Sukses

Benarkah Orang Berwajah Simetris Lebih Sehat?

Wajah simetris memang relatif diakui lebih menarik. Lalu, benarkah anggapan bahwa pemilik wajah simetris lebih sehat?

Klikdokter.com, Jakarta Segala sesuatu yang simetris pada umumnya enak dipandang, terlebih jika menyangkut wajah. Ya, wajah yang simetris memiliki daya tarik tersendiri—terlebih ketika ini menyangkut soal mencari pasangan ideal. Menurut beberapa studi, wajah simetris adalah salah satu kriteria banyak orang dalam mencari pasangan, yang mana banyak peneliti percaya bahwa ini karena wajah simetris dianggap lebih atau paling sehat. Benarkah demikian?

Awalnya, pemilik wajah simetris dianggap lebih sehat

Pada tahun 2005, para peneliti yang berbasis di Universitas New Mexico, Amerika Serikat, meneliti mengukur fitur wajah 400 anak muda dan membandingkannya dengan riwayat kesehatan mereka selama tiga tahun ke belakang. Fitur wajah yang diukur mencakup panjang dagu, lebar rahang, lebar bibir, lebar mata, serta tinggi mata.

Ketika para peneliti mengecek tingkat penyakit dan antibiotik yang dikonsumsi, mereka menemukan kaitan langsung dengan penampilan pada partisipan. Dalam laporan studi, ditulis bahwa maskulinitas pria adalah penanda resistensi terhadap infeksi, yang pada studi tersebut adalah penyakit pernapasan.

Selanjutnya, dikatakan bahwa wanita lebih menginginkan bentuk wajah yang simetris karena mengindikasikan gen yang sehat pada pasangannya. Demikian juga dengan feminitas wajah wanita dipercaya mengindikasikan resistensi terhadap gangguan pernapasan. Bahkan, tim peneliti mengingatkan bahwa para wanita yang pasangannya memiliki telinga, jari, atau bahu yang tidak simetris, mereka cenderung membayangkan pria lain saat sedang berhubungan intim.

Sampai di sini, terdapat indikasi bahwa wajah simetris memang terkait dengan kesehatan. Eh, tapi jangan senang dulu. Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the Royal Society tahun 2014 membantahnya.

1 dari 3 halaman

Adakah kaitan wajah simetris dengan kondisi kesehatan?

Logika yang mengatakan bahwa simetris itu indah (dan lebih sehat) dikarenakan menunjukkan masa kanak-kanak yang relatif sehat, bebas dari penyakit yang bisa menyebabkan luka, bopeng, atau kondisi apa pun yang bisa berdampak pada fitur wajah, yang dapat menyebabkan wajah tampak asimetris—penyakit-penyakit seperti cacar air, gondong, batuk rejan, atau radang amandel. Teori ini sering dikutip dalam model evolusi pilihan pasangan manusia. Psikolog Nicholas Pound, dosen senior di Universitas Brunel, Inggris, menguji asumsi ini.

Dalam studi ini, Nicholas dan timnya menggunakan data kesehatan yang mendalam dari 4.372 remaja. Data yang didapat dari Avon Longitudinal Study of Parents and Children ini diberikan oleh setiap dokter perawatan primer anak. Melalui serangkaian kuesioner, terlihat jelas kesehatan mereka secara keseluruhan, termasuk gejala-gejala dan berbagai infeksi yang pernah mereka alami, mulai dari sakit perut, ruam, influenza, hingga demam scarlet.

Untuk menentukan tingkat simetri wajah, studi melibatkan pemindaian wajah definisi tinggi setiap partisipan yang berusia 15 tahun. Dua puluh satu tanda-tanda pada wajah ditandai dan diukur. Dari situ para peneliti mampu menghitung skor asimetri tiap individu.

Hasilnya? Asimetri pada wajah remaja sama sekali tidak berkaitan dengan kondisi kesehatannya semasa kecil. Meski demikian, asimetri dalam skala yang lebih besar disebabkan oleh cedera signifikan, infeksi yang tidak dapat diobati, dan kelainan genetik langka tertentu. Dikatakan oleh Nicholas bahwa kondisi asimetris ringan dari sebagian besar fitur wajah manusia tidak ada hubungannya dengan penyakit atau lebih tidak sehat dari mereka yang memiliki wajah simetris.

2 dari 3 halaman

Wajah bisa tunjukkan kondisi kesehatan seseorang

Sebuah studi berbeda yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the Royal Society B, para meneliti menemukan bahwa orang dapat secara akurat membedakan antara seseorang yang sakit dan sehat hanya dengan melihat foto.

Peneliti memberi 22 orang dewasa suntikan bakteri umum atau plasebo, yang dapat menipu sistem kekebalan tubuh dan memicu respons inflamasi. Setelah disuntik, para partisipan mulai merasa mual. Dua jam setelahnya, mereka diminta duduk untuk berfoto dengan ekspresi netral tanpa riasan apa pun. Peneliti lalu memperlihatkan foto-foto tersebut kepada 62 orang sukarelawan.

Para sukarelawan melihat foto-foto yang ditunjukkan selama lima detik, yang setelahnya mereka harus memberikan penilaian wajah-wajah dalam foto, apakah terlihat sehat atau sakit. Hasilnya menunjukkan 41 persen sukarelawan mendeteksi wajah dalam sedang dalam kondisi sakit. Dengan kata lain, manusia mampu mendeteksi tanda-tanda penyakit pada fase awal.

Para peneliti juga menunjukkan foto-foto yang sama kepada 60 orang lainnya dan meminta mereka menilai karakteristik spesifik kulit, mata, dan mulut orang-orang dalam foto. Banyak sukarelawan yang dapat mengindentifikasi kulit pucat, wajah bengkak, kelopak mata bengkak, dan mata merah sebagai ciri orang sakit.

Meski demikian, studi ini terbatas pada penyakit umum yang disebabkan oleh respons kekebalan tubuh, dan mungkin tidak berlaku untuk jenis penyakit lainnya. Perlu adanya studi lebih lanjut.

Meski relatif dianggap lebih menarik, sampai di sini diketahui bahwa wajah simetris tidak terbukti membuat pemiliknya lebih sehat daripada mereka yang wajahnya kurang atau tidak simetris. Punya wajah simetris atau tidak, yang terpenting adalah senantiasa merawat kesehatan tubuh dengan menerapkan pola hidup sehat, aktif berolahraga, istirahat cukup, dan sebisa mungkin menjauhi stres.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar