Sukses

Anak Tidur Mendengkur, Normal atau Tidak?

Banyak pertanyaan bernada cemas terkait masalah anak tidur mendengkur. Apakah kondisi tersebut wajar atau perlu penanganan khusus?

Klikdokter.com, Jakarta Mendengkur tak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Penyebab anak tidur mendengkur adalah akibat getaran saluran napas terhambat aliran udara. Sekitar 8-15% anak di dunia mendengkur saat tidur. Namun, hanya sekitar 1-3% yang disebabkan oleh gangguan pernapasan yang berbahaya.

Karena itu mendengkur bukan hanya sekadar suara keras yang berisik, tetapi bisa menandakan adanya kondisi serius yang membutuhkan penanganan dokter. Mendengkur juga tidak berarti anak tidur kurang nyenyak.

Untuk mengetahui apakah kebiasaan mendengkur anak perlu perhatian lebih, maka harus diketahui dulu penyebabnya, berbahaya atau tidak. Sering kali orang tua merasa khawatir karena mendapati perubahan pola napas akibat dengkuran tersebut, atau anak menjadi lebih rewel pada siang hari. 

Sebelum panik berlebihan, sebaiknya ketahui dulu beberapa penyebab mendengkur pada anak berikut ini:

1. Pembesaran amandel dan adenoid

Amandel dan adenoid merupakan kumpulan kelenjar yang berfungsi untuk melawan infeksi. Amandel terletak di bagian sisi kiri dan kanan belakang mulut, sedangkan adenoid terletak lebih ke atas di belakang hidung.

Pembengkakan amandel dan adenoid merupakan penyebab tersering mendengkur pada anak. Sering kali operasi amandel dan adenoid perlu dilakukan untuk mengatasi mendengkur. Selain itu, pembengkakan juga dapat terjadi ketika anak mengalami peradangan atau infeksi. Akibatnya, saluran napas dapat tersumbat dan anak sulit bernapas.

2. Gangguan saluran napas atas

Mendengkur dapat juga dialami anak ketika sedang sakit flu, pilek, hidung tersumbat akibat alergi, infeksi, dan sinusitis sehingga menyebabkan anak kesulitan bernapas melalui hidung. Sebagai kompensasinya, anak akan bernapas melalui mulut. Bernapas melalui mulut menyebabkan getaran yang lebih besar sehingga terjadilah suara dengkuran.

3. Septum deviasi

Septum deviasi terjadi ketika jaringan dan tulang rawan yang memisahkan kedua lubang hidung bengkok. Kondisi ini menyebabkan aliran udara ke hidung terhambat sehingga anak akan bernapas menggunakan mulut.

4. Kegemukan

Kelebihan jaringan lemak di leher dan sekitar tenggorokan dapat menyebabkan penyempitan saluran napas. Hal ini memberikan beban tambahan kepada anak, dan membuatnya mendengkur saat tidur.

5. Obstructive sleep apnea (OSA)

OSA merupakan kondisi henti napas yang terjadi berulang kali saat tidur. Keadaan ini termasuk berbahaya dan membutuhkan penanganan dokter karena bisa menyebabkan kematian mendadak. Anak yang memiliki OSA biasanya mendengkur keras  setiap malam. Tidurnya pun menjadi tidak nyenyak.

Gejala yang sering ditemukan adalah posisi tidur anak yang tidak normal, dengan kepala seperti mendongak dan tubuh membengkok ke belakang. Anak dengan OSA juga kerap gelisah saat tidur dan bisa juga sering mengompol. Selain itu, anak cenderung mudah rewel, sering mengantuk, dan sulit berkonsentrasi di sekolah.

Perhatikan juga beberapa tanda bahaya mendengkur pada anak berikut ini:

  • Anak mendengkur hampir setiap malam.
  • Dengkuran terdengar sangat keras.
  • Anak tidur dengan mulut terbuka atau kepala mendongak.
  • Anda melihat atau mendengar adanya henti napas pada anak, atau anak termegap-megap saat tidur.

Sebagai orang tua, cermatilah kondisi anak Anda dengan lebih saksama. Jika anak tidur mendengkur karena sedang pilek, Anda tak perlu begitu khawatir. Dengan pemberian pelega napas keluhan tersebut dapat berkurang. Namun, bila anak Anda memiliki kebiasaan mendengkur keras setiap malam dan memenuhi gejala OSA, segeralah bawa ke dokter spesialis THT untuk ditelaah lebih lanjut.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar