Sukses

Inilah yang Terjadi pada Rahim Usai Aborsi

Setelah aborsi, rahim memerlukan waktu untuk pulih sempurna. Simak selengkapnya.

Klikdokter.com, Jakarta Bagi setiap wanita yang pernah merasakannya, aborsi bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Proses ini bisa jadi sangat membekas, baik secara fisik maupun psikis.

Mengenal aborsi lebih dekat

Abortus atau aborsi didefinisikan sebagai kematian janin di trimester pertama kehamilan, yaitu sebelum usia 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.  Aborsi kini menjadi masalah kehamilan yang cukup sering ditemui.

Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan, tiga dari sepuluh wanita Amerika pernah mengalami aborsi sebelum usia 45 tahun. Di Indonesia, diperkirakan sekitar 15-20% kehamilan berujung pada keadaan mengerikan tersebut.

Aborsi dapat terjadi secara spontan (spontaneous abortion) atau melalui induksi. Aborsi yang diinduksi dapat dilakukan menggunakan obat (medical abortion) dan tindakan pembedahan (surgical abortion). Pemilihan metode aborsi tersebut disesuaikan dengan usia dan kondisi kehamilan pasien.

Waspada penyebab aborsi

Terdapat banyak faktor yang memengaruhi kerentanan seorang wanita untuk mengalami keguguran yang berujung aborsi. Beberapa di antaranya adalah:

  • Infeksi yang aktif, seperti infeksi virus Rubella, CMV, malaria, toksoplasma, HIV, dan infeksi vagina seperti bacterial vaginosis.
  • Penyakit autoimun, seperti sindrom antifosfolipid dan penyakit lupus.
  • Penyakit kronik yang telah dialami ibu sebelumnya, seperti sindrom polikistik ovarium, diabetes melitus, tekanan darah tinggi atau hipertensi, obesitas dan kelainan hormon tiroid.
  • Kelainan genetik pada janin. Beberapa jenis kelainan kromosom dapat menyebabkan abortus sebelum janin sempat berkembang, seperti kromosom tunggal 45+X dan berbagai jenis trisomi lainnya.
  • Berbagai faktor eksternal, seperti merokok, alkohol, kokain dan narkotika lainnya.

Yang terjadi setelah aborsi

Secara umum, seorang wanita akan mengalami kram perut setelah aborsi. Hal ini karena uterus (rahim) yang berkontraksi sebagai usaha pengeluaran janin maupun efek dari penggunaan obat saat melakukan aborsi.

Selain itu, dinding rahim juga akan mengalami proses peradangan (inflamasi). Pada beberapa kondisi, luka akibat proses aborsi dapat menyebabkan timbulnya bekas luka (jaringan parut) di rahim.

Usai aborsi, seorang wanita masih dapat mengalami perdarahan dari rahim dan vagina meskipun perdarahan tidak sebanyak sebelum aborsi terjadi. Perdarahan tersebut merupakan bagian dari usaha tubuh untuk mengeluarkan sisa jaringan dan meluruhkan dinding rahim yang sebelumnya telah menebal saat kehamilan.

Sementara itu, beberapa keluhan lain di tubuh usai aborsi adalah mual dan muntah, rasa lelah, serta nyeri dan kencang di payudara. Keluhan-keluhan tersebut disebabkan karena lonjakan hormon yang sempat terjadi saat kehamilan.

Umumnya, keluhan-keluhan yang terjadi setelah aborsi akan berkurang seiring berjalannya waktu. Perdarahan akan berkurang dan berhenti setelah dua minggu, sementara keluhan lain biasanya akan berkurang dua hingga empat minggu kemudian.

Namun, bila mengalami demam, keluar cairan putih berbau dari vagina, perdarahan yang semakin banyak hingga lebih dari satu bulan, atau nyeri perut yang sangat hebat, pasien dianjurkan untuk segera berkonsultasi ke dokter. Hal tersebut bisa menjadi pertanda adanya komplikasi setelah aborsi.

Kapan boleh hamil setelah aborsi?

Masih banyak pro dan kontra mengenai waktu terbaik untuk merencanakan kehamilan setelah aborsi. Namun Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa tiap wanita yang mengalami aborsi harus menunggu setidaknya 6 hingga 18 bulan untuk dapat hamil kembali.

Waktu tersebut diperlukan agar rahim dapat pulih kembali setelah mengalami cedera akibat aborsi. Sebelum hamil, seorang wanita harus berkonsultasi dengan dokter kebidanan agar kehamilan dapat berlangsung dengan aman dan tidak lagi mengalami abortus di kemudian hari.

Itulah sederet peristiwa yang terjadi setelah aborsi. Jangan biarkan diri Anda mengalami keadaan tersebut. Tetap waspada, tetap jaga kesehatan Anda dan keluarga tercinta. Salam sehat!

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar