Sukses

Tips agar Terhindar Dari Peredaran Obat Palsu

Hati-hati, saat ini peredaran obat palsu semakin marak. Jangan sampai Anda menjadi korbannya.

Klikdokter.com, Jakarta Di zaman yang serba melek teknologi seperti sekarang, semua bisa didapatkan hanya dengan sekali ‘klik’. Kesibukan masyarakat urban menuntut segala sesuatunya serba praktis dan sering mengandalkan transaksi online, termasuk untuk membeli obat. Perdagangan bebas di dunia maya ini kerap menjadi media untuk peredaran barang-barang palsu dengan iming-iming harga murah. Akibatnya, peredaran obat palsu pun semakin rentan terjadi.

Ditemui di bilangan Semanggi, Jakarta Selatan pada Senin (30/4) lalu, Semuel Abrijani Pangerapan, B.sc, selaku Dirjen Aplikasi Informatika Kementrian Komunikasi dan Informasi RI mengatakan bahwa peredaran obat palsu saat ini cukup mengkhawatirkan.

“Hal ini sangat berbahaya, terutama hubungannya dengan kesehatan dan keselamatan individu,” jelasnya saat hadir di acara Diskusi Tantangan & Solusi Mengatasi Peredaran Barang Palsu dalam E-Commerce.

Berbagai kasus peredaran obat palu pun telah masuk dalam daftar operasi BPOM, sehingga perlu dikontrol peredarannya.

Kasus peredaran obat palsu di Indonesia

Direktur Intelijen Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Wildan Sagi, S. Kom, MM.S, menjelaskan bahwa BPOM sedang berupaya untuk memberantas praktik penjualan obat palsu dan ilegal di lapak online atau e-commerce.

Sepanjang 2017, BPOM bahkan telah memblokir 370 situs online penjual obat-obatan palsu. Rata-rata obat yang dijual adalah jenis obat tradisional untuk perawatan kecantikan.

“Pada operasi pangea X yang lalu, ditemukan 4.796 obat palsu dari 370 situs yang telah kami blokir. Ironisnya, angka ini merupakan kenaikan dari operasi pangea IX yang pada tahun lalu menemukan 1.312 obat palsu yang beredar,” terangnya.

Wildan pun menyarankan agar Anda lebih berhati-hati dalam membeli obat-obatan, terutama jika melalui lapak online. Pembelian obat yang terbaik adalah dengan membeli langsung di apotek sesuai petunjuk dokter.

Ketua Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) Justisiari P. Kusumah pun mengatakan bahwa sektor-sektor yang menjadi primadona dalam kegiatan penjualan barang palsu online adalah sektor industri fesyen dan obat-obatan.

“Data-data yang kami temukan di lapangan, sektor obat-obatan ada di peringkat kedua setelah fesyen. Jadi, masyarakat juga harus berhati-hati dalam membeli obat secara online,” Justisiari mengingatkan.

Tetap aman membeli obat secara online

Dra. Hardaningsih, Apt, MHSM, selaku Direktur Pengawasan Distribusi dan Pelayanan Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor dari BPOM mengungkapkan ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan saat akan membeli obat melalui e-commerce, agar kesehatan Anda tidak terancam:

1. Perhatikan lapak

Cari tahu apakah lapak tempat Anda akan membeli obat telah memiliki izin secara offline atau belum. Bila sudah, artinya lapak tersebut bisa dipercaya. Pastikan juga lapak tersebut menerapkan standar kefarmasian sesuai Undang-undang yang berlaku.

Akan lebih baik lagi jika lapak tempat Anda bertransaksi bukan milik perseorangan. Karena, orang per orangan dilarang menjual obat secara online, sehingga obat yang dijual pun dianggap ilegal.

2. Cek produk yang dijual

Obat yang Anda beli harus memiliki izin edar. Kasus ini banyak terjadi pada perdagangan obat keras, obat pelangsing atau viagra. Perlu Anda ketahui, pembelian obat keras tidak bisa sembarangan karena seharusnya hanya bisa dibeli dengan resep

3. Pastikan distribusinya aman

Sistem pengantaran obat yang Anda beli juga memengaruhi obat tersebut dapat dipertanggung jawabkan atau tidak. Jasa pengantaran barang yang saat ini banyak dilakukan melalui ojek online mungkin dinilai lebih praktis, namun tidak disarankan, karena tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Menurut dr. Astrid Wulan Kusumoastuti, beberapa obat palsu memang tidak memberikan dampak yang terlalu serius terhadap kesehatan, hanya saja tidak dapat bekerja secara maksimal. Namun, pada pasien kritis, efek obat palsu yang terjadi bisa fatal, karena tidak tercapainya target terapi yang seharusnya.

“Obat palsu dengan kandungan bahan aktif yang salah memiliki kemungkinan besar untuk menimbulkan efek samping berbahaya pada pasien. Misalnya saja pasien ternyata alergi terhadap bahan aktif yang ada dalam obat, reaksi alergi yang terjadi dapat berakibat fatal,” jelasnya.

Peredaran obat palsu memang tengah dikontrol oleh BPOM dan berbagai lembaga terkait. Namun, sebagai konsumen, Anda juga tetap harus cerdas dengan memeriksa lebih teliti sebelum membeli. Agar lebih aman, Anda disarankan untuk membeli obat hanya dari apotek, klinik, atau instansi yang resmi dan memiliki izin.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar