Sukses

Diet Raw Food, Apakah Benar-Benar Aman?

Kupas tuntas soal diet raw food dan manfaatnya untuk kesehatan.

Klikdokter.com, Jakarta Diet raw food dianggap lebih sehat dan cocok untuk tubuh manusia. Beberapa selebritas seperti Megan Fox, Sting, dan Gwyneth Paltrow turut menerapkan pola makan ini. Mereka percaya diet raw food merupakan “antidiet” dan lebih kepada gaya hidup yang mempromosikan konsumsi makanan utuh dan dalam bentuk yang alami. Namun, apa benar jenis diet ini lebih aman?

Diet raw food adalah pola makan yang melibatkan makanan mentah dan belum diolah. Suatu makanan disebut mentah jika tidak diawetkan, tidak dikalengkan, tidak diproses secara kimia, dan tidak dipanaskan melebihi 48 derajat Celsius. Hal ini dikarenakan panas, khususnya di atas 48 derajat Celsius, dinilai dapat menghancurkan nutrisi penting sekaligus enzim alami dalam makanan. 

Ada beberapa jenis diet raw food, yakni raw vegetarians (tidak makan daging, tapi masih menyantap telur dan produk susu), raw vegans (tidak makan produk hewani dalam bentuk apa pun), raw omnivores (makan produk nabati sekaligus hewani), dan raw carnivore (makan daging, tapi tidak dimasak).

Jika ingin mencoba diet raw food, pastikan 75% makanan yang Anda konsumsi mentah. Sebagian besar pengikut diet raw food merupakan raw vegans, tapi beberapa lainnya masih menyantap produk hewani. Tak sedikit juga yang masih mengonsumsi makanan yang dimasak untuk variasi dan kenyamanan.

Pro dan Kontra Diet Raw Food

Pendukung diet raw food percaya bahwa mengonsumsi makanan dalam bentuk utuh dan mentah ideal untuk kesehatan manusia. Meski demikian, ide tersebut nyatanya tidak didukung oleh sains. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa makanan yang dimasak dan mentah memiliki manfaat kesehatannya masing-masing.

Salah satu alasan utama mengapa diet raw food dianggap lebih baik adalah kepercayaan bahwa memasak akan merusak nutrisi-nutrisi penting di dalam makanannya.

Memang, makanan mentah bisa bergizi. Namun sebenarnya, proses memasak dapat memecah dinding sel tebal yang terdapat di makanan dan melepaskan nutrisi di dalamnya. Memasak tomat misalnya, akan meningkatkan antioksidan likopen lima kali lipat. Demikian pula jika memasak wortel, akan membuat jumlah beta-karoten lebih meningkat dan lebih mudah diserap tubuh.

Hal yang menjadi masalah adalah jika Anda memasak terlalu panas atau lama. Ini tentunya dapat menghilangkan nutrisi penting yang ada di dalam makanan.

Diet raw veganism juga sering dianggap lebih sehat. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Masalah yang dapat timbul bagi pelaku diet ini adalah kekurangan nutrisi, terutama untuk vitamin B12 dan D, selenium, seng, zat besi, dan asam lemak omega-3. Tanpa mengonsumsi suplemen dalam bentuk pil, akan sangat sulit untuk mendapatkan jumlah yang cukup dari nutrisi-nutrisi tersebut dari makanan nabati mentah.

Apabila Anda memang ingin menerapkan diet raw veganism, pastikan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi-nutrisi yang telah disebutkan, baik melalui makanan atau suplemen dalam bentuk pil.

Satu hal lagi yang perlu menjadi perhatian adalah mengonsumsi makanan mentah atau setengah matang dapat membuat Anda berisiko keracunan makanan, karena bakteri, jamur, dan parasit yang mungkin ada di makanan tersebut. Karena itu, mencuci bersih buah dan sayur sebelum dikonsumsi sangatlah penting.

Sebagai kesimpulan, jika Anda ingin mencoba diet raw food atau diet apa pun, sangat dianjurkan untuk mendiskusikannya terlebih dulu dengan dokter ahli gizi. Hal ini penting untuk memastikan Anda mendapatkan asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar