Sukses

Tantrum Frustasi atau Tantrum Manipulatif, Apa Bedanya?

Kadang orang tua dibuat bingung dengan tantrum anak, apakah itu tantrum frustasi atau tantrum manipulatif. Ini cara membedakannya.

Klikdokter.com, Jakarta Pernahkah Anda mendapati anak meluapkan emosinya yang meledak-ledak dan tak terkontrol? Ekspresi yang diperlihatkannya biasanya melalui tangisan, menjerit atau berteriak, berguling di lantai, menendang, memukul, dan sebagainya. Terkadang anak bahkan juga mengalami muntah, buang air kecil, menggertakkan gigi, bahkan menahan napasnya. Kondisi ini dikenal sebagai tantrum (tantrum frustasi atau temper tantrum). Selain temper tantrum dikenal juga tantrum manipulatif. Apa perbedaannya?

Tantrum, bagian tahapan perkembangan anak

Tantrum merupakan bagian dari tahap perkembangan anak, yang ditandai dengan ledakan emosi. Biasanya, ketika anak berusia 2 tahun, ia tengah mengenali dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Anak pun mulai memiliki keinginannya sendiri, serta dapat mengidentifikasi apa yang ia sukai atau tidak disukainya. Selain itu, bagi anak semua hal ini berpusat pada dirinya sehingga menyebabkan anak kerap memaksakan kehendaknya.

Gejala tantrum dapat muncul pada usia 15 bulan. Namun, tantrum lebih sering ditemukan pada anak berusia 2-4 tahun. Menurut dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid, dari KlikDokter, tantrum frustasi atau temper tantrum merupakan hal yang biasa terjadi pada anak-anak, terutama anak yang berusia 1-4 tahun.

Kondisi tersebut dikarenakan anak masih belajar cara untuk berkomunikasi dengan efektif. Karena anak masih belum mampu mengungkapkan keinginan dengan kata-kata yang dapat dimengerti orang-orang di sekitarnya.

Ditambahkan oleh dr. Nitish Basant Adnani, BMedSc, dari KlikDokter, tantrum dapat terjadi apabila anak merasa lelah, lapar, sakit, atau tidak nyaman yang bukan tak mungkin dapat menyebabkan episode tantrum lebih berat atau sering. Anak juga menunjukkan tantrum ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Seiring pertambangan usianya, anak perlu belajar untuk mengatasi rasa frustrasi tersebut.

1 dari 2 halaman

Bedanya dengan tantrum manipulatif

Tantrum manipulatif berbeda dengan tantrum frustasi. Ini contohnya: pada suatu Minggu, Anda mengajak anak pergi ke mal. Saat mengunjungi toko mainan, anak tiba-tiba meraung-raung ketika Anda menolak membelikannya mainan yang ia inginkan. Alasan Anda tidak ingin membelikannya karena anak sudah memiliki banyak mainan yang serupa. Karena tangisan anak semakin kencang hingga ia berguling-guling di lantai, Anda pun dibuat menyerah dan akhirnya membelikannya.

Kondisi di atas merupakan tantrum manipulatif pada anak, yang digunakan anak untuk membuat orang tua dewasa di sekitarnya—khususnya orang tua—menuruti keinginannya. Kebanyakan tantrum manipulatif muncul ketika anak mendapatkan penolakan, sehingga emosi anak mulai meledak hingga orang tua mengubah pendiriannya.

Perlu Anda ketahui pada dasarnya anak adalah pengamat yang baik. Anak belajar dengan mengamati lingkungan di sekitarnya. Lewat proses ini, anak belajar banyak hal. Salah satunya adalah emosi kedua orang tuanya.

Anak bisa mengetahui bagaimana reaksi orang tuanya ketika ia merengek meminta sesuatu. Ia tahu bahwa rengekan tersebut akan membuat orang tuanya menyerah dan menuruti keinginannya. “Kelemahan” orang tua inilah yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai “senjata” anak untuk memanipulasi orang tua agar mengabulkan keinginannya. Inilah yang disebut sebagai tantrum manipulatif ini.

Jadi di sinilah letak perbedaan tantrum biasa (tantrum frustasi atau temper tantrum) dan tantrum manipulatif. Tantrum frustasi merupakan ledakan emosi pada anak karena anak masih belum mampu mengungkapkan keinginan dengan kata-kata yang dapat dimengerti orang-orang di sekitarnya, yang dapat dipicu oleh rasa lelah, lapar, sakit, atau ketidaknyamanan. Sedangkan tantrum manipulatif merupakan ledakan emosi yang dilakukan anak untuk membuat orang dewasa di sekitarnya mengikuti segala keinginannya.

Mengatasi anak dengan tantrum manipulatif

Menurut dr. Nitish, hal pertama yang dapat dilakukan orang tua adalah tetap tenang dan tidak panik. Baik ayah maupun ibu jangan sampai terbawa emosi, apalagi sampai memarahi atau memukul anak.

“Gunakan nada bicara yang tenang namun tegas untuk menyampaikan kepada anak bahwa perilaku yang dilakukannya tidaklah benar. Kemudian beri tahu alasan mengapa keinginannya tersebut tidak dapat dipenuhi,” dr. Nitish menganjurkan. 

Apabila tantrum terus berlangsung, orang tua harus tetap tenang dan tidak menyerah. Tetap awasi anak dan pastikan  bahwa anak tidak melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain.

“Salah satu hal yang penting untuk dijelaskan kepada anak adalah, walaupun orang tua tidak memenuhi keinginannya, ini bukan berarti bahwa orang tua tidak sayang kepadanya. Setelah ia sudah terlihat tenang, peluklah anak dan ajak ia mendiskusikan hal yang telah terjadi. Berikan penjelasan bahwa alasan Anda melakukan hal tersebut adalah murni karena peduli dan ingin yang terbaik untuknya,” terang dr. Nitish.

Kunci penting untuk mengatasi anak dengan tantrum manipulatif adalah konsisten dan disiplin. Jika kondisi ini semakin parah, ditakutkan anak akan memanipulasi orang tuanya sekadar untuk memperoleh rasa senang dan puas. Ini bukanlah fase perkembangan yang normal karena tidak semua anak berperilaku demikian. Jika kondisi anak semakin parah dan membuat orang tua kewalahan, tak ada salahnya meminta bantuan profesional seperti psikolog anak.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar