar obat DES saat dalam kandungan) mungkin memerlukan pemeriksaan deteksi dini lebih sering.

Bagaimana dengan mereka yang belum menikah?

Perlu diketahui bahwa salah satu faktor risiko timbulnya kanker serviks adalah infeksi virus HPV. Fakta menyebutkan bahwa infeksi ini ditemukan pada sekitar 99% kasus kanker serviks.

HPV itu sendiri sangat bervariasi, diperkirakan lebih dari 150 jenis. Masing-masing jenis HPV dapat menimbulkan masalah kesehatan yang berbeda, mulai timbulnya papilloma atau kutil, hingga beragam jenis kanker.

HPV yang berkaitan dengan kanker dinamakan HPV tipe high-risk, misalnya tipe HPV 16, HPV 18, HPV 31, HPV 33 dan HPV 45. Kanker serviks berkaitan dengan HPV 16 dan HPV 18.

Infeksi HPV dapat terjadi akibat berkontak kulit dengan orang yang sudah terinfeksi. Seringkali, penyebaran ini terjadi melalui kontak seksual, misalnya hubungan seksual melalui vagina, anal, bahkan oral. Oleh karena itu, mereka yang belum menikah namun sudah aktif secara seksual juga berisiko terinfeksi HPV. Sehingga, sebaiknya melakukan pemeriksaan deteksi dini rutin seperti pada pedoman yang disarankan.

Sekarang sudah jelas, bukan? Jadi, meski belum menikah namun sudah aktif secara seksual, Anda tetap dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kanker serviks sesuai pedoman yang dianjurkan. Salam sehat!

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar