Sukses

4 Jenis Pola Asuh dan Dampaknya pada Anak

Kenali berbagai jenis pola asuh dan pengaruhnya terhadap karakter anak di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Kenali berbagai jenis pola asuh dan pengaruhnya terhadap karakter anak di sini.

Mengasuh anak bukan sekadar memberi makan, menyediakan tempat tinggal yang layak, atau memenuhi berbagai kebutuhan fisik lainnya. Pola asuh anak yang baik harus menunjang perkembangan mental, sosial dan psikologis yang sehat, yang akan memengaruhi karakter anak saat dewasa.

Anak yang baru lahir belum memiliki karakter, melainkan temperamen. Temperamen merupakan dasar dari sebuah karakter, yang diasah melalui berbagai peristiwa seperti hubungan pertemanan dan persaudaraan atau cara belajar di sekolah. Namun, yang paling besar pengaruhnya adalah pola asuh orang tua di rumah.

Dalam dunia psikologi, dikenal empat jenis pola asuh. Masing-masing memiliki dampak yang berbeda terhadap karakter anak. Sebagian besar orang tua akan mengadopsi salah satu pola asuh yang tampak lebih dominan ketimbang pola asuh lainnya.

1. Pola asuh otoriter (authoritarian)

Pola asuh ini lebih mementingkan apa yang anak lakukan ketimbang mengapa anak melakukannya. Ciri utamanya adalah orang tua mendominasi dan memiliki kontrol yang besar pada anak. Ini terlihat dari banyaknya aturan dan batasan yang harus dipatuhi anak tanpa syarat. Mereka memiliki tuntutan dan ekspektasi yang tinggi pada anak-anak dan percaya bahwa cara seperti ini bisa membuat anak sukses dan berperilaku baik.

Sayangnya, orang tua yang otoriter kerap melayangkan ungkapan “pokoknya” dalam berbagai situasi, tanpa peduli dengan keinginan atau pendapat anak. Anak tidak punya pilihan sehingga tidak terdorong untuk membuat keputusan atau menunjukkan kemandirian. Jika aturan tak diikuti, anak akan mendapat hukuman.

Cara seperti ini memang dapat membentuk anak dengan karakter disiplin dan mudah bekerja sama, karena cenderung tunduk pada otoritas. Namun, mereka kurang bahagia karena kurangnya kehangatan dari orang tua. Tak jarang mereka pun kurang menghargai diri sendiri.

Karena terbiasa tak punya pilihan, anak cenderung sulit untuk berpikir kreatif terhadap suatu masalah. Ini membuat mereka mudah cemas jika sesuatu tidak berjalan semestinya. Bahkan saat frustrasi, kemarahan bisa meledak-ledak karena sulit membuat keputusan secara mandiri. Anak-anak inilah yang biasanya menjadi agak “liar” saat kuliah atau berada jauh dari orang tua.

Dalam hal hubungan interpersonal, anak-anak hasil pola asuh otoriter cenderung kurang terampil bersosialisasi dan berkomunikasi, serta mudah menarik diri dari pergaulan. Lebih jauh lagi, mereka juga cenderung menjadi otoriter kepada pasangan maupun setelah menjadi orang tua.

1 dari 4 halaman

Selanjutnya

2. Pola asuh permisif atau memanjakan (permissive/indulgent)

Pola asuh ini adalah lawan dari pola asuh otoriter. Ciri utamanya adalah orang tua menunjukkan sikap permisif atau “serba boleh” dan tidak banyak menuntut. Mereka jarang mendisiplinkan, memberikan batasan atau aturan pada anak karena meyakini bahwa anak harus jujur terhadap dirinya sendiri. Dari luar, orang tua yang permisif lebih terlihat sebagai teman bagi anak.

Memang orang tua memberikan banyak perhatian, kehangatan, dan interaksi. Namun, miskinnya aturan dan batasan akan mendorong anak untuk berbuat semaunya. Hanya mau memakan apa yang diinginkannya atau tidur sesuai kemauannya.

Dalam jangka panjang, ini akan membuat anak bingung. Karena tidak pernah tahu batasan-batasan dalam bersikap dan berperilaku, mengontrol dan mengelola perasaan, anak kerap tidak tahu saat perilakunya tidak bisa diterima oleh orang lain, dan juga tidak tahu mengapa orang lain tidak menyukainya.

Hasil pola asuh permisif memang dapat menghasilkan anak-anak yang sangat kreatif, tetapi kurang bisa mengontrol dirinya dan selalu merasa berhak untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu. Mereka cenderung menuntut, tidak dewasa dan kerap memberontak. Tak jarang, mereka mengalami masalah dengan otoritas yang berwenang. Prestasi akademis pun buruk karena kurangnya motivasi untuk belajar, disiplin dan dorongan dari orang tua.

Meski dapat berlaku sesuai keinginannya, bukan berarti anak dari orang tua yang permisif bahagia. Mereka justru kurang bahagia dan tumbuh dewasa dengan persepsi bahwa orang tua tidak mencintai mereka, sangat berlawanan dengan perasaan orang tuanya.

2 dari 4 halaman

Selanjutnya

3. Pola asuh cuek/abai (neglectful/univolved)

Pada pola asuh ini, orang tua tidak banyak berperan dalam mengasuh anak. Kebutuhan-kebutuhan primer seperti sandang, pangan, papan memang terpenuhi, akan tetapi anak tidak mendapat perhatian atau kehangatan dari orang tua. Orang tua kurang berinteraksi dan menyediakan waktu berkualitas bersama anak bahkan cenderung lepas tangan atau “terputus” dari kehidupan anak. Tak jarang, mereka membiarkan televisi, gawai, dan video games mengasuh anak mereka.

Meski ada di dalam satu ruangan yang sama, orang tua bisa tidak berespons atau terlibat dalam aktifitas maupun komunikasi yang berarti dengan anak. Ikatan emosionalnya sangat minim. Mereka juga tidak pernah menuntut, menerapkan standar disiplin atau ekspektasi tertentu pada anak.

Biasanya, pola asuh seperti ini muncul pada orang tua yang bermasalah, seperti mengalami stres berlebihan, terbelit masalah keuangan atau kecanduan terhadap hal-hal tertentu (di antaranya narkoba, judi, pornografi). Sebagian lagi, memang lebih memikirkan hidup mereka sendiri ketimbang anak-anaknya.

Lambat laun, anak pun menyadari bahwa ada bagian lain dari kehidupan orang tuanya yang lebih penting dari dirinya. Sejak kecil, ia kerap harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Inilah mengapa anak-anak ini tampak lebih tua dari rekan seusianya.

Para pakar mendapati bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh cuek/abai adalah yang paling bermasalah. Mereka akan sulit mematuhi aturan, karena di rumahnya hampir tidak ada aturan. Wujudnya bisa berupa prestasi akademis yang buruk di sekolah atau kerap mengalami masalah perilaku karena tidak bisa mengontrol emosi. Keterampilan komunikasi juga tidak sepenuhnya berkembang sehingga sulit menjalin hubungan/kedekatan dengan orang lain dan cepat frustrasi.

3 dari 4 halaman

Selanjutnya

4. Pola asuh otoritatif/demokratis (authoritative)

Pola asuh otoritatif dianggap sebagai cara mengasuh anak yang terbaik. Orang tua yang seperti ini menganggap penting alasan di balik sikap atau perilaku anak sehingga mereka bersikap demokratis. Mereka mau mendengar pendapat dan memahami perasaan anak. Pada saat yang sama, ada pula batasan dan aturan tetapi dalam batas wajar. Disiplin diterapkan secara konsisten dengan cara yang suportif dan bukan bersifat menghukum.

Sama seperti orang tua yang otoriter, orang tua yang demokratis juga memiliki ekspektasi tinggi pada anak-anaknya. Akan tetapi, mereka menyediakan sumber daya agar anak bisa mencapainya. Mereka pun berusaha menjadi teladan yang baik.

Perbedaan lain, orang tua yang demokratis cenderung banyak berkomunikasi dan menjelaskan alasan-alasan mengapa anak boleh atau tidak boleh melakukan sesuatu. Tidak sekadar “pokoknya”. Mereka pun mendorong kemandirian dengan memberi anak pilihan dan kesempatan untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan usianya. Anak juga akan mendapat pujian dan penghargaan jika menunjukkan sikap dan perilaku yang baik atau berhasil melakukan sesuatu.

Anak-anak hasil pola asuh otoritatif umumnya bahagia, terampil, dan sukses. Mereka mudah menyesuaikan diri di lingkungan baru, tidak takut dalam menghadapi tantangan, mampu mengambil keputusan yang baik secara mandiri, serta dapat menjalin komunikasi dan kerja sama dengan orang lain. Inilah kualitas-kualitas karakter yang perlu dibentuk untuk menjadi seorang pekerja, pemimpin, atau pasangan hidup yang ideal.

Pola asuh orang tua memang tidak serta-merta menentukan bagaimana karakter seorang anak saat dewasa. Namun, tak bisa dimungkiri, itu merupakan faktor yang penting. Secara alami, anak akan mengamati dan meniru gaya serta perilaku orang tua. Karena itu, apa yang Anda tanamkan dan bagaimana cara Anda mengasuh akan sangat memengaruhi setiap aspek kehidupannya, mulai dari karakter, pencapaian akademis, kesuksesan karier, dan hubungannya dengan orang lain. Jika Anda ingin anak berkarakter baik, jadilah apa yang ingin Anda lihat. Jadilah contoh.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar