Sukses

Bagaimana Cara Menjelaskan kepada Anak soal Terorisme?

Bicara mengenai kejahatan terorisme pada anak perlu disesuaikan dengan usianya. Ini panduannya.

Klikdokter.com, Jakarta Aksi terorisme telah terjadi di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/05/2018) pagi hari. Tiga gereja tersebut adalah Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia Wonokromo, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya. Hingga kini, tercatat belasan korban tewas dan puluhan korban luka, termasuk di antaranya anak-anak.

Kejadian teror bom ini tentu mengagetkan publik, tak hanya di Surabaya tetapi seluruh Indonesia. Kabar mengenai kejadian tersebut pun memenuhi lini masa media sosial dan mendominasi berita di media elektronik. Bukan tidak mungkin berita tersebut didengar atau dibaca oleh anak-anak.

Kejahatan terorisme memang sulit dijelaskan dan menimbulkan rasa takut tersendiri. Tak heran jika banyak orang tua yang lebih memilih menghindari pembicaraan mengenai topik ini. Namun, berkaca pada kejadian ledakan bom tersebut, sudah saatnya orang tua mulai mengajak anak bicara mengenai terorisme.

Tidak perlu khawatir karena ada panduan yang dapat Ayah dan Bunda ikuti agar dapat menjelaskannya sesuai dengan karakter dan perkembangan anak.

● Pilih waktu yang tepat

Perlu waktu yang tepat untuk menjelaskan hal seperti kejahatan terorisme kepada anak. Pilihlah waktu saat anak dalam kondisi siap dan senyaman mungkin, agar ia mampu menangkap informasi yang akan kita sampaikan.

● Perhatikan bahasa tubuh dan intonasi suara

Anda mungkin merasa takut, tetapi usahakan agar tetap tenang saat menjelaskan kepada anak. Gunakan bahasa tubuh yang tidak berlebihan dan intonasi suara tetap rendah. Bila Anda panik, kepanikan atau ketakutan Anda dapat dirasakan oleh anak dan ia pun akan merasakan hal yang sama. Tetap tenang dan berkepala dingin saat berdiskusi mengenai topik ini.

● Cari tahu apa yang anak ketahui

Sebelum memulai menjelaskan, cari tahu sejauh mana pengetahuan anak mengenai terorisme. Anda dapat mulai dengan pertanyaan sederhana seperti “Dengar kabar apa di sekolah hari ini?” atau “Adik baca berita penting apa di internet?” dan sebagainya. Berangkat dari jawaban anak, mulailah jelaskan mengenai terorisme.

● Identifikasi rasa takut anak

Anak mungkin akan merasakan takut yang berlebihan dan hal tersebut sangat wajar. Perlu diingat bahwa tiap anak memiliki karakter yang unik. Ajarkan anak agar rasa takutnya tidak membuat ia berhenti beraktivitas melainkan membuat ia lebih waspada. Untuk anak yang lebih kecil, bantu ia agar tetap tenang dengan meyakinkannya bahwa orang tua dan keluarganya selalu ada bersamanya.

● Hindari paparan televisi atau media sosial yang menampilkan gambar atau adegan yang tragis

Saat menyampaikan informasi ini, hindari menggunakan gambar-gambar dari media sosial atau televisi yang mengerikan. Hal ini hanya akan membuat trauma psikis tersendiri bagi anak.

● Bantu anak mengungkapkan perasaannya

Sebagian anak mungkin akan merasa marah. Tugas orang tua adalah mengarahkan rasa marah tersebut kepada hal yang positif. Ajak anak untuk tidak berasumsi atau berprasangka terhadap suatu golongan. Anda bisa mengatakan, “Wajar bila kamu merasa marah, tapi harus ingat bahwa saat kita marah kita tidak boleh menyakiti orang lain, ya.”

● Ajarkan anak apa yang harus dilakukan saat gawat darurat

Jangan lupa mengajarkan anak apa yang harus dilakukannya bila terjadi kejadian gawat darurat. Bantu ia mengingat nomor telepon orang tua atau keluarga terdekat yang dapat dihubungi.

● Jalani kegiatan keluarga seperti biasa

Ajarkan anak bahwa rasa takut tidak boleh menghentikan kegiatan keseharian keluarga. Tetap jalani aktivitas seperti biasa, seraya tetap waspada.

● Biasakan berdiskusi tentang kondisi yang sedang ramai diberitakan

Bangun kebiasaan untuk berdiskusi mengenai kondisi sosial yang terjadi di sekitar rumah, atau yang sedang ramai dibicarakan di media sosial maupun media elektronik. Tak hanya penting untuk wawasan, tetapi juga membantu anak untuk lebih peduli terhadap lingkungan. 

Isu terorisme memang merupakan isu sensitif dan menimbulkan ketakutan bagi anak. Namun, bila orang tua mampu menjelaskan dengan sederhana, bijaksana, serta tetap tenang, anak akan mengerti dan tidak dikuasai oleh rasa takut.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar