Sukses

Peneliti Temukan 44 Gen yang Bisa Tingkatkan Risiko Depresi

Studi baru-baru ini menemukan 44 varian gen yang dinilai dapat meningkatkan risiko depresi.

Klikdokter.com, Jakarta Sejumlah ilmuwan dari berbagai negara baru-baru ini mengungkap temuan penting soal depresi. Mereka telah mengidentifikasi 44 varian gen yang dinilai bisa meningkatkan risiko depresi, dan tiap manusia membawa setidaknya beberapa varian ini. Artinya, tak ada seorang pun yang bisa lari dari risiko depresi.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Genetics pada April 2018 tersebut melakukan analisis berdasarkan DNA lebih dari 135 ribu orang dengan kondisi depresi dan sekitar 350.000 orang sehat.

Tim menemukan bahwa setiap orang membawa separuh dari 44 faktor risiko genetik terkait depresi. Ini juga menjelaskan mengapa tidak semua orang yang diberikan obat antidepresan merasa kondisinya membaik.

Dr. Gerome Breen dari Institute of Psychiatry, Psychology & Neuroscience di King's College London, mengatakan bahwa penelitian ini kian mendekatkan fakta tentang faktor genetika yang memengaruhi depresi.

"Varian genetik baru yang ditemukan, memiliki potensi untuk merevitalisasi pengobatan depresi dengan membuka jalan pada terapi yang lebih baik,” ujarnya, dikutip dari Newsweek.

Sebuah penelitian yang lebih besar sekarang diperlukan untuk mengungkap lebih banyak tentang dasar genetik depresi, dan untuk memahami bagaimana tekanan lingkungan dapat meningkatkan risiko depresi. Para peneliti menganggap bahwa studi ini hanya sebagai langkah pertama untuk segala kemungkinan di masa depan.

Meminimalkan efek depresi dalam diri

Depresi merupakan gangguan mental yang sangat serius. Gejalanya bisa memengaruhi perasaan dan pikiran Anda. Kondisi ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti makan, tidur, dan bekerja.

Dilansir National Institute of Mental Health, jika Anda mengalami tanda dan gejala berikut sepanjang hari – atau hampir setiap hari – selama dua minggu, Anda mungkin sedang mengalami depresi:

  • Kesedihan dan kecemasan yang berlangsung terus-menerus
  • Merasa kosong
  • Merasa bersalah dan tidak berharga
  • Kehilangan minat terhadap apa pun, termasuk hobi
  • Lemas
  • Sulit berkonsentrasi, mengingat, atau mengambil keputusan
  • Sulit tidur, atau malah terlalu banyak tidur
  • Turun berat badan, atau turun berat badan
  • Berpikir tentang kematian atau bunuh diri
  • Mencoba bunuh diri
  • Mengalami nyeri, sakit kepala, kram, dan gangguan pencernaan tanpa sebab yang jelas dan/atau tak menghilang dengan obat-obatan

Tak semua orang dengan depresi mengalami semua gejala tersebut. Beberapa orang hanya mengalami sedikit gejala, sementara yang lain mengalami banyak gejala. Selain itu, keparahan dan frekuensi gejala serta seberapa lamanya gejala, bergantung pada masing-masing orang.

Sesuai anjuran dr. Ellen, butuh diagnosis secara langsung dari dokter spesialis psikiatri agar lebih akurat.

“Dokter spesialis harus menilai langsung mood dan efek dalam diri Anda. Adapun untuk pengobatan depresi berkisar dari obat-obatan dan terapi berupa konseling dengan dokter spesialis psikiatri, tergantung berat tidaknya depresi,” kata dr. Ellen Theodora dari KlikDokter.

Lebih lanjut, dr. Ellen menjelaskan bahwa pengobatan pasien pengidap depresi harus tepat pada sasaran, yakni keamanan terjamin, pemeriksaan diagnostik secara lengkap, dan rencana pengobatan yang tersusun secara menyeluruh.

Penanganan ini dilakukan bukan hanya mengatasi gejala saja, tetapi juga menangani penyebab dari depresi itu sendiri. Untuk lamanya penggunaan obat antidepresan bergantung pada keparahan kondisi pasien.

[RS/ RVS]

1 Komentar