Sukses

Benarkah Latihan Fisik Penderita Demensia Tidak Ada Gunanya?

Efektivitas latihan fisik bagi penderita demensia katanya tidak berbuah apa-apa dalam penanganan demensia. Benarkah demikian?

Klikdokter.com, Jakarta Selama ini, penderita demensia dianjurkan untuk melakukan latihan fisik alias berolahraga. Berdasarkan penjelasan dari dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, demensia adalah gangguan fungsi kognitif menyeluruh dari otak.

“Kondisi ini disertai satu atau lebih gangguan fungsi kognitif lain, di antaranya kemampuan berbahasa, orientasi, eksekutif atau kemampuan bertindak secara berencana dan mengambil keputusan, berhitung, dan pengenalan benda,” kata dr. Nadia, menjelaskan ciri khas seseorang saat diduga mengalami demensia.

Lebih lanjut, dr. Nadia menjelaskan tahapan demensia. “Awalnya memori jangka pendek seseorang yang mengalami demensia tampak terganggu, lalu disusul memori jangka menengah dan panjang, tergantung tingkat keparahan,” ujarnya.

Salah satu cara yang katanya efektif untuk mengatasi demensia adalah latihan fisik tertentu meliputi angkat beban hingga latihan aerobik. Namun, apakah cara ini ampuh?

Sebuah penelitian menyebut bahwa upaya ini tak akan memberikan dampak yang signifikan. Namun, sisi positifnya tetap ada, yakni kebugaran fisik yang kian meningkat.

Fakta di balik latihan bagi penderita demensia

Dilansir dari BBC, para peneliti dari Universitas Oxford, Inggris, mengatakan bahwa sejumlah uji coba harus dilakukan demi mengeksplorasi bentuk aktivitas lainnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengkaji efektivitas latihan bagi penderita demensia.

Olahraga ringan dan teratur adalah hal yang baik. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menghentikan aktivitas tersebut. Meski demikian, olahraga disinyalir tidak memberikan efek apa pun untuk para penderita demensia.

Para peneliti melakukan studi yang melibatkan 329 pasien penderita demensia. Mereka dikondisikan untuk melakukan pelatihan fisik serta olahraga berdurasi 60-90 menit selama dua kali dalam seminggu.

Rutinitas ini dilakukan selama empat bulan lamanya. Kelompok studi ini lalu dibandingkan dengan165 penderita demensia yang menerima perawatan biasa, yaitu mereka yang tidak melakukan pelatihan fisik rutin.

Sallie Lamb, peneliti dari Universitas Oxford, membeberkan hasil studi bahwa orang yang telah menderita demensia selama dua atau tiga tahun dapat mengikuti instruksi latihan sederhana dan meningkatkan kebugaran dan kekuatan otot mereka.

"Akan tetapi manfaat ini tidak memberikan perbaikan dalam penurunan kognitif, aktivitas dalam kehidupan sehari-hari, perilaku, ataupun kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan," ujarnya.

Lewat metode berbeda yang dijalani dua kelompok di atas,  para peneliti memandang bahwa penurunan kognitif tetap terjadi tanpa pandang bulu.

Martin Rossor, peneliti dari University College London, Inggris, mengatakan hasil itu tidaklah mengejutkan, mengingat degenerasi sel-sel otak telah mulai bertahun-tahun sebelum gejala timbul pada penyakit Alzheimer.

Jadi intinya, olahraga  baik bagi tubuh karena mampu memberikan manfaat seperti kebugaran dan kesehatan. Kendati demikian, penanganan penyakit demensia dengan metode latihan tertentu dirasa tidak bisa memberikan manfaat yang signifikan.

Kiat ampuh meminimalkan demensia

Sara Imarisio, kepala penelitian di Alzheimer's Research, Inggris, mengatakan bentuk olahraga lain dapat memiliki efek yang berbeda. Ini harus dieksplorasi dampak positifnya di masa depan.

Bagi sejumlah orang, olahraga dapat menjadi sumber kesenangan dan peluang berharga untuk interaksi sosial. Setidaknya olahraga bisa memberikan manfaat yang berharga untuk seluruh kalangan, salah satunya penderita demensia," ujarnya.

Latihan bagi penderita demensia masih dianggap sebagai salah satu cara terbaik untuk mengurangi risiko terkena demensia pada lansia. Namun, sejumlah validitas perlu dilakukan untuk mengkaji kebenarannya. Penelitian ini disarankan untuk berlanjut di masa depan dengan skala yang lebih besar.

Sementara itu, menurut dr. Nadia, Anda dapat melakukan sejumlah kiat ampuh dalam meminimalkan risiko demensia di masa depan.

“Untuk menangani kepikunan agar tidak semakin progresif, seseorang dapat terus distimulasi untuk memiliki berbagai aktivitas otak, seperti membaca, bercerita, menjahit, merajut, dan lain-lain,” tuturnya.

Menurut hasil studi, latihan penderita bagi demensia dikatakan tidak memberikan dampak langsung pada otak. Meski demikian, jangan lantas langsung tidak termotivasi untuk berolahraga karena latihan fisik dapat tetap membawa manfaat baik bagi kesehatan tubuh. Cegah demensia dengan melakukan anjuran dr. Nadia. Bila efeknya kian parah, sebaiknya langsung periksakan diri ke dokter spesialis saraf.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar