Sukses

7 Fakta di Balik Mitos Seputar Gangguan Jiwa

Gangguan jiwa erat kaitannya dengan berbagai mitos. Fakta berikut akan mengungkapkan kebenarannya.

Klikdokter.com, Jakarta Penyakit tidak hanya dapat menyerang tubuh, tetapi juga bisa mengincar jiwa atau mental seseorang. Perbedaannya, bila gejala penyakit fisik relatif mudah dikenali, orang gila atau yang memiliki gangguan jiwa lebih sulit dideteksi.

Beberapa jenis gangguan jiwa seperti depresi atau psikotik dapat dikenali bila gejala utamanya terlihat dan membuatnya menjadi populer di masyarakat. Namun, sebenarnya ada banyak lagi jenis gangguan jiwa dan sebagian besar timbul dengan gejala yang tidak familiar.

Selain gejalanya yang sulit dipahami, gangguan jiwa juga identik dengan berbagai mitos dan stigma buruk. Berikut adalah mitos yang sering ditemukan di masyarakat mengenai gangguan mental dan fakta yang sebenarnya.

1. Mitos: Gangguan jiwa adalah kondisi yang jarang terjadi

Fakta: Itu jelas keliru. Satu dari lima orang Amerika mengalami masalah kesehatan jiwa. Satu dari sepuluh orang dewasa muda pun mengalami periode depresi. Selain itu, satu dari 25 orang Amerika terdiagnosis gangguan jiwa berat seperti skizofrenia atau gangguan bipolar.

Kejadian depresi dan bunuh diri bahkan semakin tahun terus bertambah. Data di atas menunjukkan bahwa gangguan jiwa sangat sering terjadi dan bisa dialami oleh siapapun.

2. Mitos: Pola pengasuhan yang buruk menyebabkan gangguan jiwa

Fakta: Tidak ada satu faktor yang benar-benar menjadi penyebab langsung dari gangguan jiwa. Gangguan jiwa adalah suatu kondisi yang kompleks yang disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari genetik, biologi, lingkungan, pengalaman hidup, dan sebagainya.

3. Mitos: Anak-anak tidak akan mengalami gangguan jiwa

Fakta: Studi menunjukkan bahwa satu dari lima anak usia 13 hingga 18 tahun mengalami gangguan jiwa. Sebagian besar mulai menunjukkan gejala di usia 14 tahun. Sayangnya, mitos di atas membuat gangguan mental pada anak dan remaja luput dari diagnosis dini serta tidak mendapat penanganan yang tepat dan optimal.

4. Mitos: Gangguan jiwa itu tidak nyata, penderitanya hanya berpura-pura

Fakta: Seorang penderita skizofrenia yang mengalami halusinasi auditorik akan mengatakan bahwa ia benar-benar mendengar suara-suara tertentu. Sekalipun bagi orang di sekitarnya hal itu terdengar tidak masuk akal, bukan berarti penderitanya sedang berpura-pura.

Bagi mereka, suara tersebut terdengar sangat nyata. Para pakar meyakini bahwa gejala tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah. Itu sebabnya, sampai saat ini, berbagai penelitian terus dilakukan untuk mengungkapkan kondisi tersebut.

5. Mitos: Seseorang yang pribadinya lemah akan mengalami gangguan jiwa

Fakta: Gangguan jiwa tidak ada hubungannya dengan kelemahan karakter atau pribadi seseorang. Pekerjaan penuh tantangan, masalah dalam keluarga, pengalaman menjadi korban kekerasan, memang bisa membuat seseorang lebih rentan, namun tidak berarti pasti mengalami gangguan jiwa. Pengalaman hidup hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan jiwa. Ingat, siapapun dapat mengalami gangguan jiwa.

6. Mitos: Penderita gangguan jiwa berbahaya karena berisiko melakukan kekerasan

Fakta: Penderita gangguan jiwa memang dapat melakukan hal tidak terduga seperti kekerasan. Namun tidak berarti gangguan mental pasti akan melakukan hal tersebut. Faktanya, penderita gangguan jiwa justru lebih sering menjadi korban kekerasan. Data menyebutkan bahwa orang dengan gangguan jiwa berisiko 10 kali lebih besar untuk menjadi korban kekerasan di masyarakat.

7. Mitos: Gangguan jiwa tidak dapat disembuhkan

Fakta: Pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar. Saat ini sudah tersedia banyak metode terapi untuk menangani gangguan jiwa. Gejala-gejala gangguan jiwa dapat ditekan dan penderitanya tetap dapat beraktivitas sebagaimana orang pada umumnya.

Jangan sampai Anda tertipu oleh mitos-mitos yang berkembang di masyarakat seperti di atas, dan mengucilkan penderita gangguan jiwa serta keluarganya. Karena orang gila atau yang memiliki gangguan kesehatan mental juga memiliki hak yang sama untuk diterima di masyarakat.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar