Sukses

Menyembuhkan Trauma pada Anak Korban Terorisme

Aksi terorisme dapat menyebabkan trauma pada anak. Apa yang bisa dilakukan agar kondisi anak kembali seperti sedia kala?

Klikdokter.com, Jakarta Ledakan bom yang terjadi Surabaya pada Minggu (13/5) memakan banyak korban. Tak hanya melukai fisik, kejahatan terorisme seperti ini juga turut menyebabkan trauma pada setiap orang yang mengalami atau melihatnya. Apalagi bila yang terlibat di dalam situasi tersebut adalah mereka yang masih anak-anak.

American Psychology Association menyatakan bahwa anak adalah kelompok yang paling rentan mengalami trauma setelah peristiwa katastrofe–baik kekerasan fisik, seksual, perang, bencana alam, maupun teror bom. Anak yang berpotensi mengalami trauma adalah:

  • Anak yang mengalami kejadian tersebut secara langsung
  • Anak yang menjadi saksi mata langsung atas peristiwa tersebut
  • Anak yang anggota keluarganya menjadi korban kejadian tersebut
  • Anak yang terganggu kesehariannya akibat kejadian tersebut
  • Anak yang menyaksikan tayangan kejadian tersebut di televisi

Pengalaman traumatis pada anak

Cara anak menghadapi kejadian traumatis tentu berbeda dengan orang dewasa. Hal ini bergantung pada kondisi mental, tingkat perkembangan anak, kemampuan kognitif anak, latar belakang keluarga dan budaya.

Secara umum, beberapa reaksi berikut adalah yang dapat terjadi, sesaat atau beberapa waktu setelah anak mengalami kejadian traumatis seperti terorisme:

  • Rasa takut yang sangat besar
  • Cemas berpisah (separation anxiety) terutama pada anak yang lebih kecil
  • Kesedihan
  • Kehilangan minat akan kegiatan yang sebelumnya ia senangi
  • Konsentrasi menurun
  • Kemampuan belajar menurun
  • Sensitif dan mudah marah
  • Keluhan fisik yang tidak jelas penyebabnya, seperti rasa mual, sakit perut, sakit dada, dan sebagainya

Gejala di atas sangat wajar karena merupakan bagian dari cara anak menanggapi suatu peristiwa. Secara normal, gejala tersebut akan dialami selama beberapa hari. Akan tetapi, bila anak tidak mendapat pendampingan yang tepat, gejala bisa bertambah berat dan berlanjut hingga beberapa bulan. Kondisi tersebut dinamakan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Fakta menyebutkan, hampir sebagian anak yang terlibat atau menjadi korban aksi terorisme mengalami gejala PTSD hingga 3 bulan setelah peristiwa. Secara jangka panjang, trauma yang dirasakan akan aksi terorisme bahkan dapat menetap hingga 10-15 tahun berikutnya.

Anak yang berada pada kondisi PTSD akan memiliki gejala seperti yang disebutkan di atas. Mereka juga dapat mengalami gejala khas, yaitu mengalami gambaran jelas dari kejadian secara berulang tanpa mampu melenyapkannya (flashback atau mimpi buruk).

Selain itu, beberapa hal kecil juga dapat mencetuskan kembali ingatan akan peristiwa traumatis dan menimbulkan rasa takut. Anak juga akan menghindari tempat, orang, benda, atau aktivitas yang mengingatkan mereka akan kejadian tersebut. Semua hal ini dapat terjadi selama beberapa bulan.

Anak yang mengalami PTSD akan memiliki aktivitas yang terganggu, kemampuan belajarnya menurun, dan berisiko mengalami gangguan kejiwaan di waktu mendatang.

Meski demikian, trauma atau PTSD pada anak yang jadi korban terorisme dapat disembuhkan. Terapi psikiatri seperti cognitive-behavioral therapy (CBT) telah terbukti efektif untuk mengurangi rasa takut dan cemas akibat trauma. Tentunya, terapi ini harus dilakukan oleh orang yang profesional.

Selain terapi, ada beberapa tindakan sederhana lain yang dapat dilakukan agar anak tidak mengalami trauma berlebihan hingga mengalami PTSD akibat terorisme. Beberapa tindakan tersebut, di antaranya:

  • Menciptakan lingkungan yang aman. Yakinkan anak bahwa ia bersama dengan orang yang menyayangi dan melindunginya. Tempatkan anak di lokasi yang ia kenali, agar dirinya merasa aman sepanjang waktu.
  • Berkata jujur pada anak. Nyatakan dengan bahasa yang sederhana apa yang sedang terjadi. Ucapkan dengan bahasa tubuh yang wajar dan intonasi suara yang rendah, agar anak tidak merasa takut atau panik.
  • Batasi paparan anak terhadap media. Gambar-gambar mengerikan terkait kejadian terorisme hanya akan memperburuk kondisi psikologis anak.
  • Pendampingan jangka panjang. Tindakan ini wajib dilakukan pada anak yang kehilangan anggota keluarganya karena aksi terorisme. Libatkan setiap orang yang berinteraksi dengan anak, mulai dari keluarga dekat, tetangga, guru, dan pemuka agama.

Menyembuhkan trauma pada anak akibat aksi terorisme memang bukan perkara mudah. Namun dengan pendampingan yang tepat, konsisten dan berkelanjutan, bukan tak mungkin anak akan kembali menjalani hidup seperti sedia kala.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar