Sukses

Memacu Jiwa Kompetitif yang Sehat pada Anak

Mengapa orang tua harus membentuk jiwa kompetitif pada anak sejak dini?

Klikdokter.com, Jakarta Tak selamanya menjadi kompetitif itu buruk. Mendidik anak untuk bersaing secara sehat justru bisa berdampak positif. Asalkan, orang tua turut membimbing dengan baik setiap langkah anak. Lagi pula bukankah persaingan tak bisa sepenuhnya dihindari, terutama ketika anak sudah masuk sekolah, atau di dalam dunia kerja nantinya? 

Kompetisi. Kata itu sendiri berasal dari bahasa Latin competere yang artinya “untuk berjuang bersama”. Jadi, ketika anak bersaing berarti ia berjuang dengan orang lain untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.

Banyak pakar sepakat bahwa kompetisi itu krusial untuk anak. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, persaingan dapat meningkatkan kinerja dan kebahagiaan seseorang.

Salah satu kesalahan terbesar dalam pengasuhan anak adalah menginginkan anak terus-menerus merasa nyaman, melindungi anak terlalu jauh dari kegagalan atau kekecewaan. Padahal, ini bisa berimbas negatif pada citra diri anak di kemudian hari.

“Setiap orang tua harus membiarkan anak-anak mereka gagal. Anak-anak harus diberi kesempatan untuk mengerti situasi menang dan kalah dan bahwa kemenangan membutuhkan usaha,” ujar Po Bronson, penulis buku “Nurture Shock: New Thinking About Children”, dikutip dari CNN.

Pentingnya menghadapkan anak pada persaingan juga dikemukakan oleh Dr. Timothy Gunn, seorang neuropsikologi pediatrik. Ia mengatakan pada situs web Parents, “Kompetisi membantu anak belajar bahwa tak selalu yang terbaik atau terpintar yang akan sukses, tetapi mereka yang selama ini bekerja keras.”

Terlebih lagi, kata Gunn, anak-anak yang terlibat dalam kompetisi akan mendapatkan keterampilan sosial melalui interaksi dengan anak-anak lainnya, belajar nilai-nilai kerja keras, dan mengembangkan rasa percaya diri.

Berikut ini beberapa kiat yang dapat orang tua terapkan dalam mengajarkan anak persaingan sehat:

1. Tanamkan konsep positif mengenai persaingan

Sebagai permulaan, tanamkan konsep positif mengenai persaingan itu sendiri. Katakan kepada anak bahwa pencapaian (achievement) bukan hanya tentang memenangkan sesuatu, tetapi memiliki tujuan akan sesuatu dan berusaha mencapainya. Jikapun kalah, itu tidak masalah selama mereka berusaha dan belajar dari pengalaman.

2. Jadilah contoh yang baik

Orang tua dapat mencoba bermain board game bersama anak sebagai cara untuk mengajarkan tentang persaingan sehat. Ingatlah bahwa anak akan mencontoh perilaku orang tua mereka. Jadi gunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Jika anak menang, jangan ragu untuk mengucapkan selamat kepada mereka. Sebaliknya jika orang tua menang, tetaplah menyemangati anak. 

3. Dorong anak untuk merancang tujuan pribadi

Dorong anak untuk lebih fokus berkompetisi dengan diri mereka sendiri ketimbang melawan pemain lain. Hal ini membantu mencegah mereka merasa frustrasi ketika kalah, atau menjadi orang yang terlalu kompetitif. Misalnya saat anak lomba lari. Tetapkan target positif kepada anak (contoh: dengan menyelesaikan 1 km dalam 15 menit), ketimbang target negatif (contoh: “lari secepat mungkin supaya bisa mengungguli si x”).

4. Membangun empati

Kompetisi dapat menjadi tidak sehat jika orang tua mengajari anak untuk lebih peduli dengan predikat nomor satu ketimbang menjadi teman yang baik atau atlet yang terlatih. Untuk itu, mengasah empati kepada anak sangat penting agar mereka tidak memikirkan dirinya sendiri, serta mampu membangun hubungan interpersonal yang baik.

Orang tua dapat sekali-kali menanyakan kepada anak, “Jika kamu kalah, bagaimana perasaanmu?” Atau bermain peran dengan bertanya, “Bila saya kalah, apa yang dapat kamu katakan kepada saya untuk membuat saya merasa lebih baik?” Dengan demikian, anak dapat mengerti bagaimana seharusnya bersikap kepada diri sendiri maupun orang lain, jika mereka menang ataupun kalah.

5. Tekankan pada motivasi intrinsik

Dalam suatu kompetisi, seseorang termotivasi tidak hanya oleh faktor ekstrinsik seperti menang, piala, atau uang, tetapi juga oleh faktor-faktor intrinsik seperti kegembiraan dan pengembangan diri.

Apabila orang tua hanya memotivasi dengan faktor ekstrinsik, anak akan memiliki mindset ini: “Saya harus mendapatkan piala itu; jika tidak, saya pasti tidak cukup baik.” Sementara jika orang tua menekankan pada motivasi intrinsik, anak bisa berkembang menjadi pribadi yang lebih tangguh (khususnya jika mereka kalah), lebih menghargai diri mereka, serta lebih percaya diri.

Orang tua dapat mendorong motivasi intrinsik ini dengan mengajukan pertanyaan seperti "Tadi menyenangkan nggak? atau "Apa yang kamu pelajari dalam lomba itu?” ketimbang “Tadi menang nggak?”, “Kenapa tadi nggak menang?”, dsb.

6. Keseimbangan itu penting

Menang bukanlah segalanya dan mencoba untuk menang dalam segala hal tentunya melelahkan. Anak tidak harus berbakat dalam segala hal, dan mereka akan baik-baik saja dengan itu.

Jika anak tampak kecewa akan suatu hal meski telah berusaha sebaik-baiknya, orang tua dapat mengatakan, “Tapi kamu jago dalam bidang lainnya, dan setiap orang memiliki keahliannya masing-masing, dan karena itulah dunia ini menjadi berwarna.” Intinya, selama anak telah melakukan yang terbaik, maka tidak penting menang atau kalah. Karena yang paling utama adalah berjuang untuk melakukan yang terbaik.

Kompetisi dapat menjadi tidak sehat ketika anak terlalu fokus untuk menang dan tidak menghiraukan proses. Sebagai orang tua, jangan menganggap kekalahan yang dialami anak sebagai hal yang mengecewakan. Dalam perjuangan, selalu ada usaha dan progres untuk menjadi lebih berkembang. Berbanggalah jika anak telah berusaha sebaik-baiknya, dalam kemenangannya ataupun kekalahannya.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar