Sukses

7 Masalah Gigi dan Mulut yang Sering Dialami Anak-Anak

Beri perhatian ekstra pada kesehatan gigi dan mulut anak. Jangan sampai senyum anak terancam tujuh masalah gigi dan mulut ini.

Klikdokter.com, Jakarta Orang tua sudah seharusnya memperhatikan kondisi rongga mulut anak, sejak ia belum memiliki gigi hingga mengalami pertumbuhan gigi. Gigi susu akan mulai tumbuh pada usia 6 bulan hingga 6 tahun. Gigi susu inilah yang akan menghiasi senyumnya kelak. Masalah pada gigi dan mulut dapat memengaruhi asupan gizi anak jika terjadi sakit pada gigi atau masalah lain pada mulut. Selain aktivitasnya jadi terganggu, si Kecil pun akan rewel dan tidak dapat menikmati apa pun yang dilakukannya.

Proses tumbuh kembang rahang anak akan terganggu apabila masalah terjadi karena perilaku atau kebiasaan buruk yang tidak terpantau orang tua. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mencegah terjadinya masalah gigi dan mulut anak adalah dengan mengenali hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya kondisi ini.

Berikut ini adalah beberapa masalah gigi dan mulut pada anak yang paling sering dialami:

1. Gigi tumbuh

Biasanya, pada proses gigi tumbuh anak akan memproduksi banyak air liur. Sudah tentu ia akan merasa tak nyaman pada bagian gusinya. Dan jika diperhatikan akan terlihat adanya kemerahan dan sedikit bengkak.

Pada pertumbuhan gigi susu, tingkah anak yang suka menggigit atau mengunyah benda keras adalah usaha alami untuk membantu jalan keluarnya pertumbuhan gigi. Anak dapat dibantu dengan pereda nyeri apabila ia susah tidur dan tidak mau makan. Namun, untuk pemberian obat apa pun sebaiknya konsultasikan dulu kondisi anak ke dokter.

2. Sariawan

Ketika belum memiliki gigi susu, anak pasti mengonsumsi makanan lunak atau cair. Ketika anak berlum memiliki gigi, tak jarang orang tua berasumsi bahwa membersihkan rongga mulut anak dirasa tak perlu. Padahal, ini sangat penting karena gusi anak yang rentan dan lidahnya dapat menjadi sarang bakteri atau jamur. Jika ini terjadi, dapat timbul masalah seperti sariawan yang kemunculannya akan sangat mengganggu anak akibat adanya lesi di mulut. Aktivitas anak pun jadi terganggu.

Bagi para orang tua, yang paling baik adalah selalu membersihkan rongga mulut anak, gusi, dan lidah dengan kain atau sikat halus. Dengan menjaga kebersihan rongga mulut anak setiap pagi dan malam, risiko terjadinya sariawan pada anak dapat dicegah.

3. Gigi berlubang

Apabila sejak kecil anak sudah dibiasakan untuk dibersihkan rongga mulut lidah dan giginya, maka sebenarnya tidak ada alasan untuk terjadi lubang gigi, apalagi gigi gerepes. Lubang gigi ini disebut juga dengan karies gigi. Anak kecil memang lebih rentan mengalami gigi berlubang. Dengan hanya mengalami penurunan pH sedikit (6,5) pada mulut, anak dapat mengalami masalah lubang gigi.

Untuk mencegah terjadinya kondisi ini, pemeriksaan berkala ke dokter gigi harus sejak dini dilakukan, Jadi apabila terdeteksi ada gigi yang baru berlubang sedikit, maka bisa segera ditambal tanpa anak merasakan sakit ketika dilakukan penambalan oleh dokter gigi. Penanganan dini ini juga berdampak baik terhadap psikologis anak. Ia dapat tumbuh dewasa tanpa harus takut ke dokter gigi.

4. Gigi patah

Anda sebagai orang tua pasti tak ingin hal buruk terjadi pada buah hati. Namun, apabila secara tak sengaja anak mengalami patah gigi, segera bawa anak ke dokter gigi. Gigi yang mengalami cedera tersebut biasanya akan diperiksa dengan radiologi. Tujuannya  untuk menentukan posisi patah dari gigi tersebut. Apakah gigi yang patah tersebut sudah mencapai sarafnya atau masih di bagian dentin. Berdasarkan hasil pemeriksaan ini, dokter gigi kemudian dapat menentukan apakah gigi patah tersebut bisa segera ditambal atau dirawat saluran akarnya.

5. Radang gusi

Radang gusi sering terjadi pada balita yang mengalami kekurangan vitamin C atau perawatan gigi yang buruk. Biasanya radang gusi ditandai dengan adanya gusi berdarah dan sariawan. Untuk mencegah terjadinya kondisi ini, pastikan asupan nutrisi anak tercukupi sekaligus menjaga kebersihan mulutnya. Pada rongga mulut anak juga bisa terbentuk karang gigi. Oleh karena itu, pemeriksaan berkala dan pembersihan karang gigi juga penting untuk anak.

6. Gigi maju (tonggos)

Banyak kebiasaan buruk pada anak yang dapat menyebakan masalah gigi tonggos, seperti mengisap jari, bibir bawah, atau menggunakan dot hingga usia lebih dari 3 tahun. Ketiganya berkontribusi terhadap meningkatnya risiko gigi tonggos. Tekanan ketika mengisap akan terdistribusi pada langit-langit mulut, sehingga menyebabkan gigi terdorong ke depan.

Jika kebiasaan buruk tersebut bisa cepat dihentikan, masih ada kemungkinan posisi gigi akan baik dengan sendirinya (self-correction). Namun, jika kebiasaan buruk ini terus dilakukan, maka gigi yang terdorong ini akan sulit untuk kembali ke posisi semula. Bukan tak mungkin gigi tersebut justru akan membutuhkan perawatan khusus ortodontik.

7. Susunan gigi tidak rapi

Selain herediter (menurun secara genetik dari orang tua), masalah gigi dengan susunan tidak rapi juga dapat disebabkan apabila ada gigi susu yang tanggal lebih dulu. Ruangan bekas gigi yang dicabut harus tetap dipertahankan untuk tempat pertumbuhan gigi tetapnya nanti. Biasanya, dokter gigi akan membuatkan space maintaner untuk memastikan ruang tersebut terjaga. 

Pertumbuhan dari gigi ini akan memengaruhi bentuk rahang. Demikian pula untuk gigi susu yang persisten (tidak mau tanggal,) gigi tetap bisa terpaksa keluar ke arah yang tidak semestinya sehingga pertumbuhan gigi anak terlihat berjejal. Gigi susu yang persisten ini perlu bantuan dokter gigi untuk mencabutnya, sehingga posisi dari gigi tetap akan tumbuh ke arah yang semestinya.

Nah, itulah tujuh masalah gigi dan mulut yang sering dialami anak-anak. Peran orang tua sangat besar dalam memastikan kesehatan gigi dan mulut anak di masa perkembangannya. Memang ada banyak sekali yang perlu diperhatikan. Tapi percayalah akan sangat sepadan, karena anak akan mendapatkan senyum yang sehat ketika ia tumbuh besar dan dewasa.

[RN/ RVS]

1 Komentar