Sukses

Kiat agar Tetap Sehat Saat Renovasi Rumah

Punya rencana renovasi rumah, tapi takut prosesnya akan mengganggu kesehatan Anda dan keluarga? Ini solusinya.

Klikdokter.com, Jakarta Bertahun-tahun menempati rumah, pasti ada saatnya Anda harus melakukan renovasi. Bisa jadi karena Anda menginginkan suasana baru, atau kondisi bangunan atau material rumah yang semakin aus, atau adanya kebutuhan ruang tambahan yang mendesak. Apa pun alasannya, Anda pasti juga mempertimbangkan apakah proses renovasinya akan aman dan tidak mengganggu kesehatan Anda dan keluarga.

Renovasi bertujuan agar penghuni rumah merasa lebih nyaman menempati huniannya. Meski tergantung pada kebutuhan atau selera pemilik rumah, renovasi tidak boleh dilakukan sembarangan tanpa perencanaan yang matang. Tak hanya desain interior atau eksterior, estimasi biaya, pemilihan material atau mebel, jalannya renovasi juga harus diperhatikan karena proses ini memiliki risiko kesehatan tersendiri. Simak kiat-kiat berikut ini agar Anda dan keluarga tetap sehat saat sedang merenovasi rumah.

1. Pilih material yang ramah lingkungan

Dari sekian banyak material bangunan, Anda harus menentukan pilihan yang tepat. Mengapa? Karena faktanya, jika bahan yang dipilih tidak sesuai dengan standar, maka nantinya akan memberikan dampak negatif untuk kesehatan.

Salah satu yang menjadi perdebatan sampai saat ini adalah penggunaan genteng asbes. Meski populer di kalangan pemilik rumah Indonesia, tapi sejumlah penelitian membeberkan bahwa debu yang berasal dari material tersebut dapat memicu sejumlah penyakit, yang salah satunya adalah kanker.

Dilansir dari Liputan6.com, terdapat jumlah yang cukup signifikan penderita kanker mesothelioma di Australia akibat paparan debu asbes. Hal itu terjadi karena dua dari tiga rumah di  sana (sebagian besar dibangun sebelum tahun 1984), menggunakan atap berbahan asbes.

Sebagai solusi, Anda dapat menggunakan atap berbahan tanah liat yang lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan. Perhatikan pula penggunaan material bangunan lainnya seperti ubin, pipa, cat tembok, dan sejenisnya yang memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing.

2. Gunakan perlengkapan pelindung

Selama kondisi sebagian atau seluruh rumah Anda tengah dalam tahap renovasi, maka gunakan perlengkapan yang memadai sebagai pelindung. Hal ini dilakukan demi mencegah risiko terkait keamanan dan kesehatan.

Gunakan masker penutup yang mampu menutup hidung serta mulut. Alat ini nantinya akan melindungi  Anda dari berbagai macam paparan zat kimia dalam cat, semen, lem, hingga debu-debu yang beterbangan. Helm, sepatu bot, hingga sarung tangan juga perlu digunakan jika Anda merenovasi rumah secara total.

3. Perhatikan kondisi anggota keluarga

Apa pun bentuk renovasi yang Anda pilih, dampaknya hanya akan dirasakan oleh keluarga serta diri sendiri. Maka dari itu, pertimbangkan kondisi serta latar belakang kesehatan masing-masing anggota keluarga sebelum melakukan perombakan rumah.

Pertama, perhatikan bila ada salah satu dari anggota keluarga Anda yang alergi terhadap debu. Jauhkan jarak anggota keluarga terkait dari pusat renovasi pada ruangan-ruangan tertentu.

Sementara itu, salah satu dari sekian banyak hal kenapa Anda harus menunda renovasi rumah adalah ketika memiliki bayi. Selain kualitas udara sekitar yang menurun, polusi suara seperti bunyi dentuman palu ke dinding juga dapat membuat buah hati Anda stres serta rewel. Hal ini berakibat pada terganggunya kualitas tidur si Kecil.

Jika memang Anda memilki bayi di rumah atau ada anak yang memiliki alergi tertentu yang proses renovasi dapat memicu alergi, lebih baik mengungsikannya. Sewalah kamar atau rumah di dekat rumah Anda yang sedang direnovasi, untuk memudahkan pengawasan kerja tukang. Jika renovasi yang dilakukan bersifat minor, titipkan bayi dan pengasuh di rumah kerabat.

Silakan renovasi rumah Anda sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Namun, pastikan jangan sampai proses tersebut mengganggu kesehatan Anda dan segenap anggota keluarga, ya!

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar