Sukses

Mengenal Efek Samping Terapi Bekam

Pengobatan alternatif dengan terapi bekam dapat menimbulkan sejumlah risiko. Apa saja?

Klikdokter.com, Jakarta Terapi bekam bukanlah hal baru di Indonesia. Di belahan negara lain, praktik kuno Cina ini juga sering dijadikan sebagai pilihan pengobatan. Beberapa selebritas luar negeri bahkan mengandalkan metode ini untuk memulihkan tubuh mereka, antara lain Victoria Beckham, Jennifer Aniston, dan Jessica Simpson.

Terapi bekam merupakan pengobatan alternatif yang melibatkan pemasangan beberapa cangkir kecil di atas kulit selama beberapa menit untuk menarik kulit. Ada dua jenis bekam, yaitu bekam kering yang hanya mengisap kulit, dan bekam basah yang merupakan kombinasi antara isap kulit dan perdarahan terkontrol yang disengaja.

Bekam akan meningkatkan sirkulasi darah pada area kulit yang dipasangkan cangkir.  Hal ini dinilai mampu meredakan ketegangan otot, yang kemudian dapat menambah aliran darah secara keseluruhan dan memperbaiki sel. Ini juga membantu membentuk jaringan ikat baru dan membuat pembuluh darah baru di jaringan.

Meski tak sedikit orang yang percaya dengan manfaat terapi ini, sebenarnya belum banyak penelitian ilmiah tentang bekam. Sebuah laporan yang diterbitkan dalam Journal of Traditional and Complementary Medicine pada 2015 menyebutkan bahwa bekam dapat membantu masalah jerawat, herpes zoster, dan manajemen nyeri.

Sebuah studi tahun 2014 oleh Beijing University of Chinese Medicine mengungkapkan bahwa bekam punya efek jangka pendek yang positif dalam menurunkan intensitas nyeri, dibandingkan terapi panas atau obat-obatan konvensional.

The British Cupping Society menyatakan bahwa bekam bermanfaat untuk mengobati anemia, rematik, kesuburan, eksim, jerawat, hipertensi, migrain, hingga depresi. Sebaliknya, The American Society menandaskan bahwa manfaat yang dirasakan setelah bekam tidak lebih dari sekadar efek plasebo. Dalam kata lain, hanya sugesti belaka.

Amankah terapi bekam?

Terapi bekam cukup aman, selama Anda melakukannya di tempat yang memang profesional. Efek samping yang dialami biasanya terjadi selama perawatan atau setelahnya.

Selama perawatan, Anda mungkin akan merasakan ketidaknyamanan ringan saat cangkir menyentuh kulit. Bisa juga terjadi luka bakar, memar, dan infeksi kulit. Di samping itu, Anda juga dapat merasa pusing, mual, dan berkeringat.

Setelah perawatan, kulit bekas bekam bisa mengalami iritasi dan memar dalam pola melingkar. Anda mungkin juga akan merasa pusing tak lama setelah terapi.

Namun, risiko infeksi akibat bekam termasuk kecil dan biasanya dapat dihindari jika praktisi Anda mengikuti metode yang tepat.

Hal-hal yang harus diperhatikan

Praktisi bekam harus menggunakan celemek, sarung tangan sekali pakai, dan pelindung mata. Mereka juga wajib membersihkan peralatan dan divaksinasi untuk memastikan tidak ada penyakit, seperti hepatitis dan HIV.

Penting diketahui, terapi bekam tidak direkomendasikan untuk semua orang. Mereka yang tidak diperbolehkan menjalankan pengobatan ini adalah anak-anak, orang lansia, serta wanita yang sedang hamil dan menstruasi.

Sebelum memastikan untuk bekam, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan, seperti:

  • Kondisi/penyakit apa yang menjadi spesialisasi praktisi bekam tersebut?
  • Apa metode bekam yang digunakan?
  • Apakah fasilitasnya bersih? Apakah praktisi tersebut menerapkan pengukuran keselamatan?
  • Apakah praktisi tersebut memiliki sertifikasi?
  • Apakah Anda memiliki kondisi yang bisa mendapatkan keuntungan dari bekam?

Jika Anda memiliki suatu penyakit dan memilih terapi bekam sebagai pengobatan penunjang, sebaiknya diskusikan dulu keputusan tersebut dengan dokter. Kombinasi bekam dengan obat-obatan dari dokter mungkin dapat memberikan manfaat tambahan untuk Anda.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar