Sukses

Pola Asuh Permisif, Baik atau Buruk?

Kini banyak orang tua menerapkan pola asuh permisif kepada anaknya. Tepatkah cara ini diterapkan?

Klikdokter.com, Jakarta Setiap orang tua memiliki pola asuh yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan pola otoriter, otoritatif, maupun permisif. Sebagian orang menganggap pola asuh permisif diterapkan dengan cara yang “tidak disiplin” untuk mengajarkan kedisiplinan. Namun, nyatanya tak semua orang setuju akan hal ini.

Sedikitnya aturan yang diberlakukan

Pola asuh permisif memiliki sangat sedikit aturan dan harapan terhadap anak. Sering kali orang tua mencintai dan mengekspresikan kepedulian terhadap anak-anak mereka, tanpa melihat anak-anak tersebut sudah cukup mampu unuk melaksanakan tugas tertentu.

Selain itu, anak yang dididik dengan pola asuh permisif cenderung tidak disiplin karena orang tuanya menghindari konfrontasi. Daripada menetapkan aturan dan harapan, orang tua tersebut memilih untuk membiarkan anak-anak mencari tahu sendiri.

Jika diperhatikan, banyak orang tua yang memiliki gaya pengasuhan ini. Orang tua takut menetapkan batas-batas yang jelas dan khawatir anak mereka tidak bahagia. Sayangnya, hal ini terkadang bisa berubah menjadi gaya pengasuhan yang tidak efektif.

Padahal, menurut Parenting Science, pengasuhan yang baik memang terkadang menuntut Anda untuk membuat anak marah. Karena rasa kesal yang ada, maka pada kesempatan lain anak tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

Untuk mengetahui lebih dalam tentang pola asuh permisif ini, berikut ini adalah ciri-ciri yang bisa Anda ketahui dari pola asuh yang satu ini:

1. Fokus pada keinginan anak

Pola asuh ini lahir karena rasa kasih sayang yang berlebih dari orang tua kepada anak. Orang tua nantinya akan selalu mengabulkan keinginan anak, demi melihat anaknya senang. Meski orang tua berada dalam keterbatasan, biasanya mereka akan berusaha keras mewujudkan keinginan anaknya.

2. Anak adalah raja

Pada pola asuh jenis ini, orang tua akan menganggap anak sebagai raja yang selalu harus dilayani padahal ia mampu melakukannya sendiri. Hal ini dilakukan karena orang tua tidak tega melihat anaknya bersusah payah.

Biasanya, saat anak merasakan emosi sedih, kecewa atau marah, orang tua langsung mengabulkan keinginan anaknya, demi melihat tangisannya berhenti. Bagi pelaku pola asuh permisif, anak harus selalu bahagia, tak boleh sedih sedikit pun.

3. Komunikasi tidak efektif

Orang tua mendengarkan pendapat anak, namun tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan pendapatnya ke anak. Apalagi, pola asuh ini membuat anak jarang berdiskusi dengan orang tua. Sehingga, yang berjalan adalah komunikasi searah, dari anak ke orang tua saja.

4. Tidak adanya peraturan

Anak diberi kebebasan untuk bertindak sesuka hati. Karena orang tua tidak memberikan batasan dan aturan kepada anak. Tak heran, sekali orang tua mencoba memberikan sedikit batasan ke anak, mereka bisa luluh melihat anaknya yang sedih atau bahkan mengamuk karena dibatasi.

Karena tidak tahu bagaimana cara menolak keinginan anak dengan tepat, akhirnya seluruh keinginan anak akan dipenuhi oleh orang tua. Dari sini Anda dapat melihat bahwa kendali anak yang berkuasa, dan hal ini seharusnya tidak terjadi.

Baik atau burukkah pola asuh ini?

Berdasarkan ciri khas pola asuh permisif di atas, sebuah penelitian di Amerika dilakukan oleh Weiss dan Schwartz terhadap remaja di Amerika. Hasilnya menunjukkan bahwa sikap permisif ternyata bukanlah pendekatan terbaik dari orang tua.

Pola asuh ini menyebabkan peningkatan penggunaan alkohol serta tingkat kesalahan di sekolah, dan menurunkan prestasi akademis anak.

Tak hanya itu, penelitian serupa yang dilakukan terhadap remaja Inggris berusia 10-11 tahun membuktikan bahwa terdapat hubungan antara pola asuh permisif dan penggunaan televisi yang berlebihan. Anak-anak dengan orang tua yang permisif memiliki 5 kali risiko menonton televisi lebih dari 4 jam dalam sehari.

Melihat fenomena ini, dr. Sara Elise Wijono MRes dari KlikDokter mengatakan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam gaya pengasuhan seperti ini cenderung menjadi seseorang yang kurang disiplin, memiliki kemampuan sosial yang buruk, mementingkan diri sendiri, dan sering merasa insecure akibat kurangnya bimbingan selama masa pertumbuhannnya.

Menurutnya, untuk mengubah situasi agar tidak menjadi orang tua permisif, salah satu cara yang bisa diterapkan adalah dengan menetapkan batasan dalam keluarga. Jadi, ada baiknya Anda menghindari sikap permisif.

“Terlalu otoriter sesungguhnya tidak baik, jadi seimbangkan gaya pengasuhan Anda. Berlakukan aturan yang tegas, namun tetap penuh kasih. Disiplin, namun tetap memperhitungkan anak sebagai individu yang memiliki pendapat,” tambahnya.

Kini  Anda telah mengetahui seperti apa pola asuh permisif dan bagaimana jika diterapkan untuk mendidik anak. Karena dampaknya tidak terlalu baik bagi pertumbuhan anak, jadi sebaiknya Anda tidak menerapkannya lagi. Mulailah lebih tegas dalam menetapkan peraturan dan batasan kepada anak Anda. Sampaikan aturan tersebut kepada anak Anda dengan cara yang hangat.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar