Sukses

Obesitas Bisa Ditangani dengan Operasi Otak, Benarkah?

Seorang ahli saraf melakukan operasi otak untuk membantu pasien mengatasi obesitas. Dan berhasil! Seperti apa operasi ini dilakukan?

Klikdokter.com, Jakarta Obesitas adalah adanya lemak berlebih yang terakumulasi dalam tubuh, sehingga membuat berat badan melebihi batas normal. Tentu saja hal ini menimbulkan efek negatif pada tubuh. Mulai dari menyebabkan ketidaknyaman dalam melakukan aktivitas sehari-hari,  rasa rendah diri, depresi, serta potensi terjadinya potensi sejumlah penyakit berbahaya. Ada banyak cara untuk mengatasi obesitas. Kini yang tengah diperbincangkan adalah penanganan obesitas dengan operasi otak.

Menurut dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, penilaian apakah seseorang memiliki obesitas umumnya dilakukan melalui penentuan indeks massa tubuh (IMT atau BMI). Tak hanya itu, dapat juga menggunakan penentuan tebal lemak dalam perut, rasio lingkar pinggang atau pinggul, ataupun pengukuran lingkar pinggang. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan standar BMI yang diterbitkan pada tahun 2000, yakni:

  • IMT <18,5 kg/m2 adalah kekurangan berat badan (underweight)
  • IMT 18,5-22,9 kg/m2 adalah berat badan normal
  • IMT 23-24,9 kg/m2 adalah kelebihan berat badan (overweight)
  • IMT 25-29,9 kg/m2 adalah obesitas derajat I
  • IMT ≥30 kg/m2 adalah obesitas derajat II

“Dengan mengurangi hingga 5 persen dari berat badan, Anda yang berada dalam risiko tinggi penyakit karena obesitas dapat merasakan perbedaannya dari segi kesehatan. Penurunan berat badan yang dianjurkan adalah 0,5-1 kg per minggu melalui diet dan olahraga. Untuk menurunkan berat badan, Anda perlu membakar kalori lebih banyak dibandingkan yang Anda konsumsi,” ujar dr. Nadia mengenai kiat menangani obesitas.

Meski begitu, beberapa orang yang mengalami obesitas kadang mesti berjuang keras, bahkan tidak menuai hasil saat berusaha menurunkan berat badan. Seperti dilansir di laman BBC, ada sebuah kasus penanganan unik terkait obesitas. Konon, setelah gagal melakukan berbagai cara untuk mengatasi kelebihan berat badannya yang melonjak, Anna, seorang wanita asal Jerman menjalani operasi otak yang disebut sebagai Deep Brain Stimulation (DBS). Apakah itu?

1 dari 3 halaman

Deep Brain Stimulation yang membenahi otak manusia

DBS sebelumnya dikenal sebagai operasi yang dilakukan untuk menangani permasalahan seperti tremor dan gangguan gerakan atau motorik sejenis. Prosedur operasinya yakni memasang elektroda di dalam otak yang terhubung dengan perangkat stimulasi menggunakan kawat halus. Alat tersebut biasanya ditempatkan di bawah kulit tulang selangka, yang nantinya akan mengirimkan arus listrik lewat elektroda. Alih-alih untuk pasien tremor, tindakan ini kemudian diterapkan oleh Thomas Munte, ahli saraf asal Universitas Lubeck, Jerman, untuk membantu mereka yang mengalami masalah obesitas.

Di sejumlah negara, metode DBS turut digunakan lebih dari sekadar penanganan tremor, tapi juga depresi seperti yang dilakukan Thomas kepada Anna. Ajaibnya, berat badan sang pasien juga ikut turun hingga 50 persen secara bertahap. Thomas berkata bahwa awalnya operasi ini dilakukan untuk mengurangi depresi akibat obesitas. Namun, ternyata kedua hal tersebut saling berkaitan hingga memberi dampak yang signifikan bagi Anna.

Hasil penurunan berat badan Anna usai menjalani perawatan lantas membuka topik pembahasan baru soal cara mengatasi obesitas yang menjadi permasalahan banyak orang di dunia. Hal ini juga mengungkapkan bahwa dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, otak dapat diperbaiki dari perilaku yang melemahkan, seperti kecanduan makan.

2 dari 3 halaman

DBS bisa jadi solusi obesitas?

“Obesitas pada beberapa individu dapat disebabkan oleh sistem imbalan berbeda pada otak. Beberapa orang gemuk bahkan menunjukkan pola otak yang berbeda ketika terpapar dengan gambar makanan yang terlihat lezat, daripada orang yang kurus,” ujar Thomas.

Pernyataan Thomas tersebut merujuk pada area penarik perhatian orang-orang yang kecanduan pada objek keinginan mereka, baik itu makanan, alkohol, atau obat-obatan. Biasanya, pada penderita obesitas bagian otak yang membantu bertindak secara rasional dan mencegah impulsif diambil alih oleh bagian otak lainnya, yang kerap memunculkan hasrat pada makanan.

Menurut Thomas, pemakaian DBS yang difokuskan untuk menyembuhkan obesitas memang belum dapat dilakukan secara sepenuhnya. Seperti yang telah dijelaskan, bahwa awalnya Thomas melakukan operasi ini untuk menangani depresi yang dialami Anna.

“Kami masih belum tahu persis dampak DBS dan itulah salah satu alasan mengapa ia tetap kontroversial. Kadang-kadang, dalam sebuah pengobatan Anda mesti melakukan perawatan klinis terlebih dahulu sebelum Anda bahkan tahu persis cara kerjanya,” kata Thomas. Sejauh ini, selain pada tremor dan gangguan motorik, DBS juga bisa diterapkan pada pasien Parkinson.

Meski operasi otak DBS diketahui punya andil besar dalam menangani obesitas, tapi kelebihan berat badan ini masih menjadi perbincangan, khususnya mengenai apa cara yang paling efektif untuk mengatasinya. Cara yang paling baik untuk memulainya adalah dengan melakukan perubahan gaya hidup seperti perubahan pola makan, melakukan aktivitas fisik, dan perubahan perilaku. Penggunaan obat-obatan tertentu juga kadang dibutuhkan, tapi sebelumnya Anda harus mengunjungi dokter atau ahli gizi untuk membantu Anda mengatasi kelebihan berat badan secara sehat dan terpantau.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar