Sukses

Transplantasi Penis dan Skrotum, Bagaimana Keberhasilannya?

Transplantasi penis dan skrotum alias penis utuh untuk pertama kalinya berhasil dilakukan. Seberapa tingkat keberhasilannya?

Klikdokter.com, Jakarta Transplantasi penis dan skrotum atau bisa disebut sebagai transplantasi penis secara utuh, untuk pertama kalinya berhasil dilakukan di Amerika Serikat (AS). Kabar ini tentu saja mengejutkan dunia! Penerimanya adalah seorang tentara yang kehilangan penisnya saat perang di Afganistan, akibat terkena ledakan ranjau darat.

Operasi dilakukan oleh tim peneliti dan dokter dari Rumah Sakit Johns Hopkins, AS. Tim terdiri dari sembilan orang dokter bedah plastik dan dua dokter bedah urologi. Operasinya sendiri berlangsung lebih dari 14 jam pada tanggal 26 Maret lalu.

Penis dan skrotum (tanpa testikel) dan dinding perut parsial, berasal dari donor yang telah meninggal. Pihak dari rumah sakit mengatakan bahwa pasien tersebut telah pulih dari operasi dan akan dipulangkan dari rumah sakit minggu ini.

Tim pembedahan telah merencanakan prosedur pencangkokan penis selama bertahun-tahun, dengan tujuan untuk membantu para veteran yang terluka. Sebuah laporan pada tahun 2016 menyebutkan bahwa dari tahun 2001 hingga 2013, sebanyak 1.367 tentara pria AS menderita luka pada alat kelamin atau saluran kemih mereka saat bertugas di Irak atau Afghanistan.

Dalam laporan itu juga tertulis bahwa sebagian besar cedera diakibatkan oleh ledakan bom dan lebih dari sepertiganya mengalami luka yang cukup parah. Di antara para tentara pria yang terluka, 94 persen berusia sekitar 35 tahun ke bawah. Dalam laporannya, tim peneliti menulis bahwa faktor ini menyebabkan banyaknya penderita cacat akibat cedera genital yang berada di usia produktif secara seksual.

Melihat persentase keberhasilan transplantasi penis utuh

Transplantasi penis adalah prosedur rumit yang mencakup penghubungan seluruh arteri, vena, saraf, kulit, dan uretra ke tubuh penerima. Setiap cedera pada penis bisa berbeda tergantung pada bagian mana yang dilepas, tetapi ahli bedah berupaya untuk bisa memulihkan fungsi seksual lewat prosedur ini.

“Kami berharap bahwa transplantasi ini akan membantu memulihkan fungsi urine sekaligus fungsi seksual yang hampir normal untuk pria muda ini,” kata Andrew Lee, profesor dan direktur bedah plastik dan rekonstruktif di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins.Tim bedah dari Johns Hopkins tersebut memutuskan untuk tidak mencangkok testis donor karena transplantasi semacam itu dapat memungkinkan perubahan materi genetik, khususnya yang didapat dari donor. Menurut mereka, hal tersebut merupakan tindakan tidak etis dan melanggar ketentuan di ranah medis.

Transplantasi penis diperkirakan menelan biaya 50.000-75.000 dolar AS (atau setara dengan Rp600 jutaan hingga Rp1,5 miliar). Karena masih dianggap eksperimental, prosedur transplantasi penis total tidak dilindungi oleh asuransi. Pihak Johns Hopkins disebut menutupi biaya transplantasi veteran. Para dokter di sana juga sedang dalam proses mengajukan permohonan hibah penelitian demi menawarkan keabsahan operasi ini lebih lanjut.

1 dari 2 halaman

Masa depan transplantasi penis

Ada banyak kemungkinan tentang transplantasi penis total di masa depan. Dilansir dari laman Liputan6.com, berikut ini beberapa fakta soal transplantasi penis:

1. Prosedur rumit

Cangkok penis merupakan prosedur rumit yang melibatkan sejumlah ahli bedah, dokter residen, dan lebih dari setidaknya 30 ahli yang membantu, termasuk dokter spesialis anestesi, suster, dan pekerja bank donor. Prosedur tersebut memakan waktu paling tidak lebih dari 12 jam untuk menghubungkan semua arteri, vena, saraf, kulit, dan uretra.

2. Fungsi seksual bisa kembali

Tujuan utama dari operasi ini adalah mengembalikan fungsi seksual dan kebanyakan yang telah menjalankannya berhasil. Jauh sebelum veteran tentara di atas, beberapa orang telah melakukan transplantasi penis. Namun yang jadi pembeda, veteran tersebut melakukan tranplantasi penis secara utuh, termasuk dengan skrotum.

3. Risiko

Seperti transplantasi organ lain, ada kemungkinan tubuh akan menolak organ yang didonorkan. Berdasarkan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Massachusetts, AS, risiko penolakan terjadi sekitar 18 persen pada tahun-tahun pertama setelah prosedur dilakukan.

4. Mereka yang bisa jalani transplantasi penis

Masih berdasarkan dari RSUP Massachusetts, fokus tindakan ini adalah orang-orang yang mengalami kanker maupun cedera traumatis. Bisa juga dilakukan pada veteran perang yang mengalami cedera pada bagian intimnya.

Transplantasi penis dan skrotum alias transplantasi penis utuh memiliki risiko yang tak dapat didefinisikan secara rinci. Meski begitu, upaya pengembangan terus dilakukan pihak medis demi mengobati para korban cedera hingga penyakit tertentu.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar