Sukses

9 Komplikasi Penyakit HIV/AIDS

Kenali komplikasi penyakit HIV/AIDS agar Anda lebih waspada.

Klikdokter.com, Jakarta HIV/AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh human immunodeficiency virus. Virus mematikan ini menyerang sel kekebalan tubuh sehingga menyebabkan penurunan sistem imunitas. Akibatnya tubuh sangat mudah terkena infeksi, yang seharusnya hanya ringan pada orang normal namun dapat parah atau mematikan pada penderita HIV.

Hingga kini penyakit HIV belum dapat disembuhkan. Pengobatan yang dilakukan hanya untuk memperlambat perjalanan penyakit, mengendalikan gejalanya, dan menghindari komplikasi sehingga penderita dapat menjalani hidup normal. Berikut adalah beberapa komplikasi penyakit HIV/AIDS:

1. Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyerang seluruh tubuh, tetapi paling sering menyerang paru. Pada orang sehat, kuman TB dapat saja berada di dalam tubuh namun tidak menyebabkan penyakit. Namun, berbeda pada penderita HIV, terutama HIV/AIDS yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah.

Pada penderita HIV yang memiliki kuman TB, mereka berisiko sepuluh kali untuk terkena penyakit TB, terutama pada penderita HIV/AIDS yang memiliki sel kekebalan tubuh CD4 di bawah 200. Terlebih lagi, terlepas dari jumlah sel CD4, jika penderita HIV terinfeksi TB berarti sudah pada tahap HIV/AIDS. Di dunia, TB merupakan penyebab utama kematian penderita HIV.

2. MAC (Mycobacterium Avium Complex)

MAC adalah kuman bakteri yang berhubungan dengan TB. Kuman MAC sering berada pada makanan, air dan tanah. Hampir semua orang memiliki kuman MAC pada tubuh mereka. Namun, jika sistem kekebalan tubuh Anda kuat, MAC tidak akan memberikan masalah.

MAC biasanya menyebabkan penyakit infeksi serius ketika HIV/AIDS sudah mencapai angka CD4 di bawah 50. Infeksi dapat menjadi serius seperti infeksi darah atau sepsis, hepatitis, dan pneumonia.

3. Pneumocystis Pneumonia

Pneumocystis Pneumonia (PCP) adalah infeksi serius yang menyebabkan peradangan dan akumulasi cairan di paru-paru. Penyebab PCP adalah infeksi jamur Pneumocystis jiroveci yang tersebar melalui udara. Jamur ini sangat umum dan biasanya orang akan berhasil melawan infeksi ini pada usia 3 atau 4 tahun. Sistem kekebalan tubuh yang baik dapat mengendalikan infeksi ini.

Sebaliknya pada penderita HIV/AIDS, infeksi ini dapat membuat penyakit serius. Hampir 75% penderita HIV terinfeksi PCP. Penderita HIV/AIDS dengan jumlah CD4 di bawah 200 lebih sering terinfeksi PCP.

1 dari 3 halaman

Selanjutnya

4. CMV (Cytomegalovirus)

CMV adalah virus yang umum dan berhubungan dengan virus herpes yang memberikan penyakit herpes oral (pada mulut). Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, tidak masalah dengan virus ini. Hampir 8 dari 10 orang memiliki virus ini pada tubuh mereka saat berusia 40 tahun.

Pada penderita HIV/AIDS, CMV dapat menyebabkan infeksi serius terutama jika jumlah CD4 di bawah 100. Penderita dapat terinfeksi CMV melalui mata, hidung, atau mulut setelah kontak dengan air liur, sperma, cairan vagina, darah, urine, dan air susu ibu penderita. Penderita dapat mengalami infeksi mata serius yang disebut retinitis dan berujung pada kebutaan.

5. Infeksi Oportunistik Lainnya

Infeksi oportunistik adalah infeksi serius yang terjadi pada sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pada penderita HIV. Sebaliknya, infeksi ini tidak menimbulkan masalah pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat. Biasanya infeksi oportunistik baru menyerang penderita HIV ketika sudah menjadi HIV/AIDS atau sel CD4 di bawah 200.

