Sukses

Trypophobia, Kumpulan Lubang Kecil yang Bikin Fobia

Ratusan lubang kecil pada sarang lebah bikin Anda fobia? Bisa jadi Anda mengidap trypophobia. Gejala apa ini?

Klikdokter.com, Jakarta Pernah mendengar istilah trypophobia? Kalau Anda merasa mual, pusing bahkan panik saat melihat lubang-lubang kecil seperti pada selongsong biji lotus, bisa jadi Anda sedang berhadapan dengan trypophobia.

Menurut dr. Dyan Mega Inderawati, trypophobia adalah sejenis fobia atau ketakutan yang berlebihan terhadap sebuah benda yang memiliki lubang-lubang yang berkelompok dengan pola yang tidak teratur. Biasanya, pengidap fobia ini akan merasa jijik jika melihat benda-benda seperti sarang lebah, biji bunga lotus, bahkan lubang-lubang kecil pada permukaan buah stroberi yang merah menggiurkan.

Meskipun perasaan tersebut bagi sebagian orang sangat mengganggu, namun fobia atau ketakutan ini belum cukup dikenal. Mengutip dari Healthline, studi mengenai trypophobia tergolong masih sangat sedikit. Bahkan ada yang berpendapat bahwa ini mungkin belum perlu diklasifikasikan sebagai fobia.

Apa saja pemicu trypophobia?

Apa pun perbedaan pendapat mengenai trypophobia di kalangan para ahli, faktanya ada sebagian dari masyarakat yang memang mengalami fobia ini. Berbeda dengan sebagian besar fobia yang dicetuskan oleh hal-hal yang mengerikan seperti ular, kecoak, laba-laba dan ketinggian, trypophobia justru sering kali dipicu oleh benda-benda sederhana.

Bagi pengidap trypophobia, beberapa benda ini bisa memicu ketakutan dan rasa panik sehingga membuat mereka merinding dan mual:

1. Tanaman

  • Selongsong biji lotus
  • Tekstur kulit melon
  • Permukaan stroberi
  • Delima

2. Serangga

  • Sarang lebah
  • Kulit hewan amfibi
  • Bulu hewan mamalia
  • Tekstur atau motif kulit hewan atau serangga

3. Benda

  • Koral
  • Gelembung atau buih sabun
  • Sabut aluminium

Gejala yang dirasakan pengidap trypophobia

Bagi pengidap trypophobia, ketakutan terhadap benda-benda ‘berlubang’ seperti di atas, jelas sangat mengganggu secara psikis. Ada beragam gejala yang biasanya dirasakan oleh penderita trypophobia saat melihatnya.

Berikut ini adalah beberapa gejala yang biasanya mereka alami:

  • Kulit merinding
  • Timbul perasaan tidak nyaman
  • Mengalami gangguan visual seperti distorsi atau perubahan bentuk, atau ilusi-ilusi
  • Muncul perasaan tertekan
  • Kulit tubuh terasa tegang
  • Dilanda rasa panik
  • Keringat berlebihan
  • Tubuh gemetar
  • Mual

Sebagian besar dari gejala-gejala di atas merupakan tanda yang khas dialami oleh penderita fobia. Inilah yang membuat sebagian kalangan ‘memaksa’ bahwa trypophobia sudah seharusnya diklasifikasikan sebagai salah satu jenis fobia.

Penanganan gangguan trypophobia

Sayangnya hal ini masih menjadi perdebatan, apakah trypophobia patut digolongkan sebagai salah satu jenis fobia atau hanya ketakutan biasa. Meski belum banyak, beberapa studi mengenai gangguan ini pernah dilakukan. Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2013, menyebutkan bahwa fobia ini merupakan rasa takut biologis pada benda-benda yang (dianggap) bisa menimbulkan rasa sakit.

Para peneliti melihat bahwa gejala ketakutannya dipicu oleh warna-warna kontras yang tersusun dalam pola-pola tertentu. Mereka juga berpendapat bahwa ketakutan tersebut dipicu oleh dorongan tidak sadar. Dorongan tersebut menekan pikiran, bahwa benda yang sebenarnya tidak berbahaya sama bahayanya dengan barang lain yang memang membahayakan, bahkan mematikan.

Namun, apa pun kesepakatan para ahli mengenai trypophobia, jika gejala psikis dan fisik yang Anda rasakan sudah sangat mengganggu, Anda perlu mencari bantuan. Menurut dr. Dyan Mega Inderawati, ketakutan yang diakibatkan oleh trypophobia dapat diterapi dengan psikoterapi yang dilakukan oleh dokter psikiatri.

Meski urusan kumpulan lubang kecil ini terlihat sepele, gangguan trypophobia jelas bukan kondisi yang ‘main-main’ –apalagi kalau sudah mengganggu kondisi psikis Anda. Semakin cepat Anda berkonsultasi, semakin cepat pula gangguan ini bisa ditangani.  Jangan tunda, agar Anda terhindar dari gangguan rasa cemas yang bisa mengarah pada depresi.

[RH]

0 Komentar

Belum ada komentar