Sukses

Kenali 5 Fase Tantrum pada Anak

Anak yang tantrum bisa menjadi tantangan tersendiri untuk orang tua. Apa yang dapat dilakukan saat ini terjadi?

Klikdokter.com, Jakarta Tantrum merupakan salah satu hal yang dapat dialami oleh anak-anak pada usia 1 hingga 3 tahun. Hal ini dapat ditunjukkan oleh anak dengan berbagai cara, dari berteriak, menangis, bahkan memukul atau menendang. Penyebab dari terjadinya tantrum dapat bervariasi, misalnya akibat anak merasa lelah, lapar, atau tidak mendapatkan hal yang diinginkannya.

Terkadang tantrum dapat mereda setelah beberapa saat. Terlepas dari durasinya, terdapat beberapa fase dari tantrum yang umumnya dialami oleh anak. Berikut adalah lima fase atau tahapan terjadinya tantrum:

1. Penyangkalan

Tantrum pada anak umumnya diawali dengan suatu penyangkalan. Misalnya, anak mengabaikan petunjuk dari orang tua, atau terpaku dengan tatapan terkejut dan tidak percaya bahwa permintaannya tidak dikabulkan. Pada tahap ini, anak tidak akan mendengarkan perintah orang tua.

2. Kemarahan

Setelah tahap penyangkalan, hal yang biasanya terjadi saat orang tua mencoba mengedukasi anak mengenai perilakunya adalah kemarahan. Hal ini dapat ditandai dengan melempar barang-barang ke sekeliling ruangan, berteriak, dan memukul atau menendang. Bahkan, terkadang anak dapat berguling-guling di lantai untuk menunjukkan rasa emosinya.

Pada fase ini, orang tua disarankan untuk tetap tenang dan menjaga agar tidak terbawa emosi. Selain itu, juga penting untuk memastikan bahwa anak tidak melukai dirinya sendiri maupun orang lain.

3. Tawar-menawar

Dalam sebagian kejadian tantrum, setelah anak menunjukkan amarahnya, mereka akan masuk ke tahap tawar-menawar. Pada fase ini, yang terutama lebih sering diamati pada anak yang sudah dapat berbicara fasih, umumnya anak menawarkan untuk melakukan suatu hal yang baik bila mereka mendapatkan hal yang mereka inginkan.

Bila orang tua tidak menyetujui, mereka akan mencoba penawaran lainnya, hingga akhirnya menyadari bahwa tawar-menawar tersebut tidak dapat berhasil.

4. Kesedihan

Kesedihan merupakan fase yang ditandai dengan tangisan anak. Pada fase ini, anak akan terlihat sedih karena keinginannya tidak dikabulkan oleh orang tuanya. 

5. Penerimaan

Fase terakhir adalah penerimaan. Pada tahap ini, tantrum akan mulai mereda dan anak akan menjadi lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Orang tua dapat memanfaatkan fase ini untuk menjelaskan kepada anak dengan perlahan mengapa keinginannya tidak dikabulkan, dan bahwa orang tua hanya ingin yang terbaik bagi anaknya.

Ketika anak tengah mengalami tantrum, salah satu hal yang penting untuk diberitahukan kepadanya adalah bahwa walaupun orang tua tidak memenuhi keinginannya, hal ini bukan berarti orang tua tidak sayang kepadanya.

Setelah anak sudah mulai tenang, peluklah dirinya dan ajak ia mendiskusikan apa yang telah terjadi. Orang tua dapat memberikan penjelasan kepada si Kecil bahwa mereka melakukan hal ini karena peduli dan menginginkan yang terbaik baginya.

Sebagai orang tua, kenali juga pemicu tantrum pada anak serta cara menyikapinya. Bila hal ini diterapkan dengan baik, tantrum juga dapat menjadi pembelajaran bagi anak agar makin dewasa dan peka terhadap lingkungan di sekitarnya.

Komunikasikan juga cara menyikapi tantrum anak kepada orang-orang di sekitar, seperti kakek, nenek, om, tante, dan pengasuh. Hal ini penting agar mereka menangani tantrum dengan cara yang sama seperti orang tua. Dengan demikian, anak bisa belajar mengekspresikan emosinya dengan lebih baik, terutama saat keinginannya tidak dapat terpenuhi.

[RS/ RVS]

1 Komentar