Sukses

Kiat Antisipasi Fenomena Hari Tanpa Bayangan

Fenomena hari tanpa bayangan juga dapat dirasakan di Indonesia. Bagaimana mengantisipasi bahaya kesehatan yang mengintai?

Klikdokter.com, Jakarta Hari tanpa bayangan adalah fenomena ketika matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Karena Indonesia berada pada garis yang sama, maka dipastikan sejumlah masyarakat di beberapa wilayah dapat merasakan fenomena ini.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), memastikan bahwa fenomena hari tanpa bayangan akan berlangsung di Indonesia dengan puncaknya yang berlangsung pada siang hari. Oleh karenanya, berada di luar rumah atau ruangan lainnya pada hari ini akan terasa lebih panas dibandingkan hari-hari biasa, mengingat jarak matahari yang lebih dekat dari biasanya.

“Saat tengah hari, apabila seseorang berada di wilayah khatulistiwa, maka matahari akan berada hampir tepat di atas kepala. Hal ini mengakibatkan tidak adanya bayangan. Istilahnya yaitu hari nirbayangan atau hari tanpa bayangan,” ujar Kepala Bagian Hubungan Masyarakat LAPAN, Jasyanto, melalui rilis yang diterima KlikDokter, Rabu (21/3).

Lebih lanjut, pihak LAPAN menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi karena bumi beredar mengitari matahari pada jarak 150 juta kilometer dengan periode sekitar 365 hari. Garis edar bumi berbentuk agak lonjong, sehingga bumi kadang bergerak lebih cepat dan kadang lebih lambat. Bidang edar bumi disebut sebagai bidang ekliptika.

Bidang ini miring sebesar 23,4 derajat terhadap bidang ekuator bumi. Karenanya, matahari tampak berada di atas belahan bumi utara selama sekitar setengah tahun dan berada di atas belahan bumi selatan setengah tahun sisanya. Perubahan posisi tampak matahari menyebabkan perubahan musim di bumi, misalnya empat musim di daerah subtropis dan juga musim kering-basah di wilayah Indonesia.

Pontianak adalah wilayah yang tepat berada di garis khatulistiwa dan dipastikan bakal mengalami fenomena hari tanpa bayangan, meski daerah lain juga berpotensi mengalaminya. Matahari akan mencapai titik puncak atau kulminasi pada pukul 11.50 WIB. Setelahnya, matahari akan turun perlahan hingga terbenam di titik barat sekitar enam jam kemudian. Lantas, apa bahaya yang mengintai serta antisipasi menghadapi hari tanpa bayangan ini?

1 dari 2 halaman

Waspada hari tanpa bayangan, ini antisipasinya

Dengan kondisi fenomena hari tanpa bayangan, matahari akan berada dekat dengan tubuh kita sehingga panasnya terasa lebih menyengat. Ada banyak cara untuk meminimalkan dampak dari hari tanpa bayangan, semisal menggunakan pelindung tertentu.

“Kalau mau beraktivitas di luar, harus pakai pelindung fisik. Pokoknya, harus ditutupi apa pun biar mataharinya tidak langsung mengenai kita. Payung, ada kain atas dan kain bawah, itu lebih baik," ujar dokter spesialis kulit dan kelamin dari Rumah Sakit Indriyati Solo, dr. Ivony Moesa, dilansir dari Liputan6.

Karena paparan sinar ultraviolet lebih dapat dirasakan, atasi dengan dengan pemakaian tabir surya.

 “Anda yang memiliki segudang aktivitas di bawah sinar matahari dianjurkan untuk menggunakan sunscreen atau sunblock setiap hari. Hal ini bertujuan agar kulit memiliki perlindungan lebih terhadap dampak buruk sinar ultraviolet,” ujar dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter.

Sesuai dengan penjelasan dr. Dyah, sunscreen adalah pelindung berbentuk losion yang dapat meresap ke lapisan kulit dengan cepat dan berfungsi menyaring sinar ultraviolet. Sementara itu, sunblock merupakan pembangun lapisan pelindung di atas permukaan kulit yang berfungsi sebagai dinding penghalang sinar ultraviolet.

Selain itu, meminum air putih serta cairan lainnya turut memberi andil bagi tubuh Anda. Pasalnya, Anda yang kepanasan oleh sinar matahari memiliko risiko dehidrasi lebih tinggi.

Fenomena hari tanpa bayangan bakal kembali dialami oleh Indonesia pada tanggal 23 September mendatang. Lakukan cara-cara di atas, agar ancaman dari paparan sinar matahari yang lebih dekat dapat diminimalkan!

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar