Sukses

Benarkah Faktor Cuaca dan Makanan Pengaruhi Depresi?

Sejumlah hal, seperti cuaca dan makanan, dianggap bisa memengaruhi tingkat depresi seseorang. Simak faktanya di sini!

Klikdokter.com, Jakarta Pada kenyataannya, faktor cuaca dan makanan memang mampu memberikan pengaruh signifikan terhadap depresi. Ya, kondisi tersebut merupakan keadaan umum di mana terjadi penurunan emosi dan mood seseorang. Akibatnya, aktivitas sehari-hari pun bisa terganggu.

Sampai sekarang, belum diketahui latar di balik gangguan depresif yang datang pada seseorang. Faktor penyebabnya dapat dibagi menjadi tiga, yakni faktor biologis, faktor keturunan dan faktor psikososial. Ketiga faktor tersebut dapat berdiri sendiri maupun saling terkait, hingga berkembang menjadi gangguan kejiwaan seperti bipolar.

Menurut dr. Ellen Theodora dari KlikDokter, depresi tidak terjadi begitu saja, melainkan ada tanda-tanda yang signifikan. Tanda atau gejala tersebut, antara lain:

  • Depresi terjadi hampir sepanjang hari, dan berlangsung setiap hari (merasa atau tampak sedih atau kosong). Pada anak-anak atau remaja dapat bermanifestasi sebagai mood yang mudah tersinggung.
  • Hilangnya minat pada hampir semua aspek sepanjang hari dan terjadi hampir setiap hari.
  • Penurunan berat badan yang bermakna, tetapi individu yang bersangkutan tidak melakukan diet atau olahraga yang rutin.
  • Insomnia atau hipersomnia tiap harinya.
  • Agitasi atau redartasi psikomotor (aktivitas atau gerakan motorik).
  • Kelelahan atau hilangnya energi tiap hari.
  • Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan.
  • Hilangnya kemampuan untuk berpikir atau memutuskan sesuatu.
  • Pikiran akan kematian yang berulang.

Di luar segala penyebab yang umum terjadi, konon makanan dan cahaya dapat memengaruhi depresi. Melansir dari Liputan6.com, hal tersebut dijelaskan oleh Regisda Machdy Fuadhy, S.Psi., M.Sc dari Pijar Psikologi.

Cuaca, makanan, dan dampaknya terhadap depresi

Regis menjelaskan bahwa depresi turut dipengaruhi oleh cuaca dan makanan sebagai faktor eksternal. Contoh nyata cuaca memengaruhi mood adalah fenomena winter blues ketika orang-orang tinggal di negara yang memiliki musim salju.

Nuansa gloomy dan kurangnya sinar matahari sebagai sumber vitamin D konon berpengaruh terhadap mood seseorang. Layaknya cuaca, makanan juga memberikan efek besar terhadap depresi. Sehingga terkait musim salju tadi, hal tersebut disinyalir memberikan pengaruh yang signifikan bagi pikiran.

Berbicara soal makanan, Regis menyebut bahwa masakan yang overcooked alias terlalu matang membuat probiotik di dalam usus tidak mendapatkan zat yang dibutuhkan untuk memproduksi serotonin, hormon yang menghasilkan rasa senang.

Dampak ini tidak baik, mengingat seharusnya makanan dapat menaikkan mood dan perasaan seseorang menjadi lebih bahagia.

Maka dari itu, orang-orang yang mengalami depresi disarankan untuk melihat apa yang mereka makan dan mulai beralih ke gaya hidup sehat. Konon, kebiasan-kebiasaan menyehatkan ini juga dapat memberikan dampak yang signifikan.

Pola hidup modern juga bikin depresi?

Regis turut menambahkan bahwa pola hidup modern yang serba cepat menambah beragam penyebab stres setiap harinya. Hal ini membuat semakin banyak orang yang rentan dengan depresi. Berbeda dengan zaman dahulu, di mana faktor stres manusia hanyalah binatang buas dan cuaca ekstrem yang melanda.

Meski pengidap depresi semakin bertambah dari waktu ke waktu, namun banyak yang minim kesadaran atas kondisi dirinya sendiri. Hal ini menyebabkan penanganan depresi jadi terbengkalai.

“Pengobatan pasien dengan depresi harus tepat pada sasarannya, yakni keamanan dari pasien harus terjamin, pemeriksaan diagnostik yang lengkap harus dijalankan, dan rencana pengobatan harus dilakukan secara menyeluruh,” ujar dr. Ellen.

Makanan, cuaca, dan faktor lainnya dapat memberikan dampak signifikan bagi kadar stres Anda hingga berisiko menyebabkan depresi. Sadari dan tangani secara tepat, agar Anda terhindar dari gangguan kejiwaan, salah satunya seperti bipolar.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar