Sukses

Mudah Cemas Bisa Picu Demensia, Ini Sebabnya

Menurut sebuah studi, mudah cemas – dalam taraf sedang hingga berat – terkait dengan demensia. Ini penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Mudah cemas kerap diartikan sebagai anxiety disorder atau gangguan kecemasan. Kondisi ini menandakan kejiwaan Anda terganggu. Kecemasan memang wajar, tetapi bila terjadi terus-menerus bahkan tanpa sebab, ini mampu menandakan bahwa ada yang salah dengan diri Anda. Dan jika tak ditangani, Anda dapat terserang gangguan kesehatan lain, salah satunya demensia.

Menurut dr. Fiona Amelia dari KlikDokter, ketika Anda cemas, tubuh akan mengeluarkan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Hormon-hormon ini menimbulkan gejala fisik kecemasan, seperti peningkatan laju detak jantung dan berkeringat. Gejala lain mencakup jantung berdebar-debar dan menyentak, bernapas lebih cepat, irama jantung tidak teratur, nyeri dada, sakit kepala, berkeringat berlebihan, dsb.

Kondisi di atas wajar terjadi dalam rentang waktu yang normal, misalnya ketika menghadapi ujian atau hal-hal lain yang membuat cemas. Namun, perlu diketahui bahwa jika kecemasan terus hinggap dalam waktu yang lama, maka tak ada salahnya Anda memeriksakan diri ke dokter.

Sebuah penelitian bahkan menyebut bahwa mudah cemas dapat berujung pada rentannya diri Anda terpicu demensia.

Kaitan mudah cemas dengan demensia

Berdasarkan studi yang dilansir Newsweek, tingkat cemas dalam taraf sedang hingga berat berhubungan dengan demensia. Pada studi sebelumnya, para peneliti dari University College London dan University of Southampton menemukan bahwa penyakit mental mungkin terkait dengan demensia pada mereka yang berusia di atas 65 tahun.

Untuk menyelidiki hipotesis tersebut, tim peneliti menganalisis data para peserta yang melaporkan mengalami kecemasan antara usia 30 dan 65 tahun. Penelitian ini melibatkan hampir 30 ribu partisipan.

Kecemasan sedang hingga berat ditemukan terkait dengan timbulnya demensia pada kemudian hari. Sementara itu, merasa cemas dalam situasi yang tepat adalah normal.

Dari situ, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal BMJ Open ini menaruh hasil bahwa kecemasan akibat stres membuat sel-sel otak menua lebih cepat dan memicu perubahan degeneratif pada sistem saraf pusat.

Kondisi di atas nyatanya bisa membuat seseorang lebih rentan untuk mengalami demensia pada masa mendatang. Meski begitu, penelitian ini masih dikembangkan karena belum adanya faktor konkret yang ditemukan.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami apakah pengobatan untuk kecemasan, termasuk obat-obatan, terapi berbicara, dan pendekatan mindfulness (kesadaran) dan praktik meditasi yang terbukti mengurangi kecemasan pada usia paruh baya, dapat mengurangi risiko demensia.

Mencegah demensia di usia tua

Tim peneliti berusaha memahami apakah kecemasan sedang hingga parah adalah tanda awal dari demensia, atau apakah itu hanya faktor risiko belaka. Perlu diketahui bahwa demensia adalah penyakit yang ditandai dengan penurunan kognitif dan mampu berujung pada Alzheimer.

Orang dengan demensia biasanya menunjukkan tanda-tanda yang signifikan, khususnya di atas usia 60 tahun. Penyebabnya juga masih belum diketahui, meskipun para ilmuwan percaya bahwa usia, genetika, pencapaian pendidikan, diet, dan lingkungan seseorang dapat berperan akan hal ini.

Untuk mencegah demensia di usia tua, gaya hidup sehat harus dilakukan dengan konsisten. Misalnya dengan berolahraga rutin, menjaga pola makan sehat, tidur yang cukup, dan aktif secara sosial.

Mudah cemas disebut rentan memicu demensia. Namun, bukan berarti Anda tidak dapat melakukan apa pun untuk mencegahnya. Jika Anda telah didiagnosis dengan gangguan kecemasan, konsultasikan dengan dokter Anda mengenai kiat-kiat untuk mencegah demensia.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar