Sukses

Cara Mendeteksi Gejala HIV Sesuai Stadium

Kenali cara mendeteksi gejala HIV sesuai stadium berikut ini, agar Anda bisa lebih berhati-hati.

Klikdokter.com, Jakarta HIV adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Pada awalnya virus ini bersumber dari monyet di Afrika, yaitu Simian Immunodeficiency Virus (SIV). Agar dapat lebih mawas diri, Anda perlu mengetahui seperti apa gejala HIV di setiap stadiumnya.

Penyakit HIV hampir ditakuti oleh semua orang, karena hingga kini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkannya. Virus mematikan ini menyerang sel kekebalan tubuh penderita dan menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh, sehingga, tubuh sangat mudah terkena infeksi.

HIV ini ditularkan melalui darah dan cairan tubuh penderita seperti sperma, cairan vagina dan ASI. Pada banyak kasus, penularan dapat melalui pemakaian jarum suntik seperti pada pengguna narkoba suntik. Kasus lain adalah pada hubungan seksual, karena sering terjadi luka kecil yang tidak disadari. Hingga kini, pengobatan HIV bertujuan untuk memperlambat perjalanan penyakit dan mengendalikan gejalanya, sehingga penderita dapat menjalani hidup normal.

Gejala HIV sesuai stadium

Terdapat 3 stadium penyakit HIV  yang memiliki gejala yang berbeda-beda yaitu:

1. Tahap pertama (stadium infeksi primer akut)

Tahap awal adalah serokonversi, yaitu tahapan dimana antibodi HIV sudah mulai berkembang dalam tubuh penderita untuk melawan virus HIV dan berada dalam sirkulasi darah tubuh.

Pada awalnya orang yang baru terinfeksi atau tertular penyakit HIV akan mengalami gejala flu antara 1 sampai 4 minggu setelah infeksi. Hampir 80 persen orang yang terinfeksi HIV akan mengalami gejala flu tersebut. 

Gejala awal yang biasanya muncul adalah demam, sakit tenggorokan dan timbul ruam kemerahan pada tubuh. Gejala lain meliputi badan lemas, nyeri sendi, nyeri otot dan pembengkakan kelenjar getah bening. Gejala tersebut dapat bertahan hingga 4 minggu yang menunjukkan adanya perlawanan sistem kekebalan tubuh Anda terhadap virus.

2. Tahap kedua (stadium HIV asimptomatik) 

Setelah tahap serokonversi selesai, penderita biasanya akan merasa lebih baik karena memasuki tahap kedua. Pada tahap ini tidak ada gejala yang muncul yang disebut sebagai HIV asimptomatik.

Penderita tidak mengalami keluhan apapun hingga beberapa tahun. Tahapan ini dapat berlangsung hingga 10 sampai 15 tahun tergantung usia dan status kesehatan secara umum. Walaupun tidak memberikan gejala, sebenarnya virus ini masih aktif dan menginfeksi sel baru, menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh Anda.

3. Tahap ketiga (stadium HIV simptomatik) 

Tahap ketiga adalah tahap terakhir dimana sudah terjadi banyak kerusakan pada sistem kekebalan tubuh penderita. Pada tahap ini penderita mudah sekali terserang infeksi serius dari bakteri, yakni virus maupun jamur yang seharusnya bisa dilawan. Infeksi ini disebut sebagai infeksi oportunistik.

Berbagai gejala yang dapat timbul pada stadium ini termasuk gejala infeksi serius meliputi:

  • Penurunan berat badan
  • Diare berkepanjangan
  • Keringat dingin pada malam hari
  • Demam
  • Batuk persisten
  • Masalah kulit dan mulut seperti infeksi jamur
  • Infeksi berulang dan sering
  • Terkena penyakit serius

Perlu diketahui bahwa HIV dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) itu tidak sama. AIDS bukanlah virus atau penyakit sendiri, namun istilah untuk kondisi atau sindrom dari serangkaian gejala tertentu. Penderita AIDS biasanya sudah mengalami kerusakan serius pada sistem kekebalan tubuh.

Jadi, kini Anda sudah tahu tentang gejala HIV dari berbagai stadium. Jika Anda memiliki gejala-gejala seperti di atas termasuk menurunnya sistem kekebalan tubuh, sebaiknya periksakan diri Anda sebelum terlambat agar mendapatkan penanganan yang tepat.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar