Sukses

Keputihan Bisa Terjadi karena Faktor Keturunan?

Ketika ada anggota keluarga yang mengalami keputihan, bisa jadi Anda langsung “menuduh” keputihan yang dialami karena faktor keturunan. Benarkah demikian?

Klikdokter.com, Jakarta Keputihan adalah cairan yang keluar dari vagina. Keputihan terdiri dari dua macam, yaitu fisiologis (alami) dan patologis (kelainan). Diperkirakan, sekitar 75 persen wanita di Indonesia pernah mengalami keputihan. Apakah salah satu penyebabnya adalah faktor keturunan? Sebelum menjawab, mari kenali keputihan secara lebih mendalam.

Mengenal keputihan normal

Menurut dr. Sara Elise Wijono, MRes, dari KlikDokter, keputihan normal biasanya terjadi dua minggu menjelang masa haid berikutnya. Wanita yang sedang hamil juga bisa mengalami kondisi ini, demikian juga wanita yang menggunakan pil KB hormonal.

Dituturkan oleh dr. Sara bahwa cairan yang keluar saat keputihan memiliki fungsinya sendiri, yang salah satunya adalah sebagai pelumas ketika berhubungan seksual. Di samping itu, cairan yang sifatnya cenderung asam ini juga bermanfaat untuk melindungi area kewanitaan dari serangan kuman penyebab infeksi.

Pada keputihan normal, karakteristik cairan yang keluar dari vagina berwarna bening hingga keputih-putihan. Teksturnya kental atau seperti lendir dan tidak berbau. Jika sudah mengering, keputihan yang menempel di celana dalam akan tampak seperti bercak kekuningan.

Perlu Anda ketahui, produksi lendir keputihan adalah sekitar 2-5 ml per hari, atau setara dengan 1-1,5 sendok teh. Meski demikian, jumlah ini dapat berubah-ubah. Salah satu kondisi yang menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah keputihan adalah rangsangan seksual.

Jika keputihan yang Anda alami seperti yang dijabarkan di atas, dr. Sara mengatakan bahwa Anda tak perlu khawatir karena itu adalah tanda keputihan normal.

1 dari 3 halaman

Mengenal keputihan karena adanya kelainan

Kembali dijelaskan oleh dr. Sara, keputihan dikatakan abnormal atau terjadi karena adanya kelainan jika terdapat perubahan warna (seperti kekuningan atau kehijauan), muncul aroma tak sedap (seperti bau amis atau bau busuk), serta punya tekstur bergumpal.

Jika produksi cairan keputihan lebih banyak daripada biasanya dan menimbulkan keluhan lain seperti gatal, nyeri saat buang air kecil, dan nyeri pada area kewanitaan, maka keputihan ini tergolong abnormal.

Keputihan abnormal bisa jadi karena adanya penyakit seperti yang disebutkan di bawah ini:

  • Infeksi jamur Candida. Gejalanya adalah keputihan berwarna putih dan bergumpal seperti susu basi, tapi tidak berbau. Bisa juga disertai gatal dan nyeri saat berkemih atau berhubungan seksual.
  • Bakterial vaginosis (BV). Keluhan BV disebabkan oleh pertumbuhan bakteri yang tidak normal pada vagina. Keluhan yang bisa terjadi adalah keluarnya lendir cair berwarna putih keabu-abuan dan sering disertai bau amis yang kuat.
  • Trikomoniasis. Infeksi ini disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis. Gejalanya adalah keluarnya cairan berwarna kuning kehijauan dan berbau. Bisa juga timbul rasa gatal dan nyeri.
  • Gonore. Infeksi menular seksual ini sebetulnya bisa tidak menyebabkan keluhan apa pun, tapi jika ada keluhan umumnya berupa keputihan dengan warna kekuningan, rasa gatal, rasa terbakar, dan kemerahan pada area kewanitaan.
  • Klamidia. Infeksi menular seksual ini bisa membuat jumlah keputihan lebih banyak dibanding biasanya. Selain itu, bisa juga disertai keluhan nyeri saat buang air kecil.
2 dari 3 halaman

Apakah salah satu penyebab keputihan adalah faktor keturunan?

Dari berbagai penyebab keputihan, baik keputihan normal maupun abnormal, faktor keturunan bukanlah penyebab keputihan. Keputihan bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti infeksi jamur atau adanya kelainan medis seperti HIV, kencing manis, kurang gizi, kelelahan, kebersihan area kewanitaan yang kurang, dan masih banyak lagi—bukan karena faktor keturunan.

Untuk mengatasi keputihan normal, berikut ini adalah hal-hal yang perlu Anda lakukan untuk menjaga kebersihan daerah vagina seperti dikatakan oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter:

  • Sering mengganti celana dalam bila banyak berkeringat atau lembap.
  • Hindari penggunaan celana yang ketat (termasuk celana dalam) dan terbuat dari bahan yang tidak menyerap keringat.
  • Jika ingin menggunakan panty liner, pilih yang tidak mengandung pewangi dan tidak digunakan selama lebih dari 4-6 jam.
  • Hindari penggunaan produk pembersih vagina yang dapat menyebabkan perubahan pH dan keseimbangan bakteri baik dalam vagina.
  • Setelah buang air kecil, bilas dengan arah dari depan ke belakang menggunakan handuk.

Jika keputihan yang dialami merupakan keputihan abnormal, maka Anda perlu memeriksakan diri ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan atau dokter spesialis kulit dan kelamin, sehingga Anda bisa mendapatkan pengobatan sesuai penyebab keputihan yang Anda alami.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar