Sukses

Mengenal Nama dan Cara Kerja Obat TBC

Pasien tuberkulosis perlu mengonsumsi obat dalam jangka waktu yang cukup lama. Yuk, kenali nama dan cara kerja obat TBC.

Klikdokter.com, Jakarta Tuberkulosis alias TBC merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini tak hanya menyerang paru, tapi juga organ tubuh lainnya seperti usus dan otak. Jenis obat TBC pun tidak sembarangan.

Seseorang yang yang dinyatakan mengidap TBC perlu mengonsumsi obat-obatan sesuai anjuran dokter selama 6-12 bulan, tergantung tingkat keparahan penyakit. Jika tidak dikonsumsi sesuai anjuran, kuman penyebab TBC akan menjadi kebal, sehingga penyakit semakin sulit untuk disembuhkan.

Kenali pengobatan TBC

Tujuan konsumsi obat TBC pada pasien yang terkena penyakit tersebut, antara lain:

  • Menyembuhkan pasien dan memperbaiki produktivitas serta kualitas hidup.
  • Mencegah terjadinya kematian akibat perburukan kondisi TBC.
  • Menekan tingkat kekambuhan TBC di kemudian hari.
  • Menurunkan angka penularan TBC.
  • Mencegah resitensi obat.

Pengobatan TBC dibagi menjadi 2 tahap, yaitu tahap awal dan tahap lanjutan sebagai berikut:

  • Tahap awal

Pada tahap awal, pengobatan diberikan setiap hari. Hal ini bertujuan untuk menurunkan jumlah kuman dalam tubuh pasien.

Pengobatan tahap awal diberikan selama 2 bulan. Ketika pengobatan dijalani secara rutin setidaknya selama 2 minggu, penularan penyakit ini sudah sangat menurun.

  • Tahap lanjutan

Pengobatan tahap lanjutan ditujukan untuk membunuh sisa-sisa kuman yang masih ada dalam tubuh pasien, sehingga tingkat kekambuhan penyakit menjadi semakin kecil atau bahkan hilang sama sekali.

Beberapa obat TBC yang wajib dikonsumsi oleh penderita penyakit ini, di antaranya:

1. Isoniazid (H)

Isoniazid bersifat bakterisidal atau membunuh kuman. Obat ini memiliki efek samping berupa neuropati perifer, psikosis toksis, gangguan fungsi hati hingga kejang.

2. Rifampisin (R)

Sama seperti isoniazid, rifampisin bersifat bakterisidal. Efek sampingnya berupa sindrom flu, gangguan gastrointestinal (saluran cerna), urine berwarna merah, gangguan fungsi hati, trombositopeni, demam, ruam kulit, sesak napas, dan anemia hemolitik.

3. Pirazinamid (Z)

Memiliki sifat bakterisidal, dengan efek samping berupa gangguan gastrointestinal, gangguan fungsi hati, dan gout artritis.

4. Streptomisin (S)

Streptomisin memiliki sifat bakterisidal. Efek samping yang ditimbulkan obat ini berupa nyeri di tempat suntikan, gangguan keseimbangan dan pendengaran, renjatan anafilaktik, anemia, agranulositosis, serta trombositopeni.

5. Etambutol (E)

Etambutol bersifat bakteriostatik, artinya menghentikan pertumbuhan bakteri, bukan membunuh bakteri. Efek samping etambutol adalah gangguan penglihatan,

Kombinasi obat TBC di atas harus menggunakan standar nasional berdasarkan rumus yang direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) berikut ini:

  • Kategori 1: 2(HRZE) / 4(HR)3
  • Kategori 2: 2(HRZE)S / (HRZE) / 5(HR)3E3
  • Kategori anak: 2(HRZ) / 4(HR) atau 2HRZA(S) / 4-10HR

Untuk memudahkan konsumsi obat TBC yang cukup banyak, kini sudah tersedia kombinasi obat yang terdiri dari 2-4 jenis OAT. Kombinasi ini dikenal sebagai FDC atau fixed drug combination. Keuntungan FDC, di antaranya:

  • Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan, sehingga efektivitasnya lebih tinggi dan kemungkinan terjadinya efek samping bisa ditekan.
  • Mencegah penggunaan obat tunggal, yang menurunkan risiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep.
  • Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit, sehingga pengobatan mejadi lebih sederhana
  • Meningkatkan kepatuhan pasien untuk mengonsumsi obat-obatan sesuai anjuran yang diberikan dokter.

TBC atau tuberkulosis adalah penyakit berbahaya, yang sebenarnya dapat disembuhkan dengan konsumsi obat-obatan secara rutin dan teratur. Karena itu, jika Anda adalah salah satu orang yang mengalami penyakit ini, pastikan Anda mematuhi segala aturan yang diberikan oleh dokter terkait konsumsi obat TBC. Dengan demikian, kesehatan tubuh seperti sedia kala tak sekadar mimpi belaka. Salam sehat!

[NB/ RVS]

1 Komentar