Sukses

Perbedaan Antara Pendarahan Normal dan Berbahaya Saat Hamil

Pendarahan dapat terjadi pada semua trimester kehamilan. Anda harus tahu ciri pendarahan yang berbahaya saat hamil.

Klikdokter.com, Jakarta Tiap ibu ingin menjalani kehamilan dengan nyaman dan lancar. Namun, sering kali timbul gejala atau keluhan yang mengganggu. Salah satu yang sering diresahkan ibu hamil adalah pendarahan.

Pendarahan saat hamil dapat terjadi pada setiap trimester, sejak minggu pertama hingga akhir. Setiap ibu, baik yang baru pertama kali hamil atau yang sedang menjalani kehamilan berikutnya, pasti akan tetap merasa khawatir bila mengalami pendarahan.

Hal ini sangat wajar dan memang setiap pendarahan saat hamil tidak boleh dianggap sepele.

Tentu saja tidak setiap pendarahan yang terjadi saat hamil itu berbahaya. Ada juga pendarahan yang bersifat normal atau wajar. Pendarahan yang normal biasanya terjadi di trimester awal, sekitar minggu kelima kehamilan karena terjadi perlekatan bakal janin ke dinding rahim (implantasi embrio).

Sekitar 20-40% wanita hamil mengalami pendarahan di trimester pertama akibat implantasi embrio tersebut. Jumlah pendarahan tidak banyak, hanya berupa bercak atau sering disebut spotting dan berlangsung selama beberapa hari saja.

Warnanya bisa jadi merah muda hingga merah segar dan tidak bertambah banyak. Selain itu, perdarahan tidak disertai nyeri atau kram perut.

Selain karena implantasi embrio, pendarahan juga dapat terjadi karena masalah lain di luar kehamilan. Kondisi pendarahan bisa juga terjadi, misalnya, setelah berhubungan seksual saat hamil, adanya perubahan di leher rahim (serviks), atau infeksi di vagina atau serviks.

Kadang-kadang, kelelahan fisik dan stres psikis juga dapat menyebabkan keluarnya bercak pendarahan saat hamil. Pendarahan karena sebab-sebab tersebut umumnya tidak bersifat berat, lebih sering berupa bercak merah, dan tidak berlangsung lama.

Perdarahan juga dapat terjadi saat kehamilan memasuki usia 37-40 minggu sebagai tanda awal dari persalinan. Bila darah keluar bercampur lendir, disertai kontraksi rahim yang semakin teratur dan kuat, bisa jadi persalinan sudah dimulai.

1 dari 2 halaman

Pendarahan berbahaya

Pendarahan juga dapat menjadi tanda dari adanya kondisi kesehatan yang serius dan mengancam kehamilan. Inilah beberapa penyebab pendarahan yang berbahaya saat hamil beserta gejalanya.

● Keguguran (Abortus)

Pendarahan akibat keguguran terjadi di trimester pertama kehamilan, yaitu di bawah usia 20 minggu. Gejalanya adalah pendarahan dari vagina, nyeri perut terutama bagian bawah, keluarnya gumpalan darah yang diduga merupakan janin.

Selain itu, ibu juga akan merasa tanda-tanda kehamilannya seakan “hilang”, seperti tidak lagi merasa mual, muntah, kembuh, dan begah. Tanda yang pasti dari keguguran adalah pada pemeriksaan USG kehamilan tidak terdengar denyut jantung janin dan tidak terlihat bagian janin lagi di dalam rahim.

● Kehamilan ektopik

Kehamilan ektopik adalah hamil di luar kandungan, artinya embrio terbentuk dan berkembang di tempat lain selain rahim, misalnya di saluran tuba (tuba falopi). Apabila kehamilan ektopik tersebut terganggu dapat menyebabkan pecahnya tuba falopi dan terjadi pendarahan.

Pendarahan terjadi di trimester pertama, dalam jumlah banyak dan disertai nyeri perut yang sangat hebat. Selain itu, kondisi lain yang dirasakan adalah badan lemas, kepala pusing, dan penurunan tekanan darah. Kondisi ini mengancam nyawa dan harus ditangani segera.

● Gangguan letak plasenta

Pada beberapa kondisi, plasenta sering kali melekat di bagian bawah rahim mendekati leher rahim. Hal tersebut menyebabkannya mudah mengalami pendarahan. Pendarahan yang terjadi di trimester kedua atau ketiga (di atas usia 20 minggu), jumlahnya sedang hingga cukup banyak, warnanya merah segar, dan sering kali tidak disertai gejala apapun seperti nyeri perut.

● Lepasnya plasenta (Solusio plasenta)

Pada kondisi ini, plasenta yang seharusnya menempel di dinding rahim mengalami pelepasan atau robekan sebelum waktunya bayi dilahirkan. Gejalanya adalah pendarahan yang terjadi di trimester kedua dan ketiga, jumlahnya sedang hingga banyak, warnanya merah gelap, perut tampak semakin besar, tegang, dan sangat nyeri.

Selain itu, pada pemeriksaan USG, denyut jantung janin juga melambat dan gerakan janin berkurang. Solusio plasenta termasuk ke dalam kondisi darurat yang harus ditangani segera karena mengancam nyawa ibu dan bayi. 

● Kelahiran prematur

Pendarahan yang terjadi sebelum usia 36 minggu dan disertai kontraksi rahim yang rutin dan kuat bisa jadi pertanda terjadinya persalinan prematur (persalinan dini). Kondisi ini tentu membahayakan bayi karena lahir sebelum organ tubuhnya matang dan siap untuk berfungsi.

Terlepas dari apapun penyebabnya, jangan pernah menganggap remeh pendarahan apapun yang terjadi selama hamil. Segera berkonsultasi dengan bidan atau dokter kebidanan Anda, untuk mengetahui penyebab pendarahan dan memastikan kondisi janin dalam kandungan.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar