Sukses

Kerja Otak Remaja Sulit Dimengerti, Ini Alasannya

Remaja cenderung memiliki emosi yang labil dan mood yang berubah-ubah. Kira-kira, mengapa cara kerja otak remaja sulit dimengerti, ya?

Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak ke dewasa. Di masa ini, mereka cenderung memiliki emosi yang labil dan mood yang berubah-ubah, sehingga banyak orang tua yang sulit mengerti cara kerja otak remaja.

Tidak dimungkiri, seorang remaja memang cenderung memiliki pola pikir yang kompleks terhadap suatu hal yang sebenarnya simpel. Karenanya, jika mereka benar-benar tenggelam dalam hal ini, depresi tak bisa lagi dihindari.

1 dari 3 halaman

Penelitian tentang Otak Remaja

Ketika memasuki masa remaja tentunya ada banyak perubahan yang terjadi, mulai dari perubahan bentuk tubuh, perilaku, maupun cara berpikir. Hal ini membuat remaja sulit dimengerti dan muncullah berbagai penelitian tentang itu semua. Berikut penelitian-penelitian yang telah dilakukan tentang otak remaja:

  1. Berani Mengambil Risiko

Menurut suatu penelitian dari Yale School of Medicine, remaja lebih cenderung mengambil risiko dan bertindak berani dibandingkan orang dewasa. Hal ini dikaitkan karena sebenarnya mereka belum terlalu memikirkan konsekuensi yang bisa timbul. 

Artikel Lainnya: Hoaks Picu Depresi pada Anak dan Remaja

Para peneliti berpendapat bahwa korteks prefrontal pada remaja masih dalam tahap perkembangan, di mana bagian otak tersebut berhubungan dengan kontrol diri dan pengambilan keputusan. 

  1. Sangat Emosional

Bagi Anda yang memiliki anak remaja, pasti sudah paham bahwa mereka bisa sangat emosional dan moody. Ini adalah hal yang normal dari perilaku remaja.

Menurut Marwa Azab, Ph.D., seorang ahli neuroscience, sistem limbik di otak remaja masih belum berkembang dan masih terputus dari area otak lain. Sistem limbik sendiri adalah area otak yang penting untuk mengatur emosi dan motivasi. 

  1. Sering Tidur Larut Malam

Banyak remaja sangat susah untuk dibangunkan pada pagi hari sehingga mereka sering terlambat ke sekolah. Satu hal yang perlu dipahami, remaja memiliki jam biologis yang sangat berbeda dari anak-anak dan orang dewasa. Mereka cenderung baru tidur di atas jam 11 malam. 

Bahkan penelitian dari National Sleep Foundation mengatakan, hanya 15 persen dari remaja yang cukup tidur selama 8 jam saat hari sekolah. Peneliti berpendapat karena hormon melatonin (hormon tidur) pada remaja baru meningkat saat larut malam.

Artikel Lainnya: Ingin Menikah Lagi? Begini Cara Berdiskusi dengan Anak Remaja Anda

2 dari 3 halaman

Memahami Cara Kerja Otak Remaja

Berdasarkan penelitian, ternyata cara kerja otak belum sepenuhnya “matang” dan masih dalam proses perkembangan otak remaja hingga menginjak usia 20-an. 

Teknologi pencitraan mutakhir mengungkapkan bahwa otak remaja memiliki banyak plastisitas, yang berarti dapat berubah, beradaptasi, dan merespons lingkungannya sesuai keadaan. 

Oleh karena itu, lewat peningkatan konektivitas antar wilayah otak, perilaku seorang remaja dapat menyesuaikan dengan kondisi yang sedang dialaminya.

Pertumbuhan konektivitas, seperti pada penjelasan di atas, menghadirkan materi putih di otak yang berasal dari lemak (mielin). Ketika otak berkembang, mielin membungkus diri di sekitar sel saraf. Proses mielinasi ini memperkuat dan mempercepat komunikasi antar wilayah otak serta mendasari kemampuan belajar seseorang.

Proses mielinasi dimulai dari bagian belakang otak dan berjalan ke depan. Karena itu, pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengendalian diri pada remaja adalah bagian terakhir yang bekerja secara matang.

Ini artinya, cara kerja otak remaja tidak menyeluruh sampai ke bagian belakang, sehingga tak cukup cepat untuk mengatur emosi. Ujung-ujungnya, perilaku mengambil risiko dan impulsif lebih umum di kalangan remaja dan dewasa muda.

Artikel Lainnya: Nutrisi yang Tepat untuk Anak Usia Remaja

Pemahaman secara biologis yang mendasari perilaku ini, dapat membantu sejumlah pihak, baik orang tua, guru, hingga remaja yang bersangkutan. 

Seorang ahli mengungkapkan, terkadang para orang tua sering ingin melindungi anak-anaknya dari kegagalan atau rasa sakit emosional secara berlebihan. Padahal, hal tersebut berlangsung secara natural dan dapat dibiarkan terjadi, asal tetap dalam pantauan.

Dengan memahami kondisi dan cara kerja otak remaja, Anda akan lebih mampu mengerti dan membesarkan anak yang sedang tumbuh dengan cara yang semestinya. Biarkan mereka belajar memahami dunia serta dirinya sendiri, asal jangan sampai lupa untuk memberikan kasih sayang dan dukungan kepadanya setiap waktu.

Jika Anda masih memiliki pertanyaan seputar topik ini, dapat berkonsultasi dengan dokter kami melalui fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter. Gratis!

[FY/ RS]

0 Komentar

Belum ada komentar