Sukses

Memahami Perasaan dan Emosi Orang dengan Sindrom Down

Orang dengan sindrom Down memiliki spektrum emosi yang tidak berbeda dari orang lainnya.

Klikdokter.com, Jakarta Dalam sebuah video YouTube bertajuk “Things People with Down’s Syndrome Are Tired of Hearing” unggahan BBC Three, orang-orang dengan sindrom Down dimintai tanggapan mengenai beberapa miskonsepsi tentang kondisi mereka.

Salah satunya, mitos bahwa orang dengan sindrom Down tidak dapat menjalin hubungan interpersonal. Seorang wanita dengan sindrom Down mengaku sambil tersenyum, “Saya sangat romantis.” Seorang yang lain dengan jahil menyebut berciuman sebagai kegiatan waktu luang favoritnya. Seorang lainnya lagi mengatakan bahwa moto hidupnya adalah “Down’s syndrome, so what?”.

Ya, memangnya, ada apa dengan sindrom Down?

Mereka, dalam video tersebut, membicarakan tentang banyak hal dengan perasaan dan emosi yang sama seperti orang lainnya. Mereka menyukai Justin Bieber, membenci politikus, keberatan dengan kata “penderita/ penyandang” yang disematkan pada sindrom Down, ahli dalam mencukur rambut, berakting, bekerja, dan sebagainya.

“Orang dengan sindrom Down sama seperti orang normal lain,” tegas salah satunya, mencoba mematahkan stigma-stigma yang tak perlu mengenai kondisinya.

Sindrom Down Bukan Penyakit

Sindrom Down bukanlah penyakit, melainkan suatu gangguan genetik yang disebabkan oleh adanya ekstra kromosom. Kondisi ini mengakibatkan keterlambatan perkembangan dan fitur fisik yang khas. Meski tidak dapat disembuhkan, memahami sindrom ini dengan baik dan melakukan intervensi sejak dini dapat meningkatkan kualitas hidup anak-anak dan orang dewasa dengan sindrom Down. Salah satu cara termudah untuk memahami sindrom Down, tentu dengan membekali diri dengan sebanyak mungkin informasi. Ada banyak miskonsepsi mengenai sindrom ini sehingga membuat kebanyakan orang cenderung berjarak, bahkan takut. Padahal, orang dengan sindrom Down, dalam hal perasaan dan emosi, tidaklah berbeda dengan orang lainnya.

Sebagian besar anak dan orang dewasa dengan sindrom Down dapat memiliki keterampilan sosial yang baik, meskipun ada juga yang merasakan kesulitan, terutama mereka yang mengalami keterlambatan signifikan dalam perkembangan bicara dan bahasa. Berikut ini empat mitos tentang sindrom Down yang masih dipercaya banyak orang, terutama dalam aspek sosial emosional:  

1. Mitos: “Orang dengan sindrom Down selalu ceria dan bahagia.”

Setiap orang memiliki perasaan yang beragam, sama halnya orang dengan sindrom Down. Mereka dapat merasa senang, sedih, cemas, khawatir, takut, dan sebagainya. Tak ada yang berbeda, kan?   Sejumlah studi bahkan menemukan, orang dengan sindrom Down berisiko tinggi terkena depresi. Diketahui juga bahwa beberapa pengobatan depresi, termasuk antidepresan, terapi elektrokonvulsif dan psikoterapi, bisa efektif untuk orang dengan sindrom Down. Namun, kasus depresi pada orang dengan sindrom Down sering tidak tertangani dengan baik.  

2. Mitos: “Orang dengan sindrom Down tidak bisa merasakan sakit.”

Tentu saja orang dengan sindrom Down dapat merasakan sakit. Hanya saja, reaksi terhadap rasa sakit ini tidak selalu jelas atau kentara.

Sebuah studi yang diterbitkan di Frontiers in Behavioral Neuroscience pada 2015 menjelaskan bahwa orang dengan sindrom Down lebih sensitif terhadap rasa sakit, tetapi biasanya kesulitan untuk mengekspresikan rasa sakit serta mengidentifikasi lokasi sakit tersebut. Karena itulah, mereka tetap membutuhkan prosedur medis yang sama seperti orang lainnya, bahkan jika mereka tidak menunjukkan tanda-tanda sakit yang gamblang.

3. Mitos: “Orang dengan sindrom Down tidak dapat menikah dan punya anak.”

Banyak orang dengan sindrom Down yang menjalin hubungan yang sehat dan penuh cinta dengan pasangannya. Mereka pergi ke restoran, nonton film, masak bersama, tak berbeda dengan orang lainnya. Mereka juga dapat dan berhak untuk menikah.

Di Inggris, ada pasangan sesama sindrom Down yang pada 2017 lalu merayakan 22 tahun pernikahan mereka. Mereka adalah Maryanne dan Tommy Pilling. Mereka memiliki page di Facebook dengan pengikut sebanyak 36 ribu. Anda dapat melihat foto-foto mereka melakukan quality time bersama, seperti mengunjungi museum Elvis Presley dan pergi ke akuarium.

“Tommy dan saya tidak pernah bertengkar. Saya sangat mencintai suami saya. Dia adalah sahabat terbaik saya,” kata Maryanne, dilansir Independent.

Pria dengan sindrom Down umumnya tidak dapat memiliki anak; mereka perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui peluangnya. Sedangkan wanita dengan sindrom Down masih bisa mengandung, tetapi mereka lebih mungkin mengalami keguguran dan bayi lahir prematur.

4. Mitos: “Orang dewasa dengan sindrom Down akan selalu bertingkah seperti anak-anak.”

Orang dewasa dengan sindrom Down dapat bersikap seperti orang dewasa pada umumnya. Mereka tahu apa yang mereka butuhkan dan inginkan. Mereka juga mengerti mana hal yang benar dan salah.

Selain itu, dengan bantuan dan dukungan yang memadai, banyak orang dewasa dengan sindrom Down dapat menjalani kehidupan yang aktif dan cukup independen. Walaupun mungkin tidak bisa hidup mandiri sepenuhnya, mereka tetap dapat melebur dengan baik dalam lingkungan dan berkontribusi untuk masyarakat.

Orang dengan sindrom Down mempunyai perasaan dan emosi yang sama seperti orang lainnya. Mereka juga dapat memiliki kehidupan yang sehat, bahagia, dan aktif. Bahkan kini, orang dengan sindrom Down dapat hidup lebih lama hingga usia 60-an ke atas. Jadi, masih percaya bahwa orang dengan sindrom Down tidak pernah sedih atau tidak dapat melakukan apa-apa sepanjang hidupnya?

[RS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar