Sukses

Waspada, Gunung Merapi Mengalami Letusan Freatik!

Gunung Merapi meletus lagi pagi ini. Meski masih dalam status normal, warga diimbau untuk tetap waspada. Simak selengkapnya.

Klikdokter.com, Jakarta Gunung Merapi yang terletak di Kabupaten Klaten, Magelang, Boyolali dan Sleman mengalami letusan freatik pada Jumat pagi (11/5). Letusan disertai suara gemuruh dengan tekanan sedang hingga kuat dan tinggi kolom 5.500 meter dari puncak kawah, melontarkan abu vulkanik, pasir dan material piroklatik.

Letusan freatik terjadi akibat dorongan tekanan uap air karena kontak massa air dengan panas di bawah kawah Gunung Merapi. Jenis letusan ini tidak berbahaya dan dapat terjadi kapan saja pada gunung api aktif. Letusan tersebut datang secara tiba-tiba dan hanya berlangsung sesaat.

Status Gunung Merapi

Status Gunung Merapi hingga saat ini masih tetap normal (Level I), dengan radius berbahaya adalah 3 kilometer dari puncak kawah. PVMBG tidak menaikkan status Gunung Merapi dan masih terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik.

Berdasarkan rilis yang diterima KlikDokter, masyarakat diimbau tetap tenang. Belum ada laporan korban jiwa, dan sampai saat ini BPBD berserta dikabarkan masih melakukan pemantauan.

“BPBD Sleman telah menginstruksikan masyarakat yang tinggal dalam radius 5 km seperti daerah Kinahrejo sudah diinstruksikan untuk evakuasi ke bawah di barak pengungsi. Masyarakat merespons dengan evakuasi mandiri ke tempat yang aman,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengutip dari pernyataan resmi yang telah tersebar.

Lebih lanjut, Sutopo turut mengimbau pendaki Gunung Merapi agar mengikuti rekomendasi dan tidak memaksakan diri mendekati puncak kawah. Berdasarkan laporan sementara, terdapat sekitar 120 orang yang mendaki dan mendekati Pasar Bubrah. Kondisinya semua selamat.

Penyakit akibat letusan Gunung Merapi

Hujan abu diperkirakan turun di sekitar Gunung Merapi, khususnya di bagian selatan dan tergantung dari arah angin. Dilaporkan hujan abu vulkanik terjadi di Tugu Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Posko BNPB terus berkoordinasi dengan BPPTKG, PVMBG dan BPBD.

BPBD telah mendistribusikan masker sebagai alat pengaman pernapasan untuk mengantisipasi hujan abu vulkanik yang terjadi saat ini. Abu tersebut konon dapat menimbulkan berbagai macam penyakit terkait pernapasan, salah satunya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Pasalnya, gunung meletus biasanya akan mengeluarkan hamparan debu yang dapat menyebabkan kondisi tersebut jika terhirup manusia.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, selain ISPA, hujan abu vulkanik juga menyebabkan gangguan lain seperti:

1. Penyakit kulit

Meski jarang, abu vulkanik akibat letusan gunung juga dapat menyebabkan terjadinya penyakit kulit. Ini karena abu tersebut bersifat asam. Beberapa kondisi yang paling sering terjadi akibat paparan abu vulkanik pada kulit adalah iritasi dan ruam kemerahan.

2. Gangguan pernapasan lain

Partikel-partikel kecil yang ada pada abu vulkanik juga dapat mengancam kesehatan paru-paru. Oleh karena itu, Anda juga dapat terserang asma, khususnya jika terlalu sering melakukan aktivitas di luar ruangan tanpa menggunakan masker. Komplikasi yang dapat timbul akibat keadaan tersebut adalah radang paru-paru hingga kematian.

3. Iritasi mata

Butiran abu vulkanik yang beterbangan dapat mengenai mata dan menyebabkan rusaknya korena mata. Beberapa keluhan yang bisa terjadi akibat kondisi ini adalah mata sakit, perih, gatal atau kemerahan, mata bengkak, mata terasa terbakar dan menjadi sensitif terhadap cahaya.

Letusan Gunung Merapi pagi tadi memang tergolong tidak berbahaya. Namun Anda, apalagi jika tinggal di sekitar lokasi kejadian, tetap harus waspada dan menjaga kesehatan. Gunakan masker dan pelindung lainnya, serta pantau terus kondisi Gunung Merapi guna mengantisipasi adanya letusan lanjutan.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar