Sukses

5 Fakta Makanan Berpengawet yang Harus Anda Tahu

Karena sangat sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, ketahui fakta-fakta penting seputar makanan berpengawet.

Klikdokter.com, Jakarta Pengawet sering kali digunakan dalam produksi makanan dan minuman, terutama dalam kemasan. Terkadang makanan berpengawet dianggap menakutkan dan tidak sehat oleh masyarakat. Benarkan demikian? Mari simak 5 fakta makanan berpengawet.

1. Fungsi pengawet

Sesuai dengan namanya, pengawet adalah zat yang ditambahkan pada makanan tertentu dengan tujuan untuk mencegah atau memperlama proses makanan menjadi basi atau busuk. Adanya berbagai hal dalam makanan, misalnya bakteri, jamur, enzim, atau zat lainnya dapat berperan dalam proses makanan segar menjadi basi.

Oksidasi juga dapat berperan dalam pembusukan makanan, dengan merusak senyawa biokimia esensial dan/atau merusak sel tanaman dan hewan. Pengawetan makanan umumnya menggunakan berbagai metode yang mencegah proses pembusukan di atas.

2. Pengawet pada masa lalu

Sejak jaman dahulu, pengawetan makanan telah digunakan untuk membuat makanan lebih tahan lama. Cara-cara yang digunakan pada jaman dahulu bermacam-macam misalnya dengan pengasapan, pengacaran, pengeringan, dan lain-lain.

Metode pengasapan efektif untuk mengawetkan makanan karena asap kayu yang digunakan memiliki sifat antimikroba. Cara ini dapat membunuh patogen yang bisa merusak makanan. Metode pengeringan dapat mencegah kondisi lembap yang disukai patogen untuk hidup dan berkembang biak.

Penggunaan garam, misalkan seperti pembuatan ikan asin, juga kerap digunakan untuk mengawetkan makanan. Diperkirakan, cara kerjanya sama dengan pengeringan, yaitu penggunaan garam yang dapat membantu mengikat molekul air. Selain itu, kadar garam yang tinggi membuat patogen sulit hidup.

Proses lain pengawetan makanan juga bisa menggunakan proses kimiawi untuk mengubah satu bahan makanan menjadi bahan makanan lainnya dengan bantuan kuman, yang dikenal sebagai proses fermentasi. Contohnya adalah pembuatan roti, keju, tape, dan sebagainya. Memanaskan makanan, misalkan dengan pasteurisasi, juga sering kali digunakan untuk membunuh kuman pada makanan sehingga lebih awet.

3. Pengawet pada masa sekarang

Pada masa sekarang, umumnya makanan ditambahkan zat kimawi sebagai pengawet. Zat kimia yang digunakan ini memiliki berbagai jenis dan masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Beberapa contoh di antaranya adalah:

  • Sulphite, misalkan Sulphur dioxide. Senyawa ini digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri dan sering digunakan dalam produk wine, buah kering, dan produk dari kentang.
  • Sorbic acid dan senyawa sorbat lainnya sering kali digunakan dalam pengawetan keju, wine, buah kering, dan masih banyak lagi.
  • Nitrit dan senyawa nitrat banyak digunakan dalam produk daging olahan untuk melindungi dari bakteri Clostridium botulinum yang menyebabkan botulisme. Contoh produk yang mungkin menggunakan pengawet jenis ini adalah sosis, bacon, ham, keju, dan masih banyak lagi.
  • Benzoic acid dan benzoat digunakan sebagai antibakteri dan antijamur dalam produk makanan, misalnya pada acar sayuran, selai, aneka saus, manisan buah, dan lain-lain.
  • Natamycin, sering digunakan pada berbagai produk sosis dan keju.

4. Apakah berbahaya?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) bersama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang berada di bawah Persatuan Bangsa-Bangsa bertanggung jawab mempelajari efek dari penggunaan pengawet bagi kesehatan manusia. Komite gabungan ahli bahan tambahan pangan atau JECFA yang dikelola bersama FAO dan WHO melakukan penilaian risiko terhadap bahan-bahan pengawet yang beredar di pasaran.

Bahan pengawet umumnya hanya dapat digunakan di pasaran apabila sudah melewati penilaian JECFA dan terbukti tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat. Selanjutnya, pemerintah dapat memperbolehkan penggunaan bahan tertentu sebagai pengawet dengan mempertimbangkan hasil penilaian JECFA ataupun pemeriksaan yang dilakukan sendiri dalam skala nasional.

Penggunaan bahan pengawet perlu memperhatikan ADI (acceptable daily intake), yaitu jumlah pengawet yang dapat dikonsumsi setiap hari secara aman semasa hidup, tanpa memberikan efek samping yang merugikan bagi kesehatan.

5. Cara mengetahui apakah makanan mengandung pengawet atau tidak

Secara internasional, setelah bahan pengawet lolos dari penilaian JECFA maka akan ditetapkan ADI oleh Codex Alimentarius Commission (CAC). Standar ini menjadi referensi bagi proteksi konsumen dari bahan-bahan yang berbahaya. Pemerintah dapat menggunakan standar ini sebagai acuan regulasi makanan di negaranya masing-masing.

Selain itu, CAC juga membuat standar dan pedoman dalam menentukan label makanan. Di banyak negara yang menerapkan standar ini, produsen diwajibkan untuk menuliskan bahan pengawet yang digunakan dalam produknya di label produk makanan tersebut, sehingga Anda dapat dengan mudah membacanya dalam label makanan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam Perka BPOM No. 36 Tahun 2013 telah mengatur jenis pengawet apa saja yang boleh digunakan dalam bahan pangan tertentu, beserta detail batas maksimum penggunaannya.

Penetapan batas maksimum penggunaan pengawet tentunya didasari kajian ilmiah analisis risiko. Analisis risiko yang dilakukan telah mempertimbangkan kemungkinan paparan maksimum oleh manusia dan dosis terendah penggunaan yang tidak menimbulkan efek negatif terhadap manusia, atau sering kali disebut no-observed-effect-level (NOEL).

Menurut Perka BPOM tersebut, terdapat beberapa jenis bahan pengawet yang diizinkan penggunaannya, yakni asam sorbat dan garamnya, asam benzoat dan garamnya, etil para-hidroksibenzoat, metil para-hidroksibenzoat, sulfit, nisin, nitrit, nitrat, asam propionat dan garamnya, dan lisozim hidroklorida.

Dampak atau efek yang bisa timbul akibat bahan pengawet pada makanan bisa bervariasi tergantung usia serta riwayat kesehatan seseorang, seperti kesulitan bernapas, iritasi kulit, diare, kerusakan ginjal, dan lain-lain. Untuk mencegah risiko tersebut, baca selalu label nutrisi pada kemasan makanan berpengawet.  Cara terbaik adalah dengan memilih bahan makanan segar bernutrisi, tanpa bahan pengawet, demi kesehatan tubuh Anda dan keluarga dalam jangka panjang.

[RN/ RVS]

1 Komentar