Hampir semua penyakit infeksi dapat menjadi infeksi oportunistik, seperti candidiasis, Cryptococcus neoformans, Herpes simplex, Toxoplasmosis, dan lainnya. Pada wanita, lebih sering terjadi infeksi bakteri pneumonia dan herpes dan dapat menimbulkan kanker pada sistem reproduksi.

6. Lipodistrofi

Lipodistrofi atau redistribusi lemak adalah masalah pada tubuh dalam membuat, menggunakan dan menyimpan lemak. Hampir sepertiga hingga setengah penderita HIV mengalami lipodistrofi. Angka kejadian makin meningkat akibat penggunaan obat HIV, yaitu ART (antiretroviral therapy). Lipodistrofi pada penderita HIV lebih mungkin terjadi pada penderita HIV yang parah dan sudah lama.

Pada pria, lebih sering terjadi kehilangan lemak (lipoartrofi) terutama pada tangan dan kaki, wajah, dan bokong. Pada wanita, lebih sering terjadi penumpukan lemak (lipohipertofi) khususnya pada perut, dada, serta belakang leher dan bahu. Penderita juga dapat mengalami pertumbuhan lemak (tumor jinak) seperti lipoma.

2 dari 3 halaman

Selanjutnya

7. Demensia

Penyakit HIV juga sering berhubungan dengan penurunan fungsi mental dan keahlian motorik, terutama jika virus sudah menyerang sistem saraf. Akibatnya, terjadi kerusakan otak dan menyebabkan HIV-associated neurocognitive disorders (HAND). Terdapat tiga kelas dari HAND, yakni:

  1. Asymptomatic neurocognitive impairment, ketika pada pemeriksaan terlihat adanya penurunan kemampuan mental namun tidak memengaruhi kehidupan sehari-hari.
  2. Mild neurocognitive disorder, ketika sudah memengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan sehari-hari.
  3. HIV-associated dementia, ketika sudah sangat membatasi kemampuan seseorang untuk hidup secara normal. Pada tahap akhir, penderita dapat mengalami kejang, psikosis, dan kehilangan kemampuan untuk mengendalikan kemampuan buang air kecil dan besar.

8. Kanker

Penderita HIV/AIDS juga rentan menjadi kanker, terutama kanker Non-Hodgkin’s lymphoma (NHL) dan Kaposi’s sarkoma (KS). NHL adalah kanker sel darah putih limfosit yang dimulai pada sistem kelenjar getah bening. Sehingga sel kanker mudah menyebar ke organ lain seperti hati, tulang, otak, perut, dan lainnya. Pasien HIV yang memiliki jumlah CD4 tinggi dan belum menjadi AIDS juga dapat menderita kanker NHL.

KS adalah kanker dengan pembuluh darah kecil baru tumbuh di bawah kulit dan dalam membran mulut, hidung, mata dan anus. Kanker ini dapat menyebar hingga ke paru-paru, hati, perut, usus, dan kelenjar getah bening. Pria memiliki risiko delapan kali lebih besar untuk terkena kanker KS.

9. Sindrom Wasting pada AIDS

Sindrom wasting pada AIDS bukanlah suatu penyakit khusus. Sindrom wasting terjadi pada penderita yang kehilangan bobot tubuhnya sebanyak 10%, terutama massa otot. Penderita juga mengalami diare minimal selama 1 bulan, kelemahan yang ekstrem, serta demam yang tidak berhubungan dengan infeksi.

Sindrom ini membuat penderita lebih mudah terkena infeksi oportunistik, demensia, dan bahkan kematian. Bahkan kehilangan bobot tubuh hanya 5% sudah meningkatkan risiko sebanyak dua kali lipat.

Terdapat banyak komplikasi dari penyakit HIV/AIDS. Lakukan pengobatan HIV secara teratur dan sesuai saran dokter, agar terhindar dari komplikasinya yang berbahaya dan mematikan.

[RS/ RVS]

1 Komentar