Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Transplantasi Penis dan Skrotum, Bagaimana Keberhasilannya?

Transplantasi Penis dan Skrotum, Bagaimana Keberhasilannya?

Transplantasi penis adalah prosedur pemberian penis dari seorang donor kepada seorang penerima. Tujuannya bisa untuk estetika, fungsi ereksi, dan kemampuan berkemih sambil berdiri.

Transplantasi penis dan skrotum berhasil dilakukan di Amerika Serikat (AS) pada tahun 2018. Kabar ini tentu saja mengejutkan dunia! Penerimanya adalah seorang tentara yang kehilangan penisnya saat perang di Afganistan, akibat terkena ledakan ranjau darat.

Transplantasi penis adalah prosedur pemberian penis dari seorang donor kepada seorang penerima (resipien). Umumnya, resipien mengalami kerusakan bentuk penis, sehingga fungsinya pun terganggu. Tujuan prosedur ini adalah untuk estetika, fungsi ereksi, dan kemampuan berkemih sambil berdiri.

Tim pembedahan telah merencanakan prosedur pencangkokan penis selama bertahun-tahun, dengan tujuan untuk membantu para veteran yang terluka. 

Sebuah laporan pada tahun 2016 menyebutkan bahwa dari tahun 2001 hingga 2013, sebanyak 1.367 tentara pria AS menderita luka pada alat kelamin atau saluran kemih mereka saat bertugas di Irak atau Afghanistan.

Artikel Lainnya: Penis Mati Rasa, Apa Penyebabnya?

1 dari 4 halaman

Prosedur Transplantasi Penis

Transplantasi penis tersebut dilakukan oleh tim peneliti dan dokter dari Rumah Sakit Johns Hopkins, AS. Tim terdiri dari sembilan orang dokter bedah plastik dan dua dokter bedah urologi. Operasinya sendiri berlangsung lebih dari 14 jam pada tanggal 26 Maret 2018.

Penis dan skrotum (tanpa testikel) dan dinding perut parsial, berasal dari donor yang telah meninggal. 

Transplantasi penis diperkirakan menelan biaya 50.000-75.000 dolar AS (atau setara dengan Rp600 jutaan hingga Rp1,5 miliar). Karena masih dianggap eksperimental, prosedur transplantasi penis total tidak dilindungi oleh asuransi.

Pihak Johns Hopkins disebut menutupi biaya transplantasi veteran. Para dokter di sana juga sedang dalam proses mengajukan permohonan hibah penelitian demi menawarkan keabsahan operasi ini lebih lanjut.

Artikel Lainnya: Memperbesar Penis dengan Jelqing, Amankah?

2 dari 4 halaman

Bagaimana Tingkat Keberhasilannya?

“Kami berharap bahwa transplantasi ini akan membantu memulihkan fungsi urine sekaligus fungsi seksual yang hampir normal untuk pria muda ini,” kata Andrew Lee, profesor dan direktur bedah plastik dan rekonstruktif di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins.

Tim bedah dari Johns Hopkins tersebut memutuskan untuk tidak mencangkok testis donor karena transplantasi semacam itu dapat memungkinkan perubahan materi genetik, khususnya yang didapat dari donor. Menurut mereka, hal tersebut merupakan tindakan tidak etis dan melanggar ketentuan di ranah medis.

Setahun setelah operasi selesai dilakukan, resipien transplantasi penis tersebut dilaporkan mengalami proses pemulihan yang baik. Ia dapat merasakan sensasi pada penisnya, memiliki kemampuan ereksi yang hampir normal, serta mampu meraih orgasme.

Lebih lanjut, veteran ini juga dapat berkemih sambil berdiri. Tidak ada keluhan berkemih yang dirasakan. Pancaran air seni yang keluar saat berkemih pun kuat. 

Secara umum, prosedur transplantasi penis ini telah memperbaiki kehidupan tentara tersebut. Ia dikabarkan memiliki kepercayaan diri yang lebih baik, serta kembali merasa ‘utuh’. Sehingga, dari sisi psikologis pun terdapat kemajuan.

Sebelumnya, telah dilaporkan beberapa prosedur transplantasi penis, walaupun kasusnya tidak seberat pada veteran AS ini. Operasi ini sempat dilakukan pada tahun 2006 di Tiongkok, namun penis transplantasi ‘dilepas’ kembali dua minggu kemudian karena alasan psikologis penerimanya.

Selanjutnya, pada tahun 2014 dilakukan prosedur transplantasi penis di Afrika Selatan. Pasien ini dilaporkan pulih dengan baik, serta memiliki fungsi seksual dan berkemih yang normal. Pada tahun 2017, kembali dilakukan transplantasi penis di institusi yang sama dan prosedurnya dilaporkan berhasil.

Artikel Lainnya: Memperbesar Penis dengan Pompa Vakum, Amankah?

3 dari 4 halaman

Masa Depan Transplantasi Penis

Ada banyak kemungkinan tentang transplantasi penis total di masa depan. Berikut ini beberapa fakta soal transplantasi penis:

1. Prosedur Rumit

Cangkok penis merupakan prosedur rumit yang melibatkan sejumlah ahli bedah, dokter residen, dan lebih dari setidaknya 30 ahli yang membantu, termasuk dokter spesialis anestesi, suster, dan pekerja bank donor. Prosedur tersebut memakan waktu paling tidak lebih dari 12 jam untuk menghubungkan semua arteri, vena, saraf, kulit, dan uretra.

2. Fungsi Seksual Bisa Kembali

Tujuan utama dari operasi ini adalah mengembalikan fungsi seksual dan kebanyakan yang telah menjalankannya berhasil. Jauh sebelum veteran tentara di atas, beberapa orang telah melakukan transplantasi penis. Namun yang jadi pembeda, veteran tersebut melakukan tranplantasi penis secara utuh, termasuk dengan skrotum.

3. Risiko

Seperti transplantasi organ lain, ada kemungkinan tubuh akan menolak organ yang didonorkan. Berdasarkan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Massachusetts, AS, risiko penolakan terjadi sekitar 18 persen pada tahun-tahun pertama setelah prosedur dilakukan.

4. Mereka yang Bisa Menjalani Transplantasi Penis

Masih berdasarkan dari RSUP Massachusetts, fokus tindakan ini adalah orang-orang yang mengalami kanker maupun cedera traumatis. Bisa juga dilakukan pada veteran perang yang mengalami cedera pada bagian intimnya.

Transplantasi penis dan skrotum memiliki risiko yang tak dapat didefinisikan secara rinci. Meski begitu, upaya pengembangan terus dilakukan pihak medis demi mengobati para korban cedera hingga penyakit tertentu.

Ingin mengetahui info kesehatan lainnya? Tanyakan langsung kepada dokter-dokter kami dengan menggunakan layanan Live Chat di aplikasi KlikDokter. Salam sehat!

[FY]

0 Komentar

Belum ada komentar