Sukses

Mengenal Tanda dan Gejala TBC Otak

Tak hanya paru, TBC juga dapat menyerang otak. Ini tanda dan gejala TBC otak yang patut Anda waspadai.

Klikdokter.com, Jakarta Indonesia merupakan salah satu penduduk dengan penderita tuberkulosis atau TBC terbanyak di dunia. Penyakit yang biasanya dikenal menyerang paru ini, ternyata juga bisa mengenai organ tubuh lain, salah satunya otak. Ya, TBC otak.

Penyakit TBC yang mengenai otak disebut dengan meningitis. Kondisi ini terjadi akibat infeksi Mycobacterium tuberculosis. Meski kejadiannya tak sesering TBC paru, penanganan TBC otak membutuhkan waktu yang lebih panjang. Dan, bila penyakit ini terlambat ditangani, penderita akan mengalami kecacatan.

Terdapat beberapa faktor risiko yang membuat seseorang berisiko tinggi terkena TBC otak, di antaranya:

  • Anak balita
  • Penderita HIV
  • Orang yang mengalami gangguan gizi (malnutrisi)
  • Pengidap penyakit yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun

Tanda dan Gejala TBC Otak

TBC otak umumnya ditandai dengan adanya riwayat tuberkulosis di paru, yang pada umumnya memberikan gejala seperti batuk berdahak berkepanjangan, banyak keringat di malam hari, dan berat badan yang menurun. Tak hanya itu, penderita TBC otak juga biasanya akan merasakan keluhan lain berupa rasa letih, lemas, nyeri-nyeri otot, dan demam naik turun.

Penderita TBC otak kerap mengeluhkan sakit kepala dan kekakuan leher. Bahkan terkadang, tingkat kesadaran penderita juga dapat ikut mengalami gangguan. Di samping itu, penderita juga akan mengalami gangguan syaraf yang memberikan komplikasi berupa:

  • Kejang
  • Bicara meracau
  • Disorientasi
  • Gangguan penglihatan
  • Tangan dan/ atau kaki sulit digerakkan
  • Mulut mencong
  • Tremor

Diagnosis TBC Otak

Bila seorang dokter mencurigai seseorang mengalami infeksi TBC otak, maka pemeriksaan lumbal pungsi dan CT scan umumnya akan dilakukan.

Lumbal pungsi merupakan pemeriksaan untuk mengambil sampel cairan otak, dengan cara menusukkan jarum pada tulang belakang. Pada penderita infeksi TBC otak, cairan otak akan terlihat berwarna kuning dengan kadar glukosa rendah, kadar protein tinggi, dan banyak sel limfosit di dalamnya.

 

Pengobatan TBC Otak

Sama halnya dengan TBC paru, pengobatan infeksi TBC otak menggunakan obat anti-tuberkulosis (OAT). Obat-obatan golongan ini terdiri dari rifampisin, isoniazid, pirazinamid, dan etambutol.

Hal yang menjadi pembeda antara pengobatan TBC paru dan TBC otak adalah lama waktu pasien untuk mengonsumsi obat-obatan yang diberikan. Pada kasus TBC paru, pasien wajib mengonsumsi obat-obatan selama 6 bulan. Sedangkan pada TBC otak, pasien perlu mengonsumsi obat selama 9–12 bulan. Selama dua bulan pertama, penderita TBC otak perlu mengonsumsi 4 obat tersebut. Lalu, 7–10 bulan sisanya pasien hanya perlu mengonsumsi obat rifampisin dan isoniazid. Semua obat tersebut harus diminum secara rutin setiap hari.

Selain mengonsumsi obat anti-tuberkulosis, penderita TBC otak yang mengalami gangguan syaraf berat juga perlu melakukan tindakan operasi. Dan terkadang, dokter juga akan memberikan obat anti-radang berupa kortikosteroid pada pasien TBC otak yang mengalami gangguan saraf berat.

Mencegah TBC otak

Untuk mencegah infeksi TBC di otak, salah satu cara yang efektif adalah dengan melakukan imunisasi BCG. Imunisasi tersebut diberikan saat anak berusia dua bulan. Studi membuktikan bahwa imunisasi BCG mampu menurunkan risiko kejadian meningitis sebesar 66%.

Selain dengan imunisasi, pemilihan makanan yang baik juga dapat mencegah seseorang mengalami infeksi TBC di otak. Makanan yang tinggi protein, tinggi kalori, serta kaya akan serat akan mengoptimalkan daya tahan tubuh, sehingga seseorang tak mudah tertular tuberkulosis paru maupun otak

Mengetahui bahwa TBC otak dapat menimbulkan segudang komplikasi yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, Anda dianjurkan untuk segera berobat ke dokter jika mengalami gejala yang merujuk pada penyakit ini. Semakin cepat dideteksi dan diatasi, semakin besar pula kemungkinan untuk sembuh.

(NB/ RH)

1 Komentar