Sukses

Terlalu Protektif terhadap Anak, Ini Akibatnya

Protektif terhadap anak boleh saja, asal jangan keterlaluan. Pada tingkat yang berlebih, perilaku ini justru dapat merugikan anak.

Klikdokter.com, Jakarta Orang tua, baik ayah, ibu, atau bisa jadi keduanya sering bersikap protektif terhadap anak. Penyebabnya bisa karena berbagai faktor. Bisa jadi karena Anda tak ingin anak Anda celaka saat bermain, tak ingin dirinya tersakiti, ingin anak terus berprestasi di sekolah, dan masih banyak lagi alasan.

Memang, maksud Anda sebagai orang tua pasti baik, karena ingin melindungi anak. Namun, bagaimana jika tindakan protektif yang Anda lakukan justru menjadi terlalu berlebihan?

Berdasarkan hasil sebuah riset, ternyata perilaku protektif orang tua terhadap anak tidak baik untuk tumbuh kembang anak. Orang tua yang terlalu protektif mungkin sedikit banyak membantu anak-anak mereka dalam jangka waktu pendek. Namun, tidak untuk jangka waktu panjang dalam menyiapkan masa depan anak.

Dalam keseharian, orang tua yang terlalu protektif bertindak sebagai pelayan sekaligus pengawas yang membantu anak menghadapi banyak hal. Namun, terlalu protektif terhadap anak yang dilakukan terus-menerus, dalam jangka panjang justru bisa berdampak buruk.

“Melindungi anak secara berlebihan tentu tidak baik. Ada dampak jangka pendek dan panjang yang dapat terjadi pada diri anak akibat orang tua yang terlalu protektif. Pola asuh seperti ini sangat memengaruhi aspek kejiwaan atau psikis anak,” ungkap dr. Rio Aditya dari KlikDokter.

Selain dapat memengaruhi psikis, masih banyak dampak sikap terlalu protektif terhadap anak. Dilansir dari laman Psychology Today, berikut ini adalah beberapa di antaranya:

1. Gangguan kesehatan

Sebuah studi 2016 dari Universitas Negeri Florida, Amerika Serikat (AS), menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan terlalu protektif oleh orang tuanya cenderung memiliki masalah kesehatan saat ia dewasa. Peneliti menyimpulkan fakta bahwa anak-anak ini tidak pernah belajar bagaimana mengelola kesehatannya sendiri. Hal ini karena orang tua mereka selalu mendikte mereka tentang kapan harus tidur, kapan berolahraga, apa yang harus dimakan, dan masih banyak lagi.

Orang tua yang terlalu protektif sering khawatir berlebihan tentang kesehatan anak-anak mereka, dan selalu mengingatkan apa yang harus dilakukan. Studi menunjukkan bahwa dengan absennya “pengingat” ini, anak-anak yang tumbuh dengan pola asuh seperti itu kelak sering mengabaikan kesehatan mereka sendiri.  

2. Manja dan egois

Orang tua yang terlalu protektif sangat menyayangi anak-anak mereka sehingga anak cenderung berpikir bahwa mereka bagaikan pusat alam semesta. Peneliti dari Universitas Arizona, AS, menemukan bahwa anak-anak hasil didikan orang tua yang terlalu protektif tumbuh dengan perasaan berhak atas segalanya (entitled).

3. Masalah pengendalian emosi

Anak-anak hasil didikan orang tua yang terlalu protektif tumbuh tanpa belajar mengatur emosi mereka. Hal ini karena selalu ada orang tua yang menemani di sisinya. Jika anak sedih, orang tua akan segera menghibur. Atau jika anak marah, maka orang tua segera menenangkan.

Minimnya kemampuan untuk mengendalikan emosi ini segera jadi masalah besar ketika anak tumbuh dewasa. Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Mary Washington, AS, tahun 2013, menemukan bahwa mahasiswa yang dibesarkan oleh orang tua yang terlalu protektif lebih mungkin untuk depresi dan sering merasa tidak puas dalam hidup.

Perlu dicatat bahwa anak yang dibesarkan oleh orang tua yang terlalu protektif tidak tumbuh dengan waktu luang sebanyak anak-anak lain. Lingkungan mereka sangat terstruktur karena waktu diatur secara ketat. Tanpa peluang berlatih mengelola diri mereka sendiri, anak tidak memiliki keterampilan untuk bisa mencapai tujuan mereka.

Lagi, sebuah studi tahun 2014 dari Universitas Colorado, AS, menemukan bahwa orang dewasa yang dibesarkan dengan orang tua yang terlalu protektif cenderung tidak memiliki kendali mental. Mereka juga tidak memiliki motivasi yang mereka butuhkan untuk berhasil.

Menurut dr. Rio Aditya, sebagai orang tua sebaiknya Anda tidak perlu berlebihan dalam menjaga dan melindungi anak. Sebab, pola asuh terlalu protektif dapat sangat merugikan anak di kemudian hari. Akibat pola asuh yang terlalu protektif, anak bisa  tumbuh menjadi orang yang tidak percaya diri, kesulitan dalam bersosialisasi, dan cenderung lebih mudah sakit.

Nah, jika Anda ingin yang terbaik untuk anak, biarkan anak berkembang dengan kadar pengawasan yang pas, jangan terlalu protektif dan terlalu sering berprasangka buruk. Selain orang tua, alam dan lingkungan sosial juga dapat menjadi guru yang baik bagi tumbuh kembang mereka. Jadi, berilah anak ruang yang cukup untuk berkembang dan belajar.

[RN/  RVS]

1 Komentar