Sukses

Bisakah Disleksia Dicegah Sejak dalam Kandungan?

Anak yang mengalami disleksia biasanya sulit membaca, menulis, dan mengeja. Dapatkah kondisi ini dicegah sejak dalam kandungan?

Klikdokter.com, Jakarta Disleksia adalah suatu gangguan ketika seseorang mengalami kesulitan membaca, menulis, dan mengeja. Kondisi ini umumnya terjadi pada anak-anak dan dapat menyerang anak dengan kemampuan intelegensi lebih dari rata-rata. Jika disleksia tidak ditangani, maka dapat menyebabkan prestasi menurun dan terganggunya interaksi sosial. Lantas, apakah disleksia dapat dicegak sejak dalam kandungan?

Mungkinkah mencegah disleksia sejak anak dalam kandungan?

Sampai saat ini, penyebab disleksia belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa pendapat yang menjelaskan adanya faktor keturunan yang berperan dalam munculnya disleksia.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat disleksia berisiko lebih besar mengalami kondisi disleksia juga. Kelainan kromosom yang bersifat diturunkan terjadi pada kromosom 1, 15, dan 16.

Karena penyebabnya belum diketahui dengan pasti, maka tidak ada langkah pencegahan utama gangguan disleksia sejak anak masih dalam kandungan. Meski demikian, ada beberapa faktor risiko yang dapat dihindari selama masa kehamilan, yang diketahui dapat meningkatkan risiko gangguan disleksia pada anak, seperti:

1. Mencegah kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah

Kelahiran prematur adalah kelahiran yang terjadi pada tiga minggu atau lebih sebelum waktu kelahiran normal. Bayi yang lahir di usia kehamilan belum mencapai 25 minggu, memiliki risiko gangguan belajar dan disleksia. Selain itu, kelahiran prematur dapat menyebabkan berat badan bayi lahir rendah.

Untuk mencegah kelahiran prematur sejak masa kehamilan, ibu hamil harus menjaga kehamilan tetap sehat dengan rutin konsultasi ke dokter sesuai jadwal yang ditetapkan setiap bulan. Selain itu juga harus memperhatikan asupan nutrisi selama kehamilan dengan rutin konsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, sayur dan buah.

Ibu hamil juga perlu mengetahui faktor risiko selama kehamilan seperti tekanan darah tinggi atau diabetes. Saat hamil Anda juga perlu menjaga berat badan selama kehamilan, karena berat badan berlebih meningkatkan risiko persalinan prematur.

2. Konsumsi makanan yang mengandung omega-3

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Professor John Stein di University of Oxford, Inggris, kekurangan omega-3 berkaitan dengan gangguan disleksia. Hal ini disebabkan karena kurangnya omega-3 menyebabkan terjadinya gangguan di saraf pendengaran. Pada penderita disleksia dipercaya dapat mendengar suara yang didengarnya, tapi tidak dapat mendengar secara jelas, karena adanya gangguan di saraf pendengaran tersebut. Ini mengakibatkan sulitnya mengerti kata yang didengar tersebut.

Kandungan DHA di dalam omega-3 berperan dalam pembuatan membran sel di saluran pendengaran yang dikenal dengan sebutan magnosel. Sedangkan kandungan DHA dan EPA di dalam omega-3 berperan dalam membuat selaput tipis di sekitar sel-sel pendengaran, yang berfungsi untuk meneruskan gelombang suara supaya lebih cepat diterima otak.

Jadi, ibu hamil disarankan untuk memperbanyak asupan omega-3 seperti ikan salmon, telur, susu, yoghurt, kacang-kacangan, serta sayur seperti bayam dan kubis.

3. Hindari stres selama masa kehamilan

Pada masa kehamilan, kondisi psikologis ibu hamil sering berubah. Hal ini dapat memicu keadaan tumbuh kembang janin. Stres yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan bayi lahir rendah, sehingga kemungkinan bayi akan tumbuh dengan gangguan disleksia akan meningkat juga.

Mengenali gangguan disleksia pada anak

Orang tua dapat mengenali gangguan disleksia pada anak sejak anak berada di usia prasekolah dengan beberapa gejala sebagai berikut:

  • Terlambat dalam berbicara dibandingkan anak-anak seusianya
  • Kesulitan menggunakan dan menyusun kata-kata yang tepat dan benar
  • Kesulitan untuk mengucapkan kata baru

Sedangkan saat anak sudah mulai masuk sekolah, anak terlihat beberapa gejala seperti berikut:

  • Kesulitan dan sering salah saat membaca
  • Kesulitan dalam memahami kata yang didengarnya
  • Mengalami kelambanan dalam menulis dan tulisan terlihat tidak rapi
  • Kesulitan mengeja huruf
  • Kesulitan memahami apa yang didengar

Untuk pengobatannya sendiri, disleksia membutuhkah pendekatan khusus bukan dengan obat-obatan. Tahap pertama adalah menentukan diagnosis dengan benar. Kemudian dilakukan berbagai pemeriksaan psikologis dan fisik. Selanjutnya disusul dengan evaluasi lengkap mengenai kelemahan dan kelebihan anak, yang melibatkan bantuan guru-guru di sekolah.

Setelah itu, dilakukan pertemuan antara orang tua, guru, dan profesional untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam memperbaiki cara belajar anak. Orang tua juga akan diberikan petunjuk bagaimana membantu anak di rumah.

Ingat, disleksia tidak dapat dicegah sejak dalam kandungan, tapi faktor risiko yang memicu terjadinya disleksia pada masa kehamilan dapat membantu mencegah disleksia pada anak. Oleh karena itu jangan abaikan kesehatan selama masa kehamilan dengan rutin kontrol ke dokter kandungan dan menerapkan pola hidup sehat demi kesehatan ibu dan janin.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar