Sukses

Remaja Diabetes Rentan Haid Tidak Teratur?

Diabetes dapat menyerang usia berapa pun, termasuk remaja. Tapi benarkah diabetes pada remaja rentan menyebabkan haid tak teratur?

Klikdokter.com, Jakarta Diabetes memang identik sering dialami oleh mereka yang menginjak usia tua dan memiliki faktor risiko tersebut. Namun, jangan biarkan ini mengecoh Anda karena diabetes dapat menyerang segala usia, tak terkecuali remaja. Pada remaja putri, disebutkan bahwa diabetes dapat membuat haid tidak teratur. Benarkah faktanya demikian?

Menurut dr. Astrid Wulan Kusumoastuti dari KlikDokter, gejala diabetes yang umum ditemui adalah banyak makan, banyak minum, banyak buang air kecil, dan penurunan berat badan. Meski demikian, pada usia remaja gejala-gejala tersebut sering tidak muncul, tapi lebih ke peningkatan gula darah yang terbilang drastis.

Lebih lanjut, dr. Astrid menjelaskan bahwa faktor pemicu diabetes pada remaja paling sering terjadi karena ada riwayat dalam keluarga atau diturunkan dari orang tua. Jika orang tua punya diabetes, anak biasanya punya risiko sekitar 30 persen untuk mengalaminya juga. Oleh karena itu, khususnya jika diabetes ada dalam riwayat keluarga, lebih baik melakukan pemeriksaan sejak dini.

Saat diabetes menyerang usia remaja, maka akan terjadi kondisi atau gejala spesifik yang dialami oleh orang tersebut. Dilansir dari laman WebMD, remaja perempuan yang memiliki diabetes identik dengan siklus haid tidak teratur. Bagaimana hubungan antara keduanya?

Hubungan antara diabetes dan haid tak teratur pada remaja perempuan

Sebuah studi yang dilakukan oleh School of Medicine di University of Colorado, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa remaja perempuan yang mengalami diabetes rentan terhadap gangguan metabolisme dan siklus haid yang tidak teratur.

Data studi tersebut diambil dari studi besar perawatan diabetes tipe 2 pada usia muda, khususnya remaja perempuan. Jumlah partisipan mencapai 190 orang dan tidak satu pun dari mereka menggunakan alat kontrasepsi hormonal.

Perlu dijelaskan bahwa definisi untuk periode haid tidak teratur adalah memiliki tiga atau lebih sedikit, periode haid dalam enam bulan terakhir. Hampir seluruh partisipan penelitian berusia 14 tahun dan telah menderita diabetes tipe 2 sejak 5-6 tahun sebelumnya.

Menurut Megan Kelsey, salah satu peneliti dalam studi ini, siklus haid yang menyimpang dari normal dapat menyebabkan perdarahan berat. Ia juga menyebutkan bahwa kondisi ini dapat menimbulkan rasa kram (perut) tak tertahankan.

“Ketidakteraturan menstruasi memengaruhi sekitar satu dari lima anak perempuan dengan diabetes tipe 2. Mereka bakal memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur meskipun mereka semua menerima perawatan untuk diabetes tipe 2 secara mumpuni,” terang Megan.

Lewat studi ini, ditemukan bahwa 39 remaja perempuan alias 20 persen memiliki periode haid yang tidak teratur. Mereka yang mengalami kondisi ini lebih mungkin menderita kelebihan berat badan serta memiliki tingkat hormon seks testosteron yang lebih tinggi. Lebih lanjut lagi, Megan juga mencatat bahwa sekalipun remaja perempuan ini melakukan perubahan gaya hidup atau mengonsumsi obat diabetes lain, haid yang tidak teratur tetap akan terjadi. Salah satu cara yang katanya dapat meminimalkan dampak buruk ini adalah terapi hormon.

Mengatasi diabetes sejak usia muda

Risiko diabetes dapat mengintai siapa saja, baik usia tua maupun muda. Oleh karena itu, Anda disarankan untuk mencegah atau meminimalkan dampak yang ada sedini mungkin.

“Saat usia masih muda, lakukan pencegahan penyakit diabetes. Faktor-faktor risiko diabetes bisa diatasi dengan menerapkan pola hidup lebih sehat, lebih banyak makan sayur dan buah, olahraga secara teratur minimal tiga kali dalam seminggu selama 30 menit setiap sesinya, tidak merokok atau minum minuman beralkohol, dan menjaga berat badan ideal,” tutur dr. Astrid.

Meski remaja perempuan dengan diabetes rentan mengalami haid tidak teratur, tapi penderita diabetes wanita lainnya juga dapat mengalami hal serupa tergantung pada kondisinya masing-masing. Untuk mencegahnya, jaga kadar gula darah sejak dini dan konsultasikan ke dokter untuk penanganan yang tepat.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar