Sukses

Anak Laki-Laki Gemar Main Boneka, Haruskah Khawatir?

Belakangan, anak laki-laki Anda senang main boneka milik kakaknya. Wajar, atau haruskah diawasi?

Klikdokter.com, Jakarta Apa yang akan Anda lakukan jika mendapati anak laki-laki kesayangan main boneka? Membiarkannya, atau malah langsung merebut boneka itu dan menggantinya dengan mobil-mobilan? Wajar bila Anda sebagai orang tua merasa khawatir. Anda mungkin takut anak akan dihakimi orang lain, takut anak akan dijauhi teman-teman sebayanya, dan kecemasan lainnya.

Tenang saja, bermain boneka adalah perilaku yang normal dan sangat sehat untuk anak laki-laki. Kegiatan ini justru dapat menjadi permainan imajinatif yang memicu daya kreativitas anak. Lebih lanjut, menurut psikoterapis asal Amerika Serikat Jonathan Alpert kepada Huffington Post, tidak ada hubungan antara perilaku bermain boneka dan homoseksualitas.

“Bermain boneka dan mengagumi kecantikan mereka menunjukkan sisi lembut seorang anak. Ini merupakan hal yang harus dirayakan oleh orang tua, bukannya ditakuti. Kemungkinan, anak meniru perilaku pengasuhan orang tua dan menunjukkan tanggung jawab serupa dengan merawat boneka tersebut,” kata Alpert.

Hal senada disampaikan oleh Dr. Alan Greene, seorang dokter spesialis anak di Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa antara usia 18 dan 30 bulan, seorang anak sudah tahu identitas gendernya, bahwa mereka adalah anak laki-laki atau perempuan. Mereka juga paham anak laki-laki akan menjadi pria dan anak perempuan akan menjadi wanita. Pada tahap ini, umumnya anak memiliki keinginan yang kuat untuk meniru tingkah ayah maupun ibunya. 

“Hampir semua balita yang sehat tertarik untuk mencoba aktivitas lawan jenis, bahkan menyukainya,” ujar Greene, dikutip dari Parents.

Jadi, apa yang harus dilakukan?

Dalam tahun pertama kehidupannya, wajar bila anak ingin mencoba peran gender yang berbeda. Ini sangatlah normal, artinya mereka tertarik mengeksplorasi apa artinya menjadi anak laki-laki atau perempuan. Karena itu, hendaknya orang tua tidak berasumsi bahwa anak laki-laki yang gemar main boneka akan selalu menyukai hal-hal “feminin”, atau bahwa anak perempuan yang lebih senang dengan tokoh superhero ketimbang Barbie akan selalu menyukai hal-hal “maskulin”.

Hindari memberikan hukuman atau cemoohan, jika anak lebih menyukai boneka ketimbang mobil-mobilan. Apabila anak tetap ingin bermain boneka, persiapkan diri mereka ketimbang melarang sama sekali. Misalnya: orang tua dapat memberitahu anak, dengan bahasa yang mudah dimengerti, reaksi apa yang mungkin akan mereka hadapi terkait hobi bermain boneka tersebut.

Jelaskan bahwa jika mereka tetap ingin bermain boneka, teman-temannya mungkin akan merasa tidak nyaman. Namun jika mereka tetap ingin bermain boneka, jangan melarangnya. Setidaknya mereka sudah paham dengan efek yang akan timbul. Dengan demikian, ketika teman-teman sebayanya menertawakan, mereka tidak akan merasa malu, canggung, atau sedih. 

Lalu, kapan orang tua harus khawatir? Greene mengatakan, beberapa tanda ini dapat mengindikasikan adanya masalah identitas gender pada anak:

  • Seorang anak tidak mengetahui jenis kelaminnya sendiri pada usia 3 tahun
  • Seorang anak mengatakan secara konsisten bahwa ia lebih menyukai menjadi lawan jenisnya
  • Seorang anak menyangkal anatomi kelamin atau jenis kelaminnya sendiri

Jika tidak ada tanda-tanda di atas, Anda tak perlu khawatir dengan kegemaran main boneka anak laki-laki Anda. Cobalah untuk rileks dan tidak berasumsi, serta hargai kesenangan anak dalam mengeksplorasi dunia bermainnya.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar