Sukses

Pelukan Jadi Obat bagi Penderita Gangguan Bipolar

Penderita gangguan bipolar membutuhkan dukungan dari sekitarnya, termasuk dalam bentuk pelukan dan kasih sayang.

Klikdokter.com, Jakarta Gangguan bipolar merupakan gangguan jiwa yang ditandai dengan perubahan suasana hati secara ekstrem, berupa perasaan senang dan sedih yang berlebihan. Untuk mengatasinya, ternyata seorang penderita bipolar membutuhkan dukungan dalam bentuk kasih sayang dan perhatian dari orang di sekelilingnya, termasuk dalam bentuk sebuah pelukan.

Data yang diperoleh dari WHO pada 2017 menyebutkan bahwa usia 20 tahun merupakan usia paling rentan seseorang terkena depresi dan melakukan percobaan bunuh diri. Kasus bunuh diri pelajar usia SLTP dan SLTA di Jakarta mencapai angka 4,3 persen untuk laki-laki dan 5,9 persen untuk perempuan. Salah satu penyebabnya adalah adanya gangguan bipolar yang tidak mendapatkan dukungan.

Sementara itu, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) melakukan riset di Jakarta dan menemukan bahwa terdapat 763.000 orang dengan gangguan jiwa di Jakarta yang mengalami cemas serta depresi. Angka ini mendapatkan posisi kedua tingkat nasional.

“Sekitar 124.000 bahkan mengalami gangguan psikotik, yang menjadi peringkat pertama nasional,” jelas dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, Ketua PDSKJI.

Psikotik sendiri adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan individu dalam menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi, waham atau perilaku kacau dan aneh.

Acara bertema “Hug, Help, Solve The Puzzle”  digelar di Hotel Puri Denpasar pada Selasa (20/3) lalu. Untuk memperingati Hari Bipolar Sedunia yang jatuh di tanggal 30 Maret 2018 nanti, PDSKJI di acara tersebut sekaligus memperkenalkan boneka Hagi sebagai maskot yang hangat dan ramah untuk membantu meredakan depresi karena bipolar.

Nama Hagi dipilih dari asal kata hug atau peluk, yang kemudian menjadi Hagi. Boneka ini pun didesain oleh seorang seniman penderita bipolar bernama Hana Madness. Menurut dr. Tiur Sihombing dari PDSKJI, pelukan adalah salah satu hal sederhana yang paling dibutuhkan oleh penderita gangguan bipolar.

“Hagi ini terinspirasi dari kampanye kesehatan yang dilakukan di Korea Selatan saat saya tengah melakukan fellowship di sana. Sekolah didatangi dengan menggunakan boneka untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dan cara ini menurut saya cukup efektif,” ucapnya.

Nyatanya, memeluk, menolong dan mencoba membantu menyelesaikan masalah dapat dilakukan oleh orang-orang di sekitar penderita bipolar. Cara ini dapat mempercepat deteksi dini, mempercepat deteksi kekambuhan, serta mendorong kepatuhan berobat.

Dukungan tersebut juga bertujuan untuk menghindari penderita melakukan penyalahgunaan zat, bunuh diri, disfungsi keluarga, hingga hilangnya kontak sosial.

Mengenai boneka Hagi, dr. Nova juga berpendapat bahwa dukungan keluarga dan lingkungan sangat berarti bagi orang dengan gangguan bipolar, terutama saat mengalami depresi. “Kesendirian yang dirasakan cenderung menimbulkan efek negatif, bahkan dapat menimbulkan perasaan ingin bunuh diri,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, dr. Hervita Diatri, SpKJ (K), dari Pokdi Bipolar DKI Jakarta mengatakan bipolar dialami oleh sekitar 34-36 persen populasi manusia selama hidup. Artinya, 1 dari 3 orang di dunia sedikitnya pernah mengalami gangguan bipolar. Angka ini jauh lebih besar dibanding penyakit hipertensi yang berada di tingkat 30 persen.

Oleh sebab itu, langkah PDSKJI meluncurkan boneka Hagi sebagai program edukasi kepada masyarakat ini merupakan langkah kecil yang dapat berdampak besar bagi para penderita bipolar.

Dukungan keluarga, kerabat dan teman merupakan faktor penting dalam upaya pemulihan orang dengan gangguan bipolar. Memberikan perhatian, pelukan, rasa percaya hingga harapan positif merupakan bentuk dukungan yang dapat diberikan. Yuk, berikan kasih sayang kepada orang dengan gangguan bipolar di sekitar Anda.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar