Sukses

6 Fakta Mengenai Operasi Kelamin

Operasi kelamin yang dilakukan seorang transgender di Indonesia, sedang ramai diperbincangkan. Ini fakta medisnya!

Klikdokter.com, Jakarta Indonesia tengah dikejutkan dengan berita artis transgender yang melakukan operasi kelamin. Dalam dunia medis, keraguan atas identitas gender dikenal sebagai disforia gender. Seorang pria yang terlahir dengan penis namun memiliki perilaku layaknya seorang wanita menganggap dirinya terperangkap dalam tubuh yang salah. Hal inilah yang kerap menjadi pemicu seorang pria akhirnya melakukan operasi kelamin.

Transgender sendiri adalah sekumpulan orang yang telah mengubah identitas gendernya, misalnya dari pria menjadi wanita ataupun sebaliknya. Untuk mencapai perubahan ini, para transgender melalukan berbagai terapi seperti terapi hormonal, non-hormonal, psikologi dan operasi kelamin.

Walaupun masih menjadi kontroversi di Indonesia, operasi kelamin kini sudah mulai banyak dilakukan Berikut adalah fakta mengenai operasi kelamin yang perlu Anda ketahui :

1. Vaginoplasty sama dengan operasi ubah kelamin

Vaginoplasty merupakan tindakan untuk merekonstruksi vagina. Rekonstruksi ini dapat dilakukan sebagian atau total tergantung tujuan masing-masing. Biasanya vaginoplasty dilakukan dengan alasan memperbaiki bentuk vagina. Sedangkan SRS (Sex Reassignment Surgery) merupakan jenis operasi vaginoplasty yang biasa dilakukan oleh male–to-female (MTF).

2. Biaya mahal

Biaya yang dikeluarkan untuk operasi kelamin tidak tanggung-tanggung, konon kabarnya mencapai ratusan juta untuk mengubah jenis kelamin seseorang.

3. Tidak dapat orgasme setelah operasi kelamin

Banyak yang menganggap ketika penis “dipangkas”, maka setelah operasi individu transgender tidak akan bisa mencapai orgasme. Faktanya, menurut pengalaman seorang transgender yang sudah melakukan operasi kelamin, ternyata ia masih mampu mengalami orgasme ketika berhubungan intim. 

Mereka bahkan juga mengaku tetap dapat menikmati kepuasan seksual, baik melalui vagina buatan ataupun melalui dubur. Klitoris dan labia pada vagina hasil operasi memiliki tingkat sensitivitas, sehingga dapat menciptakan orgasme. 

4. Kemandulan setelah operasi

Dengan mengubah kelamin melalui operasi, seorang transgender tidak dapat lagi memperoleh keturunan. Seorang transgender dari pria ke wanita tidak dapat lagi mengeluarkan sperma akibat dibuangnya testis saat operasi. Begitu pula pada wanita yang mengubah kelamin menjadi penis, biasanya rahim dan organ reproduksi lainnya ikut diangkat.

Maka dari itu, sebelum melakukan operasi kelamin, seorang transgender harus benar-benar berpikir matang mengenai keputusannya tersebut. Karena apa yang sudah diubah tidak dapat dikembalikan seperti sedia kala.

5. Dapat menimbulkan gangguan mental hingga bunuh diri

Berhasil mengubah kelamin sesuai yang diinginkan tidak lantas menyelesaikan masalah bagi seorang transgender. Karena seorang transgender harus dihadapkan dengan pandangan keluarga dan masyarakat yang mungkin masih belum dapat menerima hal tersebut.

Jika kondisi ini tidak ditangani dengan tepat, maka dapat berujung pada masalah kejiwaan hingga percobaan bunuh diri.

6. Risiko kanker

Selain operasi kelamin, para transgender biasanya juga diberikan terapi hormon untuk mendukung perubahan fisik mereka. Salah satu contohnya adalah pemberian estrogen untuk memperbesar payudara dan membentuk lekuk tubuh menyerupai wanita asli.

Akan tetapi hormon ini jika distimulasi berlebihan justru dapat memicu terjadinya kanker.

Operasi kelamin yang dijalani oleh individu transgender merupakan pilihan atau hak yang bisa saja ditempuh. Mengingat risiko dan konsekuensi yang akan mereka hadapi, sebaiknya tindakan operasi ini dipikirkan secara matang sebelum dilakukan, agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari.

[NP/ RVS]

 

0 Komentar

Belum ada komentar