Sukses

Mengapa Usus Buntu Terjadi Lagi Meski Sudah Dioperasi?

Usus buntu bisa kembali terjadi meski Anda sudah pernah menjalani operasi. Ini sebabnya.

Klikdokter.com, Jakarta Usus buntu menjadi penyakit yang dapat menyerang segala golongan usia, khususnya mereka yang berada di rentang 18–35 tahun. Keadaan ini perlu segera diatasi dengan tindakan operasi, karena gejalanya sangat menganggu, bahkan hingga menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Usus buntu terjadi akibat adanya infeksi, sumbatan tinja, benda asing, atau tumor di organ tubuh tersebut. Penyakit ini memberikan gejala berupa nyeri di bagian ulu hati atau sekitar pusar, yang dapat berpindah ke perut bagian kanan bawah dalam beberapa jam pasca serangan. Rasa nyeri tersebut biasanya sangat hebat, sehingga penderita akan kesulitan untuk berjalan atau berdiri.

Tak sebatas itu, usus buntu juga turut menyebabkan gejala lain berupa:

  • Demam
  • Mual dan muntah
  • Penurunan nafsu makan

Satu-satunya cara untuk mengatasi masalah usus buntu adalah dengan operasi (apendektomi). Tindakan ini dilakukan untuk mencegah risiko pecahnya usus buntu. 

Layaknya operasi pada umumnya, apendektomi tetap memiliki efek samping, misalnya infeksi atau perdarahan. Namun Anda tak perlu khawatir, sebab operasi ini memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dan jarang menyebabkan komplikasi jangka panjang.

Usus buntu bisa kembali terjadi setelah operasi?

Seperti telah disinggung sebelumnya, usus buntu dapat kembali terjadi meski sudah dioperasi. Para ahli menduga, keadaan ini berhubungan dengan tindakan operasi yang tidak berlangsung dengan mulus, misalnya masih ada bagian usus buntu yang tidak ikut terangkat.

Nah, bagian usus buntu yang masih tertinggal setelah operasi masih mungkin untuk mengalami infeksi berikutnya. Kondisi ini pada akhirnya dapat menyebabkan kejadian usus buntu berulang.

Pada kasus usus buntu berulang, penderita dianjurkan untuk segera melakukan tindakan operasi lanjutan. Jika tidak, risiko pecahnya usus buntu “sisa” dan menyebarkan semua “kotoran” ke dalam perut menjadi semakin tinggi.

Menurut dr. Resthie Rachmanta Putri, isi usus buntu yang keluar dan menyebar di rongga perut dapat menyebabkan peritonitis. Kondisi ini mengakibatkan gejala berupa nyeri hebat, perut terasa kaku seperti papan, muntah-muntah, tidak bisa buang angin, dan tidak bisa buang air besar.

Mencegah usus buntu berulang

Beberapa tindakan yang bisa Anda lakukan untuk memperkecil risiko usus buntu kembali terjadi setelah dioperasi, yakni:

  • Hindari melakukan aktivitas terlalu berat setelah operasi. Tanyakan pada dokter yang merawat Anda mengenai aktivitas apa saja yang perlu dibatasi, dan kapan dapat kembali melakukan aktivitas normal.
  • Perbanyak konsumsi makanan berserat tinggi, khususnya yang direkomendasikan oleh dokter.
  • Patuhi segala pantangan, baik makanan, minuman, aktivitas, olahraga, dan lainnya.
  • Selalu penuhi kebutuhan cairan tubuh, dengan minum setidaknya 8 gelas air per hari.
  • Bila batuk, tertawa, atau bergerak, berikan tekanan lembut pada bagian perut.
  • Periksakan kondisi Anda secara berkala atau sesuai anjuran yang diberikan oleh dokter.
  • Segera ke dokter jika beberapa hari atau minggu setelah operasi Anda mengalami muntah berulang, demam tinggi, rasa nyeri, bengkak atau keluar nanah dari luka bekas operasi.

Jangan biarkan usus buntu terjadi, apalagi hingga berulang kali. Selalu jaga kesehatan saluran cerna Anda dengan memenuhi kebutuhan serat setiap hari. Jika timbul gejala-gejala yang merujuk pada usus buntu, jangan ragu untuk segera berobat ke dokter.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